
...~Happy Reading~...
Nichole memang berbohong saat melakukan pemasangan Implan beberapa bulan yang lalu. Itu semua ia lakukan agar dirinya bisa menunda kehamilan. Tanpa ia sadari, bahwa saat itu sebenernya dirinya mungkin sudah mulai hamil, hanya saja tak ia rasakan. Atau menolak untuk merasakan.
Setelah beberapa saat, implan di tangan Nichole sudah di lepaskan. Keduanya pun langsung bergegas untuk pulang ke rumah. Tentu saja, masih dengan wajah Davis yang terlihat datar karena tengah menahan amarah nya.
Dokter mengatakan bahwa jika implan itu masih bertahan, maka akan membahayakan kandungan Nichole. Meskipun kandungan Nichole terbilang cukup sehat dan kuat. Namun dokter tetap menyarankan agar Nichole tidak boleh kelelahan dan juga banyak pikiran.
Itulah sebab nya, Davis sejak tadi memilih diam agar tidak melukai Nichole. Terlebih, ia sendiri masih ingat dengan jelas, bagaimana saat Chila tengah hamil dan jauh dari suaminya. selalu tertekan dan sering mengalami pendarahan.
Sebisa mungkin, Davis akan menjaga anak nya. Namun, harus bagaimana dirinya belum tahu akan hal itu. Ia hanya bisa diam, agar semua terlihat baik baik saja. Tanpa ia sadari, bahwa diam nya justru membuat keterpurukan untuk Nichole.
"Kalian darimana?" tanya kakek Austin saat melihat kedatangan Davis dan Nichole.
Nichole tidak menjawab, ia hanya menundukkan kepala nya sebentar lalu ia segera pergi ke kamar nya. Memang sejak beberapa hari terakhir dirinya sangat sensitif dan mudah menangis. Maka dari itu, ia begitu merasa sesak saat di diamkan oleh Davis.
"Rumah sakit," jawab Davis seperti biasa.
"Apakah kamu sakit? Atau Nichole sakit? Ah tadi bibi juga bilang bahwa Willy datang kemari. Ada apa?" kakek Austin menatap cucu nya dengan begitu intens.
"Sabarlah sebentar lagi, cicit yang kau inginkan akan segera lahir!" ucap Davis, lalu ia segera pergi meninggalkan kakek Austin begitu saja demi mengejar Nichole.
"Cicit?" gumam kakek Austin yang masih belum sadar, "Apakah Nichole hamil?" imbuh nya terkejut.
"Kenapa dia sangat cepat jalan nya. Apakah dia punya jurus menghilang?" gumam kakek Austin berdecak dan menggelengkan kepala nya.
Sementara itu, di dalam kamar. Nichole langsung tidur dengan menutup seluruh badan nya dengan menggunakan selimut tebal. Ia menangis dan terisak seorang diri, hingga dengan tiba tiba ia merasa bahwa ada seseorang yang membuka selimut nya dengan paksa.
"Lepas!" kata Nichole dengan suara serak nya, ia hendak menarik selimut nya lagi, namun Davis juga ikut menahan nya sehingga membuat Nichole kalah jauh.
"Kenapa harus menangis?" tanya Davis menghela napas berat, "Apa kau tahu, menangis akan membuat bayi di dalam perut mu stres!" imbuh nya.
Nichole terdiam, namun masih belum bisa menghentikan isak tangis nya. Ia sendiri juga tidak mengerti, mengapa dirinya jadi mudah menangis. Apakah pengaruh orang hamil bisa sebesar itu? batin Nichole.
"Aku ingin tidur!" balas Nichole pelan.
"Ya sudah, tidurlah. Jangan menutupi badan kamu dengan selimut atau kamu akan kesulitan bernafas. Kalau kamu sulit bernafas maka bayi mu juga akan kehabisan oksigen!" ucap Davis berusaha selembut mungkin, walaupun ekspresi wajah nya masih sulit untuk di kondisikan.
"Bayimu?" gumam Nichole pelan dan seketika itu juga ia langsung menatap tajam pada Davis.
"Ini juga bayi mu!" seru Nichole lalu ia kembali menangis dan langsung memukul Davis dengan bantal dan juga guling.
Bagaimana bisa Davis hanya menyebut bayi nya adalah bayi Nichole. Bukankah Davis yang menanam saham padanya begitu banyak. Seharusnya Davis menyebut bayi kita, mengapa harus menyebut bayi mu, dan itu sangat melukai hati Nichole.
...~To be continue......