
...~Happy Reading~...
Hari demi hari berlalu, kesehatan Nichole semakin membaik. Bahkan, kini ia sudah jarang merasakan mual dan muntah lagi. Mungkin, hanya sesekali Davis yang merasakan pusing dan mual saat tanpa sengaja mencium sesuatu aroma yang kurang sedap. Namun, laki laki itu selalu bisa menutupi dirinya sendiri agar tidak terlihat lemah.
"Mau di bawakan apa nanti?" tanya Davis seraya memasang dasi nya membelakangi Nichole yang tengah duduk di tempat tidur.
Beberapa hari ini, Nichole sudah mulai memasuki fase mengidam. Setiap kali Davis pulang dari kantor, laki laki itu harus membawa oleh oleh. Entah itu makanan atau benda apapun itu. Tangan nya tidak boleh kosong dan di wajibkan untuk memberikan sesuatu kepada Nichole.
"Tak tau!" jawab Nichole mengangkat kedua bahu nya, "Aku belum menginginkan apapun."
Davis langsung menghela napas nya dengan berat, bila seperti ini, maka dirinya yang akan kesulitan nanti. Pernah di hari ketika Nichole mengatakan tidak menginginkan sesuatu, namun nyatanya wanita itu justru minta di carikan sebuah makanan yang ternyata sangat sulit untuk ia dapatkan.
Andai Nichole mengatakan saat pagi dirinya hendak berangkat ke kantor. Setidaknya ia bisa langsung mencari, dan saat pulang jam kantor ia sudah menemukan nya. Sementara saat itu Nichole mengatakan saat dirinya sudah di dalam perjalanan pulang ke rumah, tentu saja membuat dirinya kelabakan dan terpaksa harus mencari berkeliling hingga hampir tengah malam.
"Aku mau kuliah," kata Nichole langsung menatap suami nya.
Sejak di nyatakan hamil, Davis benar benar semakin mengekang Nichole. Davis tidak mengizinkan Nichole untuk keluar rumah apalagi kuliah. Bahkan aktifitas Nichole banyak di lakukan di dalam kamar.
"Tidak!" ucap Davis dengan cepat dan datar, "Tunggu sampai kamu melahirkan, baru kamu bisa kuliah lagi!"
Tentu saja hal itu membuat Nichole langsung membulatkan matanya dengan sempurna. Bagaimana bisa menunggu dirinya sampai melahirkan baru bisa kuliah lagi.
Terkadang, ia juga bingung. Mengapa Davis begitu posesif dan over protektif padanya. Namun, laki laki itu begitu sulit untuk mengakui perasaan nya. Hingga kini, Nichole masih belum pernah mendapatkan kepastian dari Davis. Apakah dirinya harus bertahan atau melepaskan.
"Bukankah batas—"
Maka dari itu, Davis memilih untuk pergi dan menghindar agar tidak perlu merasa kesal dan marah lagi.
"Tunggu dulu!" Nichole langsung bangkit dan mengejar Davis yang masih berjalan menuju pintu.
Brukk!
"Ikut ke bawah!" ucap Nichole yang tiba tiba sudah berada di punggung Davis.
Ia tidak perduli dengan kemarahan laki laki itu. Ia hanya ingin memanfaatkan waktu nya saja. Selagi laki laki itu tidak membunuh nya, ia akan terus berani meminta perhatian. Karena seorang Davis, tidak akan bisa memberi tanpa di minta.
"Turun Nichole!" kata Davis menahan geram seraya menahan tubuh Nichole dari bawah.
Ia marah bukan karena Nichole yang meminta gendong padanya. Namun ia marah lantaran wanita itu sangat ceroboh, bagaimana bisa ia sedang hamil namun langsung berlari dan loncat begitu saja ke tubuh nya.
Nichole pun yang mendapatkan penolakan, hanya bisa menggelengkan kepala nya, "Aku mau ikut turun!" balas Nichole masih tetap kekeuh berada di gendongan Davis.
Davis semakin menahan rasa geram dan memejamkan mata erat, saat tiba tiba Nichole dengan tingkah usil nya justru malah meniup belakang telinga nya. Tentu saja hal itu membuat nya semakin kesal, karena bagian itu sangat sensitif, sedangkan dirinya sudah berpuasa cukup lama. Tepatnya sejak mengetahui istrinya Hamil, Davis tidak pernah lagi menyentuh Nichole karena takut akan melukai bayinya.
'Shitttt!' umpat Davis tertahan dalam hatinya.
...~To be continue... ...