Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 11. Lebih Dekat dengan Sang Kakak



Dria keluar dari kamarnya seperti biasa, di saat suara-suara alam di luar rumah besar ini telah terdengar, seperti nyanyian pagi yang datang menyapa bersama sirnanya kegelapan. Sedikit cahaya mulai merangsek masuk ke dalam rumah itu ditandai dengan munculnya dominasi warna abu-abu pekat yang secara samar memunculkan bentuk benda-benda yang dilewati di ruangan itu, termasuk memperjelas sosok pria yang sedang berjalan beberapa langkah di depan Dria, pria yang boleh dipanggil kakak sekarang.


Dria melangkah tanpa bunyi sebenarnya tapi segera dalam beberapa langkah aktivitas Dria melangkah diam di belakang Sandro segera disadari sang kakak, di ujung tangga sebelum turun Sandro berhenti dan berbalik memandang Dria, sangat jelas memang menunggu Dria di sana. Dria tersenyum, tidak usah diceritakan lagi, sikap si Tuan Muda belakangan benar-benar berubah secara drastis, dan inilah yang sedang dinikmati Dria, si Tuan Muda benar-benar bisa dijangkau sekarang, dan profil si Tuan Muda yang sesungguhnya tidak sekaku dan sedingin yang terlihat.


“Selamat pagi Tuan Muda…”


Dria memberi salam dengan wajah penuh senyum, tak lupa menundukkan kepalanya tanda memberi hormat.


“Deedee… kamu, berapa kali kakak harus bilang jangan lagi menyebut kakak dengan cara itu…”


“Panggilan itu sudah terlanjur Dee hafal… Dee kesulitan mengubah itu."


Dria coba membuat wajah serius, dalam hati sebenarnya Dria tertawa terbahak-bahak sebab dia tidak jujur, dia hanya ingin menggoda sang kakak dengan sapaan itu.


Tangan si Tuan Muda menyambut Dria yang sudah berada di dekatnya, mengacak rambut Dria dengan perasaan gemas. Dria telah berdiri tidak sampai satu meter, jadi raut wajah Dria cukup jelas dalam pandangan. Sandro belum lupa mimik wajah Dria yang seperti ini, sudut bibir yang bergerak kecil menunjukkan dia sedang menahan tawanya, dan Sandro juga tahu sebenarnya Dria sengaja memanggilnya seperti itu lagi.


“Kamu sengaja kan?”


“Tidak, Tuan eh… kak Sandro, Dee sedang menyesuaikan diri, serius…”


Mata Dria membulat lucu dengan kepala mengangguk-angguk seolah sedang menegaskan tentang kebenaran sikapnya, hal itu justru menggerakkan tindakan rasa sayang yang sudah lama ditahan-tahan di hati si Tuan Muda sehingga membuat Sandro kembali mengacak rambut Dria, sebuah kebiasaan di masa lalu mulai dilakukan lagi, tapi Dria sedikit menghindari tangan Sandro hingga akhirnya tangan itu terlepas dari kepala Dria. Mereka berdua kemudian turun tangga dengan langkah yang sama.


“Kenapa selalu bangun di pagi hari, Dee?”


“Sudah jadi kebiasaan, Dee bilang tadi susah mengubah kebiasaan kan… Tuan Muda eh… kak…”


Rupanya acara menggoda si Tuan Muda masih diteruskan Dria. Sandro hanya meringis dan menoel pipi Dria dengan gemas. Dria akhirnya tertawa lepas melihat reaksi kakaknya, tawanya seperti menggema di ruangan itu, seperti mengisi ruangan besar ini dengan keceriaan sehingga dua orang pelayan yang ada di situ yang sedang bertugas membersihkan ruangan itu ikut tersenyum. Dan si Tuan Muda pun terlihat senyum lebar sambil memegang kepala Dria dan memberi beberapa kali usapan di puncak kepala Dria.


Saat hendak berbelok ke bagian service area di bagian belakang rumah besar ini…


“Dee ke belakang ya kak…”


“Apa yang kamu lakukan di belakang?”


“Banyak…”


“Apa saja?”


Sandro berdiri berkacak pinggang, jadi terlihat serius sehingga Dria menghentikan langkah juga.


“Macam-macam… membantu mereka bekerja, bisa di bagian laundry, bisa di dapur, bisa di kebun belakang…”


“Ada banyak pelayan di rumah ini, Dee… kamu tidak usah melakukan apa-apa.”


“Dee tidak mau jadi pemalas, Dee tidak lupa mami selalu mengatakan hal itu... Dee juga senang membantu mereka. Dan tahu tidak, kalau di bagian belakang suasananya ramai kak, Dee jadi seperti punya keluarga besar.”


