
"Dria pernah melakukan kesalahan di masa remaja, dia tidak murni lagi..."
"Aku tahu prinsipmu. Berarti kamu selesai dengan Dria. Carilah gadis lain."
"Ro??"
"Apa? Prinsipmu menjadi penghalang cintamu, apa yang harus aku katakan?"
Sandro diam, Miro juga membiarkan Sandro menemukan jawaban untuk dilema hatinya. Ini bukan sesuatu yang harus diperdebatkan, hanya Sandro yang dapat memutuskan sendiri.
Beberapa saat berlalu tak ada yang bicara lagi. Merasa cukup membicarakan masalah Sandro akhirnya Miro pamit.
“San… aku ke hotel sekarang… kamu tidak butuh aku lagi kan…”
"Tunggu Ro... katakan lagi sesuatu mengenai hal ini…"
"Hah… apa lagi yang ingin kamu dengar dariku San?”
“Tidak tahu, katakan saja yang ingin kamu katakan, entahlah… rasanya aku belum punya pegangan yang cukup untuk keputusanku…”
“Apa yang harus kukatakan? Kita berbeda, San… aku bukan orang yang terlalu kaku soal wanita yang aku pilih jadi istriku. Aku tidak menuntut hal seperti itu dari Audreey, bahkan aku tidak pernah bertanya soal itu atau membahasnya, kami berdua bukan yang pertama untuk masing-masing. Latar belakang keluargaku tidak mengajarkan nilai itu, kami sedikit longgar soal itu... bahkan adik perempuanku tinggal bersama teman dekatnya, itu tidak jadi soal buat mami. Jadi aku tidak bisa berbicara dari sudut pandangmu tentang situasimu dengan Dria, aku tidak dapat menjudge pantas atau tidak, layak atau tidak... "
Miro melanjutkan setelah menunggu beberapa saat Sandro hanya diam.
"San... seharusnya jika benar kamu mencintai Dria, kamu akan menerima kekurangannya, sesederhana itu saja sebenarnya. Dan aku beritahu, San… zaman sekarang banyak gadis di luar sana semakin berpikir luas dan bebas. Menyerahkan diri mereka menjadi cara mereka mencintai pasangannya, makanya banyak di antara mereka yang tidak diikat lagi oleh pentingnya nilai virginitas. Jika kamu mencari gadis lain pun, belum tentu dia benar-benar virgin, ada yang palsu sekarang.”
“Justru itu, Ro… aku masih mengukur baik atau tidaknya seorang wanita nomor satu adalah itu…”
“Sekarang aku tanya, selama dengan Emma, apa kamu memakai ukuranmu itu? Apa kamu tahu dia masih murni? Kamu adalah kekasih ke sekian dari Emma, apa kamu lupa pernah bertemu dengan beberapa dari mereka? Mungkin di antara mereka ada yang sampai M*L dengan Emma… kamu tidak pernah menanyai Emma kan soal itu hingga kamu bertahan sampai tiga tahun bahkan hampir menikah.”
Sandro menghembuskan napas beratnya.
“Aku tidak pernah berpikir soal itu dengan Emma.”
“Astaga San, jadi Emma pengecualian?”
“Bukan… bukan seperti itu, hanya aku tidak tahu, aku tidak memikirkan itu saat bersama Emma. Mungkin karena sebenarnya aku tidak benar-benar ingin menjadikan dia istri.”
“Kenapa kamu tidak mencoba melihat dari sudut pandang Dria? Mungkin Kesalahan itu terus membayangi Dria hingga kemudian dia menjadikan itu alasan untuk menolakmu. Aku jadi ingin tahu, dengan lingkungan seketat itu di keluargamu, kenapa pergaulan Dria lolos dari pengamatanmu?”
“Sepuluh tahun Dria tinggal bersama ayah kandungnya, Ro… mungkin kesalahan itu tidak akan terjadi jika Dria tinggal bersama kami. Aku menyesali sekarang kenapa aku juga melepaskan Dria begitu saja bersama ayah, tidak pernah menghubungi dia, tidak datang melihat dia...”
“Di kota ini?”
“Iya… Dria tinggal hanya berdua dengan ayah…”
“Ahh aku bisa paham keadaan di masa remaja Dria seperti apa dengan kesalahannya itu… banyak faktor San… tidak adil jika kamu hanya menyalahkan Dria. Aku tidak akan bilang prinsipmu sudah tidak sesuai zaman, sungguh aku menghormati prinsipmu dan bahkan aku salut ada pria yang masih memegang teguh nilai ini. Tapi masalahnya sekarang, wanita yang kamu cintai tidak seperti prinsipmu. Aku hanya bisa mengatakan coba pahami Dria, pahami keadaannya baik yang dahulu terlebih yang sekarang…”
Sandro hanya menyimak, dia banyak berdiam kali ini.
