
...~Happy Reading~...
Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, kini mobil yang di tumpangi Davis dan Nichole sudah tiba di rumah sakit. Nichole segera di bawa ke ruang bersalin, begitu juga dengan Davis yang langsung di bawa ke ruang operasi.
Tatapan Davis semakin sayu dan lemah, hatinya semakin terasa perih dan sesak ketika melihat bagaimana Nichole yang terus menjerit menahan rasa sakit karena mau melahirkan. Di usia nya yang masih sangat muda ia harus menjalani kehidupan yang begitu pelik dan pahit, dan Davis merasa begitu bersalah karena sudah gagal melindungi dan menjaga wanita itu.
"Aku sudah banyak membantu kalian. Dan sekarang aku mohon bantulah aku. Hanya kalian yang bisa ku percaya, tolong jaga mereka untuk ku." ucap Davis begitu lirih dan tersenggal ketika hendak memasuki ruang operasi.
"Kau itu bicara apa! Mereka istri dan anak mu, maka kau yang harus menjaga nya!" saut Clayton menolak keras permintaan Davis.
Bukan karena apa, entah mengapa ia memiliki firasat yang tidak baik. Dan ia tidak mau bila firasat nya benar terjadi. Clayton ingin sahabat nya kembali seperti sedia kala, hidup sehat dan bahagia bersama keluarga nya.
Susah payah dirinya mencarikan pasangan hidup untuk Davis. Membantu penyatuan antar Davis dan Nichole, dan sekarang saat Nichole hendak melahirkan, justru Davis bersikap seolah akan pergi.
Dan setelah Davis mengucapkan permintaan dan juga pesan nya. Laki laki itu langsung menutup mata nya, tepat sebelum pintu ruangan itu tertutup. Namun, meski begitu, dokter tetap berusaha keras untuk menyelamatkan pasien nya.
"Dia gapapa, dia kuat Clay!" ujar Edward menarik napas nya panjang, berharap air mata nya tidak terjun bebas membasahi wajah nya.
"Kalau sampai dia kenapa kenapa, berarti dia memang manusia! Pecundang!" cetus Clayton mengepalkan tangan nya kuat, ia mendongakkan kepala nya ke atas agar air matanya tidak jatuh.
Cklek!
Pintu ruangan terbuka. Edward dan Clayton seketika langsung beranjak dan menatap dokter itu dengan ekspresi datar nya.
"Bagaimana keadaan saudara kami?" tanya Clayton kepada dokter.
Edward dan Clayton saling menatap satu sama lain, masih sulit untuk percaya, bila ternyata Takdir memisahkan mereka secepat ini dengan Davis.
Sebenarnya, dari saat mereka melihat ekspresi wajah dokter saat membuka pintu. Keduanya sudah bisa menebak bahwa hasil akhir tidak sesuai dengan harapan mereka. Namun, mereka masih bertanya, dan kini saat mereka tahu, mereka tak bisa berkata kata.
“Apakah Tuhan sedang mengeprank kita?” Mata memang tidak bisa berbohong, meskipun wajah nya terlihat datar, namun mata keduanya nampak sudah mengembun dan berkaca kaca dengan suara yang bergetar seperti menahan tangis.
“Tidak mungkin bukan? Hah, Davis, tidak mungkin. Dia—“ Clayton sampai tidak bisa berkata kata lagi, ia terus menggelengkan kepala nya.
Tak bisa ia pungkiri, bahwa hatinya terasa begitu sakit dan sesak. Tak berbeda jauh dengan Nichole. Clayton jauh lebih dulu mengenal Davis di banding Edward apalagi Nichole. Bahkan, Clayton sudah menganggap Davis seperti saudara nya sendiri.
“Dia bukan orang yang lemah. Tapi kenapa—“
Kata kata yang Davis ucapkan saat sebelum memasuki ruangan operasi beberapa saat yang lalu. Ternyata adalah kata kata terakhir yang akan di ucapkan oleh Davis untuk mereka.
"Apa yang harus kita katakan pada Nichole?" pertanyaan dari Edward seketika membuat Clayton semakin tak bisa berkata kata.
Wanita itu juga tengah berjuang melahirkan anak pertama mereka. Apa yang akan terjadi pada Nichole bila tahu bahwa Davis tidak bisa di selamatkan?
Sanggupkah Clayton dan Edward memberikan kabar menyakitkan ini kepada Nichole?
****
...~To be continue ......