Oh My Davis

Oh My Davis
Meminta restu



...~Happy Reading~...


Usai makan bersama, kini semuanya sudah berkumpul di ruang keluarga. Nichole duduk di sebelah Davis, sedangkan Faisal duduk dengan kakek Austin, dan Sandrina yang selalu berada di dekat Daris.


"Jadi, Davis. Kapan kamu bisa mulai bekerja?" tanya kakek Austin membuka suara.


"Pa! Apakah Papa yakin, kalau Davis bisa mengurus perusahaan itu? Sedangkan, selama ini saja dia tidak jelas bagaimana dan apa saja yang dia lakukan di luar sana. Bagaimana kalau dia justru akan menghancurkan perusahaan?" tanya Sandrina membuka suara.


"Bahkan, pendidikan dia saja kita tidak tahu sampai mana. Bagaimana kalau ternyata setelah dia kabur dari rumah saat itu, dia sudah tidak melanjutkan sekolah nya?" imbuh Sandrina menatap tak suka pada Davis.


Sementara itu, laki laki yang sejak tadi mendapatkan sindiran seperti itu, hanya bisa tersenyum getir tanpa berniat untuk menjawab.


"Aku yakin, bahwa Davis bisa memegang kepercayaan ku!" jawab kakek Austin dengan sangat tegas dan yakin, "Dan aku, akan segera mengalihkan saham ku atas nama Davis." imbuh nya, yang membuat mata Sandrina semakin melotot tak percaya.


"Tidak!" Sandrina berdiri dan langsung menatap ayah mertua nya, "Bagaimana bisa Papa mau mengalihkan semua saham kepada dia? Bagaimana dengan Faisal? Dia juga cucu Papa!"


"San, duduk lah," ujar Daris pelan.


"Kamu diam saja Mas. Kamu dari dulu gak pernah mikirin Faisal. Dia juga anak kamu, seharusnya kalian bersikap adil pada nya!" seru Sandrina dengan menggebu gebu.


"Ma! Faisal tidak butuh itu semua! Faisal ini calon bintang! Tanpa harta kakek, aku bisa sukses!" kata Faisal membuka suara saat melihat perdebatan yang mulai memanas.


"Baiklah," kakek Austin menarik napas nya panjang, "Karena kalian sama sama cucu laki laki. Dan kalian sudah sama sama besar dan dewasa. Mulai hari ini kakek akan menerapkan aturan baru!"


"Siapa di antara kalian yang bisa segera menikah dan memberikan ku cicit. Dialah yang berhak atas semua saham ku di perusahaan. Jadi, sekarang aku mengubah rencana ku, semua saham akan ku alihkan kepada cicit ku. Bukan cucu ku!" kata kakek Austin dengan tegas.


"Faisal, kalau kamu mau saham kakek. Segeralah menikah dan berikan kakek cucu!" imbuh nya menatap Faisal.


"Aku akan menikah besok!" ucap Davis dengan tiba tiba, "Karena tujuan ku kemari hanya ingin memperkenalkan bagaimana hancur nya keluarga ini kepada calon istri ku. Agar dia bisa bersiap siap menghadapi orang orang disini?"


Sementara itu, Nichole yang di tarik tangan nya oleh Davis menjadi berdiri. Tentu saja sangat terkejut. Mendengar kata 'Calon istri' seketika membuat seluruh bulu roma Nichole berdiri.


Ia merinding dan tidak menyangka bahwa Davis benar benar memainkan peran nya.


"Kakak yakin? Dia calon istri kakak?" tanya Faisal mengerutkan dahi nya kurang yakin.


Pasal nya, tubuh Nichole sangat lah mungil. Dan bisa di pastikan, umur nya berada di bawah nya. Di sanding kan dengan nya saja, Nichole


"Pemberkatan akan di lakukan jam sebelas siang! Datang lah sebagai saksi, tapi jika tidak datang, aku juga tidak keberatan!" ucap Davis dengan ekspresi datar nya, masih dengan menggenggam tangan Nichole.


"Dan untuk malam ini, kalian bisa tenang. Karena aku akan kembali ke Apartmen ku. Sebelum akhirnya besok aku akan mulai tinggal disini!"


Setelah mengatakan itu Davis segera membawa Nichole untuk keluar dari rumah. Meninggalkan empat orang yang tengah menatap kepergian nya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Kakek, begitukah cara kakak meminta restu dan mengundang kita? Tapi—"


"Anggap saja seperti itu," jawab kakek Austin juga bingung menanggapi perkataan Davis.


'Memang cucu kurang ajar!' umpat kakek Austin dalam hati.


'Boleh di coba!' gumam Faisal juga dalam hati membayangkan betapa keren nya sang kakak yang memiliki wajah dingin, datar namun begitu tegas dan tak terkalahkan.


...~To be continue......