“Di sini saja Dee… ikut kakak saja, kita olahraga bersama, temani kakak…”


“Ada pak Timo yang selalu siaga menemani kak Sandro. Dee tidak suka olahraga… apalagi dengan mengunakan alat seperti itu… olahraga Dee itu membantu mereka menyelesaikan pekerjaan di belakang… tenaga Dee jadi lebih bermanfaat sekaligus Dee jadi bugar juga…”


Dria bicara dengan begitu ekspresif, tidak malu-malu atau kaku lagi di hadapan Sandro karena kebekuan lelaki itu sudah berganti sepenuhnya dengan kehangatan.


“Kamu seperti mami…”


“Tentu saja… karena dahulu itu Dee anak kesayangan mami…”


“Eh, siapa bilang…”


Sandro tersenyum, ingatan tentang mami tak lagi terlalu sendu, karena ada Sandriana di rumah ini sekarang.


“Anak kesayangan mami itu lelaki bukan perempuan, jadi itu kakak.”


Sambung Sandro lagi, entah kenapa dia jadi ingin meneruskan percakapan yang remeh seperti ini dengan Dria.


“Mmmh… kak Sandro jadi pelupa ya… tidak mengingat fakta yang sebenarnya. Itu Dee, anak perempuan mami yang paling imut dan manis, itu sama sekali bukan kak Sandro.”


Dria bicara dengan tangan sebelah di pinggang dan tangan satu terangkat dengan jari telunjuk menunjuk ke atas. Sandro mulai tersenyum lagi sambil menatap lekat wajah Dria, tidak ingin melewatkan cara Dria bicara, ini menjadi sebuah hal yang disukainya belakangan.


“Dan satu lagi... Dulu itu Dee juga adik kesayangan seorang kakak lelaki bernama Sandro Kristoffer Darwis, dia kakak yang sangat tampan dan baik hati… Dan pastinya itu juga bukan anda, Tuan Muda...”


Sandro terbahak mendengar suara Dria yang beralun jenaka, juga isi kalimat Dria tentang dirinya. Dalam hati Sandro mengakui bahwa rasa sayang untuk Sandriana tidak pernah pergi dari hatinya bertahun-tahun ini, dia hanya pernah lupa sejenak beberapa tahun ini saat dia mulai sibuk bekerja menjadi CEO perusahaan mereka.


"Hahaha Siapa pria itu? Kenapa... Nama pria itu terdengar seperti namaku ya?"


"Oh ya? Ah... Apa kalian mirip? Mmh... bisa jadi kalian kembar.... tapi.... mmh...kalian punya sedikit perbedaan..."


"Apa?"


Di suara Sandro masih ada tawa, begitu menikmati drama yang sedang digulirkan Dria.


"Kakakku yang aku sayang itu, rambutnya selalu dibiarkan panjang melewati kerah kemejanya... Tuan Muda yang ini potonganya sangat pendek... terlalu klimis."


"Kamu mau kakak memanjangkan rambut?"


"Ah... Tidak seperti itu, walaupun menurut Dee jika tatanan rambut yang seperti di foto yang di sana itu yang lebih menonjolkan karakter kakak...."


Dria menunjuk foto Sandro di dinding.


"Tapi... Emma tidak suka kakak berpenampilan seperti itu, terlihat seperti anak kuliahan katanya, tidak terlihat seperti seorang pemimpin perusahaan besar."


"Ah? Baiklah... penilaian kekasih hati memang penting."


Dria melangkah meninggal Sandro.


"Dee... Jangan pergi dulu..."


Dria tersenyum lebar, mendadak muncul perasaan senang saat mengganggu kakaknya...


"Dee... Itu saja perbedaan kakak dengan kakak kesayanganmu?"


Suara Sandro menjadi lebih keras saat Dria hanya sedikit berbalik dengan senyum lebar lalu pergi lagi tanpa menjawab.


Sandro belum rela ditinggalkan Dria, masih ingin bercakap dengan adiknya, dia suka melihat setiap detil ekspresi di wajah Dria saat sedang bicara. Apalagi sekarang cahaya pagi semakin terang masuk ke dalam ruangan semakin menonjolkan wajah manis Dria, Lagipula dia ingin tahu lebih banyak pendapat Dria soal dirinya.


Padahal di pintu masuk ruang gym Timothy sudah menunggu biasanya si Tuan Muda sudah memulai exercisenya, Timo senyum-senyum memperhatikan si Tuan Muda yang sekarang, terlihat lebih normal dan sangat lepas saat berinteraksi dengan Dria. Dengan Emma Sandro selalu bicara dengan nada lurus, seingat Timo, sepertinya pasangan kekasih itu saat bertemu selalu terhalang oleh sesuatu dalam interaksi mereka.


