
Selangkah demi selangkah menjadi cara yang akhirnya dipilih Sandro untuk meraih hati Dria. Lebih gampang rasanya memulai hubungan baru dengan wanita yang lain, siapa yang tidak menginginkan dirinya? Tapi mau bagaimana? Hati ini sudah tidak menerima atau melihat cinta yang lain, hati ini sudah memberikan seluruh cinta hanya untuk Dria.
Begitulah, memulai dari term kakak-adik ternyata sangat sulit, garis yang ditarik Dria di antara mereka sangat jelas. Sungguh ironi mengingat saat pertama bertemu dia begitu menolak kehadiran Dria dan sekarang entah kapan hati Dria akan tergugah dengan kehadiran cintanya.
Sandro menerapkan nasihat sekretarisnya untuk jangan terlalu menunjukkan perasaannya, dia harus berperang dengan jarinya sendiri yang hampir selalu ingin melakukan panggilan atau mengirimkan sebuah chat.
Sandro melihat catatan panggilan dan kiriman chatnya, tertera di sana tanggal tiga hari yang lalu, maka…
.
“Deedee, ada di mana?”
“Ya??
“Ada di mana? Sedang apa?”
“Haha… kak Sandro lagi menghafalkan lirik lagu ya… haha”
“Deeee…”
Si kakak masuk ke dalam mode gemas tak berujung.
“Iya… iya… Dee ada di lokasi tempat Dee mau buka usaha, ayah sudah mendapatkan lahan yang luas…”
“Rencana Dee apa saja di lahan itu?”
Sandro menemukan topik yang tak akan ditolak Dria dan itu bisa memperpanjang durasi menuntaskan rindunya.
“Ahh itu, Dee minta masukan kak Sandro…”
Sandro tersenyum, sebuah kesempatan untuk mendapatkan lebih bukan hanya suara tapi juga memandang wajah Dria.
“Kakak video call ya, biar lebih enak mengobrolnya…”
“Baiklah…”
Mode panggilan berganti, dan saat melihat wajah Dria hati ini seperti menemukan lagi pelabuhan tenang dan teduh untuk bersandar setelah sebelumnya melewati gelora badai di laut sepanjang malam yang gelap.
Tapi belum puas melihat wajah Dria kamera telah berganti.
“Coba kak Sandro lihat… ini menurut ayah luasnya hampir satu hektar… ini terlalu luas menurutku…”
“Akses jalan bagaimana?”
“Ini tepat di jalan raya ke arah luar kota, Dee pikir lokasi ini bagus kak… jalan raya ini ke arah tempat wisata, ayah beruntung sekali mendapatkan lokasi ini…”
“Berapa jauh dari rumah?”
“Nah itu yang jadi kendala satu-satunya, lokasinya jauh dari rumah… Tety, berapa lama kita ke sini?”
Dria menghadapkan kameranya tepat di wajah Tety, Sandro meringis, bukan wajah itu yang ingin sekali dilihatnya, untung saja Tety langsung menghindar, kegemasan terus merajai hati Sandro.
“Hampir dua jam Non…”
Sekarang mode kamera sudah berganti, dan Sandro membuang napas lega bercampur senang, wajah ini yang menghiasi lamunannya setiap hari.
“Pantas kakiku pegal menginjak kopling… ini memang dari ujung timur ke ujung barat kota…”
“Kamu menyetir sendiri sejauh itu?”
Kekhawatiran segera datang, Sandro mengingat betapa buruknya cara Dria menyetir, body mobilnya yang sempat membuatnya naik pitam tempo hari merupakan bukti akurat.
“Siapa lagi? Dee tidak bisa minta bantuan karyawan ayah, mereka diburu tenggat waktu menyelesaikan proyek ayah sebelum pindah ke tempat lain…”
“Kakak ganti mobil Dee dengan yang transmisinya automatic ya…”
“Ahh, itu tidak perlu kakkkk…”
“Kakak belum memberi hadiah ulang tahun…”
“Wahh, orang kaya gampang sekali memberi hadiah yang mahal… Dee belum mau mengganti mobil…”
“Deedee… bukan masalah orang kaya atau bukan, kamu itu adikku, kakak belum pernah memberi sesuatu untukmu… kakak janji bukan mobil yang mahal, hanya city car biasa tapi transmisinya sudah automatic, ya??”
“Lalu mobil Dee yang sekarang?”
“Jual, ganti mobil pickup, pasti setelah usaha berjalan butuh tambahan mobil seperti itu…”
“Baiklah, tapi janji mobil biasa saja… jangan seperti mobil milik kak Sandro ya… Dee tidak akan menggunakannya…”
Satu jari tangan yang teracung bergoyang-goyang masuk ke layar itu membuat hati Tuan Muda berdenyut lagi, gaya Dria yang seperti ini yang paling dia rindukan.
“Iya… iya… tapi Tety harus belajar menyetir, Dee…”
“Ahh iya… Tety akan Dee ajari nanti…”
“Ahh tidak boleh, nanti Timo daftarkan kursus mengemudi dari sini…”
Sergah Sandro, apa yang akan terjadi dengan mereka berdua? Itu sama sekali tidak aman, dan bagaimana dengan mobil itu jika seseorang yang ceroboh berkendara mengajari orang lain.
“Atau Timo kakak suruh carikan sopir untukmu…”
“Haha… kak Sandro terlalu khawatir, tidak setiap hari Dee ke sini juga, ini hanya melihat saja, menurut ayah proses jual-belinya belum selesai, ayah baru memberi uang muka, jadi lahan ini belum bisa digunakan…”
Sandro segera memikirkan sesuatu, dengan cepat Sandro menuliskan sesuatu di sebuah kertas lalu memberikan pada Timo. Timo lalu menghubungi pak Rahmadi.
