
...~Happy Reading~...
"Mama, Davis pulang!" ucap Davis saat memasuki rumah nya.
Di sekolah, anak itu memang terlihat pendiam dan berwajah datar. Namun, sangat berbeda sudah memasuki kawasan rumah nya, maka wajah anak itu akan berubah menjadi ceria dan penuh semangat. Itu semua ia lakukan agar sang ibu tidak terlarut dalam kesedihan.
"Bagaimana sekolah nya?" tanya Nichole tersenyum menyambut kedatangan putra nya.
"Lancar semua! Davis lapar, ingin makan!" keluh nya manja seraya mengusap perut, hingga membuat Nichole terkekeh semakin gemas.
"Kita makan!" Nichole melepas tas ransel Davis lalu ia berikan kepada pelayan, ia segera menggandeng putra nya menuju meja makan, "Lusa, Chloe akan datang. Tapi mereka tidak bisa kemari."
"Kemana?" tanya Davis langsung menghentikan langkah kakinya dan menatap sang ibu.
"Kamu akan tahu besok. Sekarang kita makan dulu," ujar Nichole kembali melanjutkan langkah nya menuju meja makan.
Nichole merasa sangat bersyukur, karena kini putra nya semakin baik dan tidak seperti dulu lagi. Kehidupan nya semakin membaik, setelah beberapa waktu yang lalu, tepatnya setelah kejadian Pem-bully an kala itu, Davis lebih banyak diam dan mengurung diri.
Bohong bila Davis tidak merasa bersalah. Nyatanya, rasa itu sempat hadir di benak Davis. Namun, cacian dan makian dari teman teman nya yang lain, membuat Davis semakin murka dan tak terkendali.
Bahkan, Clayton dan Edward sampai mendatangkan seorang psikolog untuk menyembuhkan psikis Davis.
Hanya beberapa hari, Davis sudah mulai merubah diri. Clayton dan yang lain mengira bahwa usaha mereka berhasil. Davis bisa melakukan aktivitas normal seperti anak anak yang lain. Namun, ternyata mereka salah.
Davis bersikap ceria seperti yang lain, hanya di depan orang terdekat nya. Karena Davis tidak ingin melihat ibu nya sedih, itulah sebab nya ia berpura pura sembuh dan seolah tidak terjadi apa apa.
ππππ
Dan seperti yang di ucapkan Nichole tempo hari. Kini, hari ini Davis di bawa ke sebuah Hotel yang cukup besar di kota. Awalnya, Davis terlihat sedikit bingung namun semakin lama ia semakin terbiasa, terlebih ketika ia melihat sosok yang ia kenal.
Ya, untuk saat ini satu satunya gadis yang bisa membuat Davis tersenyum dan murah bicara hanya Chloe, anak kedua dari sahabat ayah nya.
"Kenapa kamu lama sekali datang nya!" Chloe langsung bersedekap tangan di dada menatap sahabat nya.
"Aku tidak tahu kalau Mama akan membawa ku kemari," jawab nya masih sedikit melirik ke sekitar.
"Sudahlah, ayo aku akan kenalkan kamu dengan teman ku!" Chloe menggandeng tangan Davis dan membawa nya ke suatu tempat.
Sementara itu, para orang tua, tepatnya Nichole, Shiena dan juga Faiza kini tengah duduk bertiga untuk menikmati jamuan yang ada.
"Bagaimana keadaan Davis?" tanya Faiza membuka suara.
"Sudah semakin baik." Nichole tersenyum dan menganggukkan kepala nya, "Tapi terkadang aku masih takut bila membawa nya keluar," imbuh nya langsung menghela napas nya dengan berat.
"Nich, coba kamu pikirkan kembali tawaran kita. Mungkin, Davis butuh suasana baru. Pindahβ"
"Tapi aku tidak mau meninggalkan rumah itu," gumam Nichole pelan menundukkan kepala nya.
Untuk sesaat, Shiena dan Faiza terdiam dan saling menatap, "Kalau kamu tidak bisa pindah rumah. Setidaknya kamu bisa pindahkan Davis ke sekolah lain."
"Dia yang tidak mau!" balas Nichole lagi lagi membuat kedua wanita di depannya itu langsung menghela napas nya panjang.
...ππππ...
...NOTE :...
...Baiklah, Mom akan lanjut sampai usia Davis remaja ya. Beberapa part lagi ππππππ...