Oh My Davis

Oh My Davis
Gara-gara nyanyian



...~Happy Reading~...


Setelah tiba di Mobil, Davis pun segera melepaskan tangan Nichole begitu saja. Membuat gadis itu sedikit memanyunkan bibir nya dan berdecak. Namun, ia jiga senang, lantaran kini ia merasa hidup nya tidak lagi tertekan.


Nichole bersyukur, karena pertemuan nya dengan Davis tidak seburuk yang ia kira. Bahkan, kehidupannya jauh lebih baik setelah dirinya di beli oleh Davis. Di banding saat dirinya tinggal bersama sang ayah tiri.


Ayah tiri? Bagaimana keadaan nya saat ini? Entah mengapa, tiba tiba Nichole kembali teringat dan merindukan nya. Meskipun ayah tiri nya sudah tega menjual nya, namun tak bisa di pungkiri. Laki laki itu tetaplah ayah bagi Nichole. Sejak kecil, begitu lembut dan selalu memberikan nya kasih sayang.


Nichole memang kecewa, namun ia tidak bisa marah. Ia tetap menyayangi laki laki penjudi tersebut.


"Apakah kau akan terus berdiri di sana? Masuk!" titah Davis saat melihat Nichole hanya berdiri melamun seraya memegang pintu mobil.


"Maaf," Dengan cepat, Nichole segera membuka pintu mobil nya dan masuk.


Davis segera melajukan mobil nya untuk kembali ke apartemen. Sepanjang perjalanan suasana di sana terasa sangat hening dan terlihat membosankan.


"Emmtt b—bolehkah aku bertanya?" ucap Nichole pelan seraya melirik ke arah z Davis.


"Tidak!" jawab laki laki itu tanpa ekspresi, lagi lagi membuat Nichole mendengus dengan kesal.


"Hanya sedikit, sedikit saja," kata Nichole berusaha menawar.


"Itu sudah termasuk pertanyaan! Jadi lebih baik sekarang diam!" ucap Davis datar membuat Nichole tak bisa berkata kata lagi.


Dan begitu sampai di apartemen, Nichole pun segera masuk ke dalam kamar nya dan mengabaikan Davis yang masih berjalan di belakang. Tentu saja, laki laki itu tidak perduli, ia pun juga segera memasuki kamar nya begitu saja.


Di dalam kamar, Nichole kembali menghela napas nya kasar. Entah kehidupan rumah tangga seperti apa yang akan dia jalani nanti. Namun, lagi lagi gadis itu merasa bersyukur, karena dirinya di beli hanya di jadikan istri kontrak, bukan seorang budak.


Padahal, tadi dirinya hanya ingin bertanya kepada Davis, apakah dia boleh melanjutkan kuliah nya. Soal biaya, Nichole bisa mencoba untuk mendaftar beasiswa. Dan gadis itu cukup yakin dengan kepintaran nya. Hanya saja izin dari Davis itu sangat sulit untuk ia dapatkan.


Mengapa harus memakai izin Davis? Tentu saja karena kini dirinya sudah di milik Davis sepenuhnya sampai satu tahun ke depan.


Nichole memutuskan segera mandi dan bersiap untuk istirahat. Nichole memilih untuk bernyanyi dengan lagu buatan dia sendiri, yang isinya hanyalah sebuah umpatan dan sindiran untuk seseorang.


Jangan tanya siapa orang itu, karena sudah pasti, orang yang memiliki wajah datar dan sedingin es, namun juga baik hati karena sudah menolong nya.


Cklek!


Deg!


Saat Nichole membuka pintu dari kamar mandi. Tiba tiba tubuh nya mematung ketika melihat keberadaan Davis yang sudah berdiri di depan kamar mandi dengan ekspresi wajah tak terbata.


Tangan nya melipat di dada, tatapan matanya begitu tajam, seolah ingin mengatakan kemarahan kepada Nichole.


Glek!


Nichole menelan saliva nya dengan susah. Ia berharap dan berdoa di dalam hati semoga Davis tidak mendengar suara nya saat bernyanyi. Namun, rasanya itu sangat mustahil karena pintu kamar mandi itu tidak tertutup rapat tadi.


'Apakah aku akan mati, gara gara salah bawain lagu waktu konser?' gumam Nichole dalam hati nya. (Konser di kamar mandi maksudnya)


...~To be continue......