
...~Happy Reading~...
Sesuai permintaan Davis. Kini, sepulang dari kampus, Nichole segera meluncur ke Kantor Davis dengan menggunakan taxi.
"Selamat siang, apakah tuan Davis ada?" tanya Nichole kepada seorang resepsionis.
"Maaf, ada perlu apa ya? Apakah sudah membuat janji?" tanya resepsionis itu dengan sopan.
"Hemm, sudah. Semalam dia sendiri yang meminta saya untuk datang!" kata Nichole sedikit berfikir, hingga membuat wajah resepsionis itu langsung berubah.
'Wanita panggilan, ternyata. Bocah sekarang, memilih jalan instan dengan menjadi sugar baby!' gumam nya melirik sinis kepada Nichole.
Nichole mengatakan bahwa semalam Davis yang meminta nya untuk datang. Jadilah resepsionis itu berfikir bahwa keduanya habis melakukan malam panas yang begitu panjang. Dan mungkin akan mengulangi lagi di kantor. pikir nya.
"Silahkan tunggu dulu di sebelah sana. Karena saat ini, Tuan Davis sedang meeting," ujar resepsionis itu dengan senyuman paksa.
"Ah begitu, baiklah terimakasih," kata Nichole tersenyum ramah, lalu ia berjalan menuju sebuah sofa panjang yang biasa di jadikan tempat untuk menunggu.
Satu jam...
Dua jam..
Hingga tiga jam Nichole menunggu, namun tidak ada tanda tanda bahwa dirinya di suruh masuk. Ia juga hendak menghubungi nomor Davis, namun ponsel nya mati. Membuat nya merasa semakin kesal dan lelah.
Akhirnya, Nichole memutuskan untuk kembali bertanya kepada resepsionis, "Permisi, apakah masih lama?"
"Sebentar lagi, silahkan menunggu!" kata nya datar membuat Nichole semakin geram.
Namun, karena tidak ingin membuat keributan. Akhirnya Nichole mengalah dan kembali duduk di sofa. Nichole melirik ke arah jam yang berada tak jauh darinya, dimana jarum jam itu sudah menunjuk angka empat sore. Dan sebentar lagi, jam pulang kerja akan usai.
"Permisi, apakah saya boleh duduk disini?" tanya seorang laki laki meminta izin kepada Nichole.
"Ah silahkan, ini bukan milik ku!" kata Nichole hingga membuat laki laki itu terkekeh.
"Kamu bekerja disini?" tanya nya.
"Nichole!"
Belum sempat Nichole menyelesaikan perkataan nya, tiba tiba ia sudah mendengar suara pekikan bariton dari seseorang.
"Selamat sore Tuan!" sapa laki laki tadi langsung berdiri dan menunduk sopan saat melihat atasan nya sudah berdiri tak jauh dari nya.
Tanpa pamit, Nichole pun langsung berdiri dan berlari menghampiri suami nya.
"Aku menyuruh mu datang bukan untuk mencari laki laki!" kata Davis langsung mencengkram tangan Nichole.
"Sshhh sakittt!" pekik Nichole pelan sambil meringis.
"Aku menunggu mu selama tiga jam lebih! Dan kamu malah enak enakan disini sama dia!" kata Davis geram.
"A—aku tadi, aahhhh sakittt!" pekik Nichole lagi saat cengkraman tangan Davis semakin kuat.
"Lepas dulu bisa gak sih? Sakit!" keluh Nichole namun tidak di hiraukan oleh Davis, "Sadar gak sih, sifat kamu kaya gini seolah olah mengatakan kalau kamu lagi cemburu."
"Kamu cemburu melihat ku dengan karyawan mu sendiri?"
Pertanyaan dari Nichole seketika membuat David langsung melepaskan cengkraman tangan nya. Ia menatap Nichole dengan ekspresi wajah datar nya.
"Cemburu? Kata itu tidak ada di dalam kamus ku!" ucap Davis datar.
"Benarkah? Lalu apa saja yang di dalam kamus mu? Posesif? Arogan? Keras kepala? Mau menang sendiri? Kasar, dan—"
"Kita pulang!" kata Davis dengan cepat memotong ucapan Nichole dan segera menarik tangan Nichole dengan cukup kasar.
"Aku pulang dulu! Besok kita ketemu lagi, bye bye!" teriak Nichole dengan sengaja melambaikan tangan kepada laki laki tadi, hingga membuat langkah kaki Davis semakin panjang sedangkan kaki Nichole yang kecil membuat nya semakin terseret oleh Davis.
Sementara itu, laki laki yang tidak tahu siapa nama nya dan tidak mengenal siapa Nichole. Hanya bisa menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, ada rasa takut saat melihat atasan nya terlihat seperti marah padanya. Sedangkan dirinya tidak melakukan kesalahan apapun, ia hanya bisa berdoa semoga ia tidak mendapat surat pemecatan besok.
...~To be continue... ...