"Deedee...."


Dria hanya berbalik sambil menggoyangkan kepalanya dengan gerakan menggemaskan.


"Sandriana Aubrey... Apa perbedaannya?"


Dria tertawa, dari teriakannya sangat kentara kakaknya sedang menuntut jawaban tapi membuat kakaknya bertingkah seperti ini itu terasa menyenangkan.


"Mmmh...rahasia... Dee tidak akan beritahu..."


"Tidak... Kak Sandro silakah berolahraga… Dee mau ke belakang sekarang.”


Dria meneruskan langkah meninggalkan Sandro yang masih dengan sikap tubuh yang sama dan terus menatap dengan penasaran hingga Dria hilang dari pandangannya. Sandro kemudian masuk ke gym pribadinya dengan segaris senyum yang kembali hadir.


Di sebuah pintu kamar yang terbuka satu daun pintunya, yaitu kamar utama di rumah ini, Tuan Besar Harlandy juga sedang tersenyum sangat tipis saat hendak keluar dari kamarnya menemukan sebuah pemandangan menarik cara Sandro dan Dria berkomunikasi. Dia menarik napas dengan kepuasaan penuh. Tidak perlu bertindak kasar atau penuh paksaan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan lebih natural, bersabar saja menunggu fenomena-fenomena yang terus berganti di sini, termasuk fenomena hubungan Sandro dan Dria.


Tuan Besar Harlandy mendukung penuh keinginan mendiang istrinya, tetapi dia ingin hubungan Sandro dan Dria dimulai dengan ketulusan, dan biarkan mereka yang menjalaninya sendiri, jika ada cinta yang bersemi di hati mereka, itu baik tetapi jika tidak dia pun tidak ingin memaksakan kehendaknya. Dalam hal ini Tuan Besar hanya memantau dari jauh. Harapannya bertambah hari ini ketika melihat sebuah perkembangan dalam hubungan Sandro dan Sandriana, dua anak yang kini menjadi pengisi kekosongan besar dalam hati sejak kepergian sang belahan jiwa.


Tuan Besar melangkah dengan langkah tenang yang masih tegap ke ruang kerjanya, menghabiskan waktu paginya untuk membaca dan mengerjakan beberapa hal.


Di dapur yang begitu luas…


“Bu Lia… selamat pagi…”


“Non Dria… selamat pagi juga… mau bantu ibu membuat sarapan? Ibu cemburu, belum pernah dibantu Non Dria… Non Dria sengaja menjauhi ibu kan?”


Bu Lia tersenyum dengan senyum lembutnya menyambut Dria di ruangan dapur itu.


“Bukan bu... Bukan seperti itu..."


Dria menyadari selama beberapa bulan di sini dia jarang berinteraksi dengan bu Lia, waktu itu memang sengaja.


"Tapi ibu merasa seperti itu..."


"Hahaha… Itu sebenarnya karena aku tidak terlalu suka memasak bu…”


Dria tertawa sambil menggaruk kepalanya menyembunyikan perasaan bersalah, selama ini dia sering menghindari area dapur karena tak ingin membahas soal kak Sandro. Padahal sesungguhnya pembawaan bu Lia yang penuh kelembutan sering mengingatkan Dria pada sosok sang mami, dan sekarang Dria tidak harus menjaga jarak lagi.


Dria mendekat dan berdiri di samping bu Lia dan membantu bu Lia memindahkan apel dan pear dari dalam loyang berisi air ke sebuah keranjang bulat.


“Sama seperti ibu dulunya… tapi lama-lama akhirnya ibu mau belajar dan jadi terbiasa lalu jadi suka…” Bu Lia bicara lagi.


“Iya… Aku ingat mami sering bilang wanita itu harus bisa memasak… di rumahku ini pekerjaan rutinku… tapi aku hanya bisa memasak resep sederhana, belajar dari you*tube.”


"Itu sangat baik Non... yang penting sebenarnya jangan canggung memegang segala macam peralatan memasak terutama pisau, jangan takut kena cipratan minyak dan jangan takut untuk mencoba memasak sesuatu..."


"Aku sudah melewati tahap itu bu Lia... hanya saja selesai masak aku tidak suka dengan bau yang melekat di tubuhku, terutama di bagian rambut, aku pasti akan keramas setelah memasak."


"Itu hal biasa Non, lama-lama kita tidak akan pedulikan itu lagi... apalagi jika memasak untuk orang yang kita sayangi..."


"Oh begitu ya?"


Mata Dria selalu otomatis membulat jika mendengar sesuatu yang berbeda dari apa yang dia lakukan ataupun ketahui. Memasak bagi Dria waktu di kota S karena kewajibannya pada sang ayah.