“Yang penting bagimu adalah Dria di masa sekarang kan? Kenapa harus melihat Dria di masa lalu, masa itu kamu tidak ada bersamanya. Di mana letak cintamu untuk Dria? Di masa lalunya yang tidak bisa Dria ubah atau di masa sekarang di mana kamu bisa berbahagia dengannya? Pahami juga cintamu sendiri, cintamu tulus jika cintamu sanggup melihat dan menerima Dria yang kamu tahu tidak murni lagi. Itu namanya cintamu sebulat-bulatnya hanya untuk Dria."
Argemiro tertawa melihat ekspresi Sandro yang sejak tadi seperti seorang murid yang tekun mendengarkan gurunya.
“Hahaha… tampangmu Tuan Muda… sudah ahh… aku jadi seperti konselor cinta untukmu… Minta Timo membayarku untuk sesi konsultasi cintamu… aku ke hotel sekarang.”
Miro berdiri meninggalkan sahabatnya. Tak lama berselang Sandro ikut meninggalkan tempat itu.
Semua persepsi yang terkumpul di otaknya diterjemahkan dengan baik oleh hatinya. Sandro sampai pada kesimpulan bahwa dia memang tidak punya banyak wanita dalam hidupnya tetapi dia merasa bahwa dia tidak perlu mengenal banyak wanita untuk memilih dari antara mereka yang terbaik.
Dia juga tidak pernah dengan sengaja mencari wanita sesuai kriterianya. Emma hadir begitu saja, Sandriana telah berada di jalur hidupnya sejak nafas pertamanya di dunia. Kenapa dia harus tiba-tiba mengedepankan prinsipnya justru setelah dia ditolak Dria?
Sandro akhirnya bisa kembali mengumpulkan tujuannya datang ke kota ini yang sempat hancur karena fakta tentang Dria.
Saat duduk di jok belakang mobil…
“Kita ke Rumah Sakit Timo…”
“Baik Tuan…”
.
🐥
.
Sandro menatap Dria yang tertidur lemah di brankar rumah sakit. Ayah tidak ada dan Tety segera menyingkir. Melihat pemandangan ini Sandro merasakan suatu perasaan yang kuat lagi untuk memperjuangkan cintanya.
Dria baru menolaknya sekali dan mereka berdua merasakan dampak keputusan Dria, dia ingin mengatakan cintanya lagi dan lagi sampai Dria mau menyambut cintanya. Terlebih dia tahu sekarang alasan Dria menolaknya, dan dia sedang berusaha berbesar hati untuk tidak menjadikan itu masalah yang menghalangi cinta mereka berdua. Ajaran mami memang benar, tapi dia merasa lebih benar lagi jika dia tetap menjaga cintanya untuk Dria.
Sandro yang tadi hanya duduk diam menatap Dria sekarang meraih tangan Dria yang bebas dari selang infus, mulai meremas telapak tangan Dria yang mungil itu perlahan, dingin tangan Dria membuat Sandro lebih erat membungkus telapak tangan Dria dengan tangannya.
Sentuhan ini seperti sebuah kontak yang berfungsi menambah daya pada perasaan di hati Sandro, perasaan rindu yang tiba-tiba menguasainya sekarang membuat satu tangannya segera mengusap kepala Dria dengan lembut, mata mulai memandang setiap detil di wajah pucat Dria. Ahh dia sangat rindu ternyata. Hati yang sekarang ingin meluapkan cintanya dengan semua perhatian dan perlakuan sayang. Rasa marah dengan masa lalu Dria perlahan lebur oleh bahagia yang dia rasakan karena ada di dekat Dria.
Dria seperti memasuki ruang mimpi yang begitu indah. Rasa sakit yang merajai hatinya seolah perlahan tergantikan dengan sebuah perasaan yang berbeda, perasaan yang tak terjabarkan tetapi seperti memberi ruang yang baru dalam hatinya, ruang yang membuat dia merasa lega dan leluasa untuk bernapas, membuat hatinya terasa ringan seolah sedang membawa dia menjauh dari semua duka dan luka.
Dria menelusuri dari mana datangnya perasaan menenangkan ini, perlahan dia menyadari bahwa itu karena usapan di kepalanya, dan karena sebuah genggaman yang begitu menghangatkan. Dria perlahan coba membuka matanya.
