
...~Happy Reading~...
Braakkk!
Davis langsung menutup pintu mobil nya dengan cukup kasar. Membuat Nichole langsung terdiam, namun lirikan matanya begitu tajam saat melirik ke arah Davis yang kini duduk di sebelah nya.
Bukan takut, justru Nichole mendengus dengan kesal lantaran menurut nya sikap Davis yang berlebihan.
"Tidak cemburu, tapi perilaku mu mengatakan seperti itu!" gumam Nichole pelan dan masih bisa di dengar oleh Davis.
"Sudah ku katakan, cemburu itu tidak pernah ada dalam kamus ku!" kata Davis datar namun penuh penekanan.
"Tapi cara kamu kaya gini itu namanya cemburu!" ucap Nichole kekeuh.
"Saat ini, kamu itu masih ber status istriku! Aku hanya tidak ingin, kau menebar pesona dengan laki laki lain! Ckck, apa kata orang nanti, kalau istriku dekat dengan laki laki lain! Apa kau mau di sebut wanita murahan!" jelas Davis panjang lebar dengan sekali tarikan napas.
Nichole terdiam, ia menatap Davis heran. Nichole yakin, bahwa laki laki itu cemburu, namun begitu sulit untuk mengaku. Namun, di lain sisi, Nichole juga merasa senang, karena ternyata secara tidak langsung, laki laki itu sudah menunjukkan perasaannya nya.
"Apa menurut mu aku murahan?" tanya Nichole menatap Davis.
Davis tidak menjawab. Ia diam, dan segera menyuruh Yudha agar segera menjalankan mobil nya. Ia memilih untuk memasang earphone di telinga nya dan kembali mengecek tablet nya.
Sementara itu, Nichole yang merasa di abaikan oleh Davis hanya bisa mendengus dan semakin kesal. Namun tak bisa berbuat apa apa. Hingga saat tiba tiba ada sebuah ide yang terlintas di pikiran nya.
Nichole melepaskan earphone yang ada di telinga Davis, hingga membuat laki laki itu langsung menoleh dan memberikan nya tatapan tajam.
"Kembalikan!" katanya datar.
"Apa yang kau lakukan!" seru Davis terkejut saat dengan tiba tiba Nichole mendudukkan dirinya di atas pangkuan Davis.
Tak hanya Davis yang terkejut, Yudha yang tengah menyetir mobil pun sampai hampir oleng saat matanya melihat kelakuan Nichole dari balik spion.
"Daripada aku hanya di judge sebagai wanita murahan. Mendingan, sekalian saja aku jadi murahan! Iya kan," kata Nichole dengan berani langsung mengalungkan kedua tangan nya pada leher Davis.
"Kamu sendiri yang bilang. Saat ini, aku masih berstatus istri kamu. Meskipun ini hanya pernikahan kontrak, tapi pernikahan kita itu sah."
Entah keberanian dari mana yang membuat Nichole semakin berani. Bahkan kini, tangan lembut nya itu sudah menjalar untuk mengusap wajah Davis, hingga membuat mata sang empu nya langsung menatap tajam.
"Kakek menginginkan cicit. Bukankah kemarin Faisal meminta izin dari mu, juga?" tanya Nichole.
"Kau menguping?" kata Davis semakin menatap tajam pada Nichole.
"Tidak, hanya saja sebelum dia berbicara padamu. Dia sudah mengatakan lebih dulu padaku," jawab Nichole dengan santai seperti tak ada beban.
"Jadi bagaimana? Kapan?" tanya Nichole lagi memberikan senyum menggoda, seperti yang sudah di ajarkan oleh Faisal beberapa hari yang lalu.
Sementara itu Davis langsung terdiam, ia merasa bahwa adik nya itu sudah benar benar gila. Tak hanya Faisal, bahkan Nichole pun juga sangat gila, menurut Davis.
Bagaimana bisa, gadis yang ia kira polos itu kini semakin berani dan bisa melakukan hal yang di luar batas. Bila biasanya Nichole hanya berani lewat kata kata, namun hari ini justru gadis itu sudah semakin berani untuk bertindak langsung.
...~To be continue... ...