"Iya non... kelak akan memasak untuk seseorang yang Non sayangi, kekasih non Dria atau suami."


Ekspresi Dria berubah.


"Ah itu.... jika untuk itu... aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan punya seseorang seperti itu bu..."


"Sekarang belum, tapi nanti pasti ada, non Dria sangat cantik dan manis, tidak mungkin jika tidak ada pria yang jatuh hati..."


"Aku yang tidak mau bu... aku tidak ingin punya seseorang dengan status seperti itu, lebih baik berteman saja."


Dria menunduk dengan perasaan sedih yang merangsek masuk ke dalam hatinya.


"Seharusnya seperti itu... Non Dria harus menjaga hati Non Dria hanya untuk seseorang... iya lebih baik seperti itu, karena non Dria sudah punya... eh maksudnya non Dria masih muda kan..."


Dria bersandar di meja dapur itu, tidak menanggapi kalimat bu Lia. Sesuatu yang dia coba lupakan tiba-tiba melintas dan meninggalkan rasa nyeri di bagian tengah dadanya. Rasa sakit yang selalu saja hadir jika seseorang menyinggung tentang kekasih atau suami.


"Tuan Besar itu dulu... ada saatnya hanya ingin makan masakan buatan nyonya, maka nyonya sendiri yang akan turun tangan. Sepertinya Tuan Muda juga sama... mungkin karena Tuan Muda melihat Nyonya dulu seperti itu. Tuan muda sesekali suka datang ke dapur saat menginginkan ibu memasak makanan kesukaannya. Tuan sering meminta ibu untuk mengajarkan itu pada istrinya kelak... Itu sama seperti permintaan nyonya pada ibu."


Sementara membicarakan hal itu bu Lia meneruskan kegiatan dengan memotong-motong buah, Dria juga mengambil pisau yang lain lalu melakukan hal yang sama.


"Berarti bu Lia harus mengajarkan kak Emma memasak makanan kesukaan kak Sandro."


"Nona Emma?"


"Iya, kekasihnya kak Sandro... bu Lia mengenal kak Emma kan?"


"Iya, wanita itu sudah beberapa kali dibawa Tuan Muda berkunjung, tapi... sangat terlihat dari penampilannya, dia bukan wanita yang menyukai dapur atau pekerjaaan seorang ibu rumah tangga."


"Tapi mungkin saja dia mau memasak kan... apalagi jika itu makanan kesukaan kak Sandro. Dari yang aku dengar, hubungan mereka serius... jika seperti itu, apapun pasti rela dilakukan kak Emma jika kak Sandro yang memintanya..."


"Mmmh... Tapi Nona Emma tidak disukai oleh Tuan Besar... Walaupun Tuan tidak pernah mengatakan itu tapi nampaknya hal itu benar, sudah beberapa kali Nona Emma datang berkunjung tapi Tuan tidak mau makan bersama dengan Nona Emma."


"Ah? Benar seperti itu bu?"


Dria memandang bu Lia dengan matanya yang membola.


"Iya... Aduuuh maaf non, harusnya ibu tidak membicarakan hal seperti ini, maaf ibu terlanjur bicara hal yang tidak baik tentang kekasih Tuan Muda..."


"Bu Lia tidak membicarakan hal yang tidak baik, bu Lia hanya memberitahuku sebuah informasi... Itu aku rasa bukan masalah...."


"Ibu akan membuat apple pie... Non Dria ingin belajar?"


Bu Lia mengganti topik pembicaraan.


"Boleh... kalau membuat kue aku suka bu.... kue yang sedang dibakar atau dipanggang itu baunya sangat enak."


"Baik non... Siapa tahu besok-besok bisa membuatkan untuk Tuan Muda... suatu saat untuk suami non Dria."


Bu Lia seolah berkata dengan dua kalimat yang berbeda tapi sebenarnya bermakna sama.


"Ah bu... Aku belajar untuk diriku sendiri saja...."


Dria senyum sedih di sini. Bu Lia tidak tahu apa yang bergejolak di hati Dria, tersenyum mendengar jawaban Dria, berpikir jika Dria yang masih terlalu muda enggan berbicara tentang seorang suami untuk dirinya kelak.


"Tapi bu... Ini salah satu kesukaan kak Sandro ya?"


"Eh? Iya Non... Coba aja non buat, ibu ajari... Kita kasih kejutan untuk Tuan Muda..."


"Hahaha... Ide bagus bu... Aku ingin melihat bagaimana ekspresi kak Sandro..."


Bu Lia tersenyum senang, si Nona Muda sudah punya keinginan untuk belajar masak, hutang untuk mendiang Nyonya Besar mulai bisa dilunasi...


.


.


🌼🌼🌼


.