Oh My Davis

Oh My Davis
Makan siang



...~Happy Reading~...


"Faisal kemana sih? Ngilang terus," gumam Nichole saat merasa bosan.


Wanita itu mendudukkan dirinya di ujung tangga sambil bermain ponsel untuk menghilangkan rasa bosan nya. Ia kembali menghela napas nya berat, saat melihat sebuah gambar yang tertera di layar ponsel nya.


Batas waktunya sudah berakhir, namun dirinya harus bertahan di rumah itu. Andai saja Davis bisa memberikan nya kepastian, pasti ia akan dengan senang hati untuk berada di sana. Nichole tidak akan merasa sendiri dan kesepian lagi.


"Enak ya, di rumah hanya makan tidur makan tidur terus!" sindir ibu Sandrina gang tiba tiba melintas di depan nya.


"Yah, enak tidak enak sih Bu. Enaknya di manjain sama suami ya begini, tapi gak enaknya saat di tinggal kerja, jadi kesepian," balas Nichole dengan santai lalu kembali memainkan ponsel nya.


"Apakah kau benar hamil?" tanya ibu Sandrina dengan tiba tiba, membuat Nichole langsung mendongak dan menatap ibu mertua nya.


"Apakah menurut Ibu, aku mengalami busung lapar? Atau mungkin terkena gizi buruk sampai membuat perut ku sebesar ini?" kata Nichole menjawab pertanyaan ibu Sandrina dengan sebuah pertanyaan lagi.


Nichole berdiri, memperlihatkan bagian perut nya yang sudah mulai terlihat buncit, "Ini isinya bayi, Ibu. Bukan makanan atau ban karet!" imbuh nya, bahkan wanita itu sampai membuka baju di bagian perut untuk di perlihatkan jelas kepada ibu mertua nya.


"Lagi pula, suami ku masih sangat muda dan perkasa, Bu. Dia masih sanggup bekerja keras untuk membiayai istri dan juga keluarga nya. Jadi mana mungkin, dia membiarkan istrinya ini terkena busung lapar kan?" cibir Nichole lagi membuat Ibu Sandrina semakin berdecak karena tersindir akan ucapan menantu nya.


Karena kesal, akhirnya ibu Sandrina memilih untuk pergi dan tak melanjutkan perdebatan nya lagi dengan Nichole. Karena ia tahu, pada akhirnya wanita itu lah yang akan tetap menang.


"Nona, sudah waktunya makan siang." ujar Kimmy segera menghampiri Nichole.


Sesampainya di meja makan, Nichole sedikit menghela napas berat, lantaran meja itu terlihat sepi. Ya, ayah Daris sedang melakukan Chek up ke rumah sakit bersama kakek Austin. Davis bekerja, Faisal entah kemana. Jadilah kini hanya tinggal Nichole dan ibu Sandrina saja yang berada di sana.


"Ibu, tidak ingin kah kau duduk di depan ku sini, mengapa sangat jauh sekali duduk nya?" tanya Nichole menghela napas nya dengan berat.


Meja makan itu memang lah cukup panjang. Total ada dua puluh kursi. Delapan di sisi kanan, delapan di sisi kiri dan dua di sisi ujung.


"Makanlah, dan jangan ganggu aku!" ucap Ibu Sandrina ketus karena tidak ingin selera makan nya hilang akibat perdebatan nya dengan Nichole.


Karena sudah lapar, akhirnya Nichole segera memakan makanan nya. Sambil sesekali ia mengecek ponsel nya untuk melihat pesan chat yang mungkin siapa tahu saja Davis mengirimi nya. Walaupun rasanya sangat tidak mungkin bila Davis mengirimkan pesan padanya kecuali urgent.


"Apakah di keluarga mu di ajarkan begitu? Makan sambil bermain ponsel!" cetus ibu Sandrina menatap tak suka pada Nichole.


"Maaf Ibu, suami ku kalau mengirimkan pesan, bila tidak segera di balas. Maka dia akan mengamuk! Jadi aku terpaksa membalas nya dulu," jawab Nichole mulai berkhayal hingga membuat ibu Sandrina berdecak.


Nichole terkekeh melihat wajah ibu mertua nya yang selalu kesal. Namun, kekehan di wajah nya itu seketika langsung menghilang dan terganti dengan raut wajah yang sangat pucat serta napas nya yang memburu hebat.


"Aaarkkkhhhh!" pekik Nichole.


...~To be continue... ...