“Kakak nanti ke sana saja, melihat lahannya, biar bisa memberikan kamu saran yang sesuai… jika tanah itu luas dan strategis, prospeknya bisa baik…”
“Iya, sudah ya, tangan Dee pegal memegang hp seperti ini… Bye kak Sandro.”
.
.
🐣
.
Di situasi yang lain…
Dria menelpon… Sandro hampir melompat girang dari tempat duduknya, dia sedang mempelajari sesuatu di meja kerja di kamarnya, terlebih Dria menelpon dengan panggilan video, dalam dering ketiga segera diangkat dengan wajah penuh sejuta bahagia.
.
“Dee… apa kabar?”
“Aku baik kak Sandro…”
“Mau menanyakan apa? Sudah sampai sejauh mana progress persiapan usahamu?”
“Ahh, jangan bicara hal itu dulu, Dee lelah seharian ini…”
“Istirahat Dee… jangan semuanya ingin buru-buru diselesaikan, step by step…”
“Iya… iya, untung ada kak Sandro yang sering memberi masukan… sudah ya kak, Dee tutup, mau tidur sudah mengantuk…
“Ehhh… tunggu dulu… tidak ada yang mau ditanyakan? Kenapa cepat sekali?”
Sandro tidak ingin pembicaraan ini segera diakhiri.
“Dee hanya merindukan kak Sandro, Dee sudah lihat wajah kak Sandro, ternyata kakakku masih tetap tampan… sudah ya, bye…”
.
Dengan tertawa kali ini Sandro benar-benar melompat dengan mengangkat dua tangannya, untuk saja dia berada di kamarnya sendiri. Meskipun itu masih dikatakan sebatas rindu seorang adik, tapi itu membuat denyut di dadanya berpacu dalam irama yang indah, betapa senangnya dirindukan seorang Dria.
.
🐢
.
Sandro membiarkan perubahan kehidupannya menjadi demikian drastis mengikuti tuntutan perasaannya. Seperti sekarang ini, biasanya untuk urusan bisnis seperti meeting dan undangan menghadiri acara anak perusahaan di luar kota sejak lama hanya dilakukan oleh salah satu direkturnya.
“Tuan, ada acara anniversary anak perusahaan, apa Tuan mau menghadirinya? Tuan Besar sudah mengkonfirmasi akan datang, bahkan beliau akan tinggal di sana selama tiga hari…”
“Kamu masih menanyakan hal seperti itu? Kamu lupa apa yang tidak aku sukai?”
“Tidak Tuan… siapa tahu Anda ingin hadir kali ini… acaranya mulai besok hari, sepertinya Tuan Besar akan berangkat malam ini.”
“Tidak Timo!”
Suara si Tuan Muda terdengar seperti bentakkan, tapi Timo hanya tersenyum kecil.
“Baiklah Tuan… saya pikir Anda ingin berjumpa Non Dria…”
“Timo?? Di mana acara itu?”
“Di kota S Tuan…”
“Kenapa kamu tidak memberitahu sejak tadi?”
“Tuan… saya tidak perlu memberitahu Anda jika itu di kota lain…”
Sebuah kalimat yang membuat Sandro mengatupkan bibirnya sambil menatap tajam ke arah Timo, seolah Timo baru menelanjangi tentang kebodohannya dengan begitu jelas.
“Kita ke sana, empat hari…”
Sandro berkata dengan suara yang diatur supaya wibawanya tidak terlalu jatuh di hadapan Timo. Dan Timo menyimpan senyumnya, rasanya tidak ada yang tidak dia tahu dari Tuannya ini termasuk reaksi canggung si Tuan Muda karena ketahuan bahwa kota S menjadi sesuatu sekarang.
“Baik Tuan Muda, saya akan konfirmasi dengan pak Lucas supaya Anda bisa berangkat bersama Tuan Besar.”
Sandro hanya mendelik jengkel pada Timo.
“Ahh, dan sebaiknya Anda pulang sekarang Tuan, tidak ada lagi pekerjaan penting, saya akan menghubungi pak Mulyo untuk mengantar Anda.”
“Kenapa kamu sekarang berani mengaturku Timo? Kenapa kamu mengusirku dari ruanganku sendiri?”
“Jangan salah paham Tuan, saya pikir Anda perlu persiapan untuk ke kota S…”
“Beritahu Age untuk itu, kenapa kamu mengaturku?”
“Ahh… saya pikir Anda perlu persiapan hati untuk bertemu Non Dria…”
“Timo!! Kamu semakin kurang ajar!”
Timo hanya menunduk hormat lalu segera berlalu dari hadapan Tuan Muda. Sengaja dia mengganggu si Tuan Muda, Timo yakin meskipun tadi Tuan Muda baru saja membentaknya tapi itu hanya suaranya saja terdengar marah tapi hatinya tidak mungkin marah jika nama Non Dria disebutkan.
Benar saja. Sandro segera tersenyum memikirkan kebahagiaan apa yang akan dinikmatinya nanti di kota S. Semakin lama Sandro merasakan bahwa Dria semakin melepaskan jarak yang merintangi mereka berdua, berharap sikap Dria yang sekarang hanyalah sebuah penundaan terhadap sebuah kebahagiaan penuh ketika suatu saat cinta itu sama-sama menyapa hati keduanya.
.
🐤
.
Helooo
Yang msh menyukai alurnya angkat tangan 🙋♀️
.