Oh My Davis

Oh My Davis
Periksa



...~Happy Reading~...


Cklek!


Nichole keluar dari kamar mandi dengan wajah lemas nya. Ia menatap Davis yang juga tengah menatap ke arah nya.


"Bagaimana?" tanya Davis menghampiri Nichole.


Nichole tidak menjawab, ia langsung menyerahkan hasil tespeck itu kepada Davis lalu ia tinggalkan begitu saja untuk kembali ke tempat tidur.


Sementara itu, Davis yang di berikan tespeck oleh Nichole hanya mampu mengernyitkan dahi nya saja, hingga tiba tiba ia tersadar saat melihat adanya dua garis yang tertera di sana.


"Kamu hamil?" tanya Davis to the point, namun Nichole tidak menjawab, "Kita ke rumah sakit sekarang!"


Dan tanpa aba aba, Davis langsung mengangkat tubuh Nichole dan membawa nya ke rumah sakit. Sementara Nichole, ia hanya bisa pasrah menerima meskipun hatinya begitu dilema.


"Loh, kakak mau bawa Nichole kemana?" tanya Faisal saat melihat Davis keluar kamar dengan menggendong Nichole.


"Rumah sakit!" jawab Davis datar tanpa menghentikan langkah nya.


"Lah, kalau ujung nya ke rumah sakit, kenapa pakai manggil kamu sih?" gumam Faisal melirik ke arah sahabat nya.


"Sepertinya memang benar dugaan ku, kalau kakak ipar sedang hamil." balas Willy dengan sangat yakin.


"Semoga saja, biar semua permasalahan selesai!" kata Faisal tersenyum tipis.


"Selesai?" gumam Willy tersenyum remeh kepada Faisal, "Apakah kau yakin?"


"Jangan membahas yang tidak penting lagi. Lebih baik ayo kita pulang!" kata Faisal langsung merangkul bahu Willy seraya menuruni tangga.


"Hey, rumah mu disini! Mau pulang kemana kamu?" saut Willy langsung menggelengkan kepala nya.


"Rumah mu," jawab Faisal terkekeh.


Sementara itu, kini Davis dan Nichole sudah tiba di rumah sakit, Davis segera menggendong Nichole dan langsung membawa nya ke dalam ruang pemeriksaan.


Cklek!


Davis langsung membuka pintu ruangan itu begitu saja, tanpa perduli bahwa sang dokter masih menangani satu orang pasien lain nya.


"Maaf Tuan, tapi saya—" Dokter itu melirik ke arah pasien nya yang baru saja masuk, juga hendak berkonsultasi soal kehamilan.


"Periksa istri ku, sekarang!" ucap Davis lagi dan kini dengan penuh penekanan serta tatapan mata yang begitu tajam.


"Davis, kenapa harus begini sih!" ucap Nichole setengah berbisik menahan malu.


Bagaimana tidak malu, bila Davis langsung main terobos masuk ke ruang praktek dokter begitu saja. Tanpa membuat janji dan jadwal terlebih dulu. Bahkan, dokter itu juga sedang menangani pasien lain.


"Tidak ada Dok, saya akan mengalah. Seperti nya, mereka sudah tidak sabar," ucap seorang wanita yang hendak memeriksakan kehamilan nya tersebut.


"Maafkan saya," ujar sang dokter tidak enak.


"Cepatlah!" seru Davis tak sabar, membuat Dokter dan Nichole langsung menarik napas nya panjang.


"Dokter, maafkan suami saya?" ucap Nichole pelan saat dokter itu memeriksa nya.


"Tidak apa," jawab nya sambil tersenyum, juga menahan rasa takut karena tatapan Davis yang begitu menusuk.


Setelah beberapa saat melakukan tes dan juga USG. Kini, Nichole dan Davis sudah duduk di kursi berhadapan dengan Dokter.


"Selamat ya, usia kehamilan sudah memasuki usia tiga belas minggu," ucap dokter itu seraya memberikan sebuah print hasil USG yang tadi di lakukan.


"Tapi Dok, saya—"


"Dia memakai alat penunda kehamilan!" saut Davis dengan cepat namun datar.


"Alat apa?" tanya Dokter mengerutkan dahi nya.


"Implan," cicit Nichole begitu lirih, sedikit melirik ke arah Davis lalu kembali menundukkan kepala nya lagi.


"Kapan anda memasang nya? Boleh saya tahu, anda memasang dimana?" tanya dokter itu kini menatap Nichole dengan intens.


"D—dua bulan yang lalu. Dan di rumah sakit ini juga," jawab Nichole semakin takut saat Davis dengan tiba tiba langsung mencengkram tangan nya dengan cukup erat.


...~To be continue.... ...