
...Happy Reading......
Brukkk!
Tubuh Davis langsung tersungkur saat dengan tiba tiba, dirinya di hadang oleh beberapa anak yang lebih besar darinya.
Anak itu membuka kaca matanya, menatap beberapa kakak kelas yang masih menatap nya dengan tajam dan remeh.
"Berikan uang jajan mu!" ucap nya menodongkan tangan kepada Davis.
"Tidak ada!" jawab Davis.
Tidak ada rasa takut sedikitpun di wajah nya. Bahkan, dengan beraninya Davis berusaha bangkit dan mengabaikan kakak kelas nya.
"Mau kemana?" Kerah baju Davis dari tarik dari belakang saat Davis hendak pergi, "Ku bilang berikan uang mu!"
"Aku juga sudah bilang, aku tidak ada!" balas Davis dengan suara meninggi.
"Bohong!" saut anak itu tidak percaya, "Kalian berdua geledah tas dia!"
Tas dan seluruh badan Davis di geledah oleh tiga orang kakak kelas nya. Dan memang benar, bahwa ternyata Davis berbohong. Anak itu menemukan beberapa lembar uang yang Davis simpan di tempat pensil nya.
"Jangan!" pekik Davis berusaha merebut uang nya. Itu adalah uang yang Davis kumpulkan selama beberapa minggu. Ia rela tidak jajan, agar ia bisa membelikan kado untuk sang mama.
Benar, hari ini adalah hari ulang tahun Nichole. Davis berencana ingin membelikan mama nya bunga di hari spesial nya. Namun, ternyata semua itu sirna saat uang itu sudah di rampas oleh kakak kelas nya.
"Dasar pembohong! Kamu bilang gak ada uang! Lalu ini apa, hah!" bentak anak laki laki itu marah dan langsung mendorong tubuh Davis hingga kembali tersungkur.
"Halah, untuk apa kamu memberikan yang pada Mama mu. Dia saja tidak memberikan mu ayah lalu untuk apa kau memberikan nya uang, hahaha!" ucap anak itu seketika mengundang gelak tawa dari kedua teman nya.
"Benar Vis. Mama mu saja tidak memberikan mu Papa. Apakah kau punya Papa?" sambung salah satu anak lain nya.
"Ibuku pernah berkata, jika kau terlahir tanpa Papa. Apakah kau anak buangan?"
"Bisa jadi. Karena kamu jelek, bodoh dan juga nakal. Makanya kau di buang dan hidup sendiri dengan ibu mu!"
"Atau jangan jangan, ayahnya seorang penjahat. Di penjara dan mati di sana! Hahaha!"
Berbagai cacian dan makian Davis Terima lantaran tidak memiliki seorang ayah. Bukan tidak memiliki, namun memang ia tidak di berikan kesempatan untuk bertemu dengan ayah nya.
Tak bisa di pungkiri, hati Davis begitu sakit mendapatkan cacian seperti itu. Matanya memerah, menahan tangis. Gigi nya bergemurutuk, rahang nya mengeras dengan tangan yang terkepal begitu kuat.
"Papa ku bukan penjahat!" teriak Davis dan dengan penuh kemarahan, ia mendorong salah satu kakak kelas nya hingga ke jalan dan...
Brakkk!
Sontak kedua anak itu begitu terkejut saat melihat salah satu teman nya tertabrak oleh mobil. Sedangkan Davis, ia sama sekali tidak menyesal. Ia tidak terkejut juga, justru ia merasa senang karena melihat orang yang telah mem-bully nya tertabrak oleh mobil.
"Davis kamu pembunuh!" seru salah satu kakak kelas nya, namun Davis hanya diam menatap nya dengan datar.
"Davis!" teriak seorang wanita muda dengan rambut panjang nya segera berlari menghampiri, "Apa yang kamu lakukan!"
"Mereka yang menggangguku!" jawab Davis, lalu ia segera pergi begitu saja meninggalkan lokasi kejadian.