“Deedee….”
Sandro mendekatkan kepalanya pada Dria. Rasanya dia tidak dapat menahan diri untuk melakukan banyak hal untuk Dria. Semua energi yang lahir dari perasaan cinta membawa hatinya melihat Dria sebagai bagian dari dirinya, seperti dapat merasakan sendiri apa yang menyebabkan Dria terbaring tidak berdaya sekarang ini.
Dria mengerjapkan mata mencoba meyakini bahwa sosok yang sekarang dekat dengannya adalah kakaknya Sandro.
“Kakak…”
Suara sangat lirih dan begitu lemah keluar dari mulut Dria.
“Iya… ini kakak, Dee…”
“Kakak datang?”
Dria segera menangis menyadari dia membuat kakaknya terluka belum lama ini, tapi kakaknya sekarang datang untuknya.
“Iya… kakak di sini sekarang… kakak akan menjaga sampai Deedee sehat… ya? Jangan menangis, Dee…”
Sandro tersenyum lalu mengusap kristal-kristal bening yang terurai dari dua sudut mata Dria.
“Jangan sedih lagi ya… Dee harus cepat sembuh, yaa?”
Dengan lembut Sandro berkata, mata tak melepaskan tautannya dengan mata Dria. Mendapati mata sendu Dria ingin Sandro mengungkapkan lagi cintanya, tapi dia lebih memilih membuat Dria tenang dan nyaman saja dengan kehadirannya. Tangannya kembali mengusap sayang kepala Dria.
Perlahan tangan Dria terulur mencoba menyentuh tangan Sandro di kepalanya, ingin memastikan bahwa sosok yang dalam rasa sakit di hati tetap diam-diam ditunggu kehadirannya benar-benar ada di sini sekarang.
“Kenapa?”
“Ini kakakku kan?”
Kalimat Dria segera menggelitik rasa bahagia Sandro lebih nyata, dalam sakit pun Dria tetap menggemaskan.
“Hahaha… ini aku kakakmu, Sandro… masih tampan bukan?”
Sandro mencoba bergurau, membangun interaksi yang lebih dekat dengan Dria karena bisa merasakan kecanggungan dalam tatapan Dria. Tawa Sandro menularkan rasa nyaman di hati Dria, matanya belum dia lepaskan dalam tautan dengan Sandro sambil meresapi rasa nyaman dan bahagia yang sekarang semakin berpendar di sekitar mereka berdua.
Dria lupa pada tekanannya sebelum ini, pada kebencian terhadap dirinya sendiri yang terjadi dalam batinnya. Kehadiran Sandro, cara Sandro tertawa untuknya, tatapan lembut penuh sayang serta usapan di kepala yang belum berhenti berproses dalam sistem tubuhnya, tubuh seolah melepaskan semua sakit fisik oleh karena kebahagiaan yang menyerap dalam jiwanya, otot-ototnya seperti menerima kekuatan lagi.
Dria ikut tertawa bersama Sandro.
“Kakakku memang selalu tampan…”
Suara Dria kini memiliki energi, benar adanya bahwa perasaan bahagia ikut menentukan kesembuhan fisik.
“Tapi kenapa matanya seperti itu?”
“Seperti apa?”
“Seperti kurang tidur…”
“Ahh… iya, pengaruh jetlag, kakak belum tertidur dalam dua puluh empat jam ini…”
“Kakak istirahat sekarang saja… Itu di sana ada tempat tidur, Tety tidak menggunakan itu, jadi kakak boleh tidur di situ…”
Sandro tersenyum lagi, Dria seketika menjadi cerewet karena memikirkan kenyamanan dirinya.
“Nanti Dee… kakak masih ingin mengobrol denganmu… kakak berencana tidak akan kembali ke hotel juga, kakak akan menjagamu…”
Sebenarnya Sandro ingin mengatakan ‘kakak masih rindu’ tapi dia memilih jalur yang aman dahulu, setelah Dria sehat dia tidak akan memberi ruang untuk Dria menolaknya lagi sehingga dia bisa leluasa mengekspresikan semua perasaannya.
.
.
Halo... Apa alurnya sesuai harapan, aku gak bisa yg pelik2 atau dramatis sampai membuat pembaca mewek2... biasa aja tapi berharap kalian suka 🙏🙏
Terima kasih.... Berharap semua yang membaca ini mengatakan sesuatu di kolom komentar 😉😁
.