
...~Happy Reading~...
Cklek!
Nichole membuka pintu kamar nya, berniat untuk membangunkan Davis. Namun, tepat saat dirinya membuka pintu, saat itu juga bertepatan dengan Davis yang juga baru keluar dari kamar mandi.
"Huaaaaaaa!" pekik Nichole seketika langsung membalik badan dan menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya.
Jantung nya berdetak dengan begitu cepat. Hingga membuatnya terasa sulit untuk menelan saliva nya sendiri. Karena tanpa sengaja melihat pemandangan yang cukup mengejutkan nya.
Sementara itu, Davis yang hanya mengenakan handuk pendek sepinggang dan bertelanjang dada. Tak kalah terkejut nya dari Nichole, namun laki laki itu dengan cepat menguasai dirinya dan berpura pura nampak biasa.
"Lain kali, biasakan untuk mengetuk pintu!" ucap Davis dengan raut ekspresi wajah datar nya dan segera memasuki walk in closed.
'Mengetuk pintu? Bukankah dia sendiri yang minta untuk di bangunkan? Lantas kenapa harus mengetuk pintu? Salah sendiri bangun nya kecepatan! Dasar manusia kulkas!'
'Huaaaa mataku sudah ternodai!' umpat nya dalam hati, 'Eh, tapi mata ku udah ternodai sejak lama sama Aulia.' imbuh nya lalu menggelengkan kepala.
"Ada apa teriak?" tanya Faisal yang mendengar suara teriakan, seketika langsung menghampiri ke sumber suara.
Kamar Faisal dan Davis berada di lantai dua. Hanya saja, kamar mereka berada cukup jauh, saling pojok. Namun, masih bisa terdengar karena pintu keduanya tidak tertutup.
"Hah?" Nichole langsung menatap ke arah Faisal, "Gak ada apa apa kok, t—tadi itu emmmtt tadi hanya kaget. Iya kaget, ada kecoa!" katanya dengan asal.
Tentu saja Faisal langsung mengerutkan dahi nya tak percaya. Bagaimana bisa di rumah itu ada kecoa, rasanya hanya satu persen kemungkinan ada kecoa atau tikus di sana.
"Ckckck, mending kita turun aja yuk!" ajak Faisal hendak menggandeng tangan Nichole.
Namun, tiba tiba tangan nya terhenti saat dengan sigap Davis sudah menahan tangan Faisal di udara.
"Kak, aku hanya ingin mendekatkan diri dengan kakak ipar. Setidaknya, kalau kakak gak mau deket sama Faisal, Faisal masih bisa deket sama kakak ipar. Bukan kah begitu?" kata Faisal menyengir kuda menatap Nichole.
Sementara itu, Nichole yang di tatap dua laki laki di depan nya nampak begitu sulit berfikir. Faisal menatap nya dengan tatapan hangat menenangkan. Sedangkan Davis, menatap nya datar namun seolah begitu mencekik nya.
"A—aku akan turun nanti dengan—" Nichole bingung harus meneruskan kata kata nya.
Haruskah dirinya menyebut Davis sebagai Mas, di depan Faisal atau para keluarga Davis yang lain? Bukankah akan terasa aneh nanti nya? batin Nichole nampak bingung.
"Mandilah dulu," ucap Davis dengan nada lembut mengusap kepala Nichole, namun meski begitu ekspresi wajah nya masih datar dengan tatapan menusuk kepada Nichole.
"Ah iya, aku harus mandi. Aku baru selesai masak tadi, kamu duluan saja," kata Nichole tersenyum canggung menatap Faisal.
"Kamu bisa masak?" tanya Faisal menatap tak percaya.
"T—tentu saja bisa, sedikit hehehe," jawab Nichole menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
"Man di!" kata Davis penuh penekanan.
"Iya iya, aku mandi dulu. Kamu tunggu aku di bawah ya, Sayang!" balas Nichole tersenyum dan mengedipkan sebelah mata nya seraya menekan kan kata sayang.
Mendengar Nichole memanggil nya Sayang. Tentu saja membuat Davis seketika langsung membulatkan matanya dengan sempurna. Ia tahu, bahwa Nichole sedang menjalankan peran nya, namun dirinya belum merasa siap, hingga membuat nya mudah terkejut.
"Faisal jadi pengen cepet nikah juga, biar ada yang manggil sayang," celetuk Faisal tiba tiba membuka Davis yang tadi sempat menatap ke arah kamar nya, seketika langsung mengalihkan pandangan nya dan menatap Faisal dengan begitu tajam.
...~To be continue .. ...