
...~Happy Reading~...
Beberapa tahun kemudian ....
Hari berganti hari terus Nichole lalui seorang diri bersama sang buah hati. Sejak kematian suaminya tepat di hari lahirnya sang buah hati, Nichole memilih untuk bertahan seorang diri seperti yang di inginkan Davis.
Davis ingin dirinya hidup sebagai wanita yang kuat dan mandiri untuk anak mereka. Dan itu sudah Nichole lakukan selama lima tahun terakhir ini. Nichole memilih untuk tetap menempati rumah peninggalan Davis. Rumah yang baru beberapa hari ia tempati bersama Davis namun sudah di tinggalkan begitu saja oleh sang lelaki nya.
Namun, meskipun baru beberapa hari membuat kenangan. Rasanya, Nichole sudah sangat nyaman dan masih merasakan kehangatan sosok Davis di hidup nya. Tidak ada rasa takut sedikit pun dalam benak Nichole, wanita itu kini benar benar hidup mandiri dan berhasil membesarkan anak nya.
“Nichole, apa kamu yakin tidak mau ikut kami?” tanya Shiena ketika hendak pergi.
Sesekali, dalam satu bulan. Shiena dan Clayton atau kadang Edward juga Faiz pasti akan datang untuk mengecek keadaan Nichole dan anak nya. Semua kebutuhan dan biaya hidup keduanya di tanggung oleh Edward dan juga Clayton. Walaupun wanita itu selalu menolak, namun Edward dan Clayton tetap selalu mengirimkan nya sejumlah uang setiap bulan nya.
Clayton dan Edward masih ingat bahwa Davis sempat mengatakan bahwa ia tidak rela bila Nichole dan juga anak nya sampai menerima bantuan dari keluarga Austin. Davis ingin pergi dengan membawa ketenangan, dan ia tidak mau bersangkutan lagi dengan keluarga Austin.
Bahkan, saat ia di makamkan, ia berpesan bahwa tulisan di batu nisan nya, ia tidak mau memakai nama Austin. Davis tidak mau istrinya hidup dalam bayang-bayang keluarga Austin lagi. Maka dari itu, Nichole pun juga tidak pernah mau lagi berhubungan dengan ibu mertuanya dan juga adik ipar nya.
Sang kakek sudah meninggal, begitu juga dengan suaminya. Kini, yang tersisa hanyalah ibu Sandrina dan juga Faisal.
Harta tidak bisa menjamin kebahagiaan. Nyatanya, setelah Sandrina berhasil menguasai seluruh harta Austin, dirinya hidup dalam kesepian. Ia selalu sendiri dan terpuruk dalam penyesalan.
Berulang kali, ia membujuk Nichole untuk tinggal bersama dan membawa Davis kecil bersama nya. Namun, Nichole selalu menolak dan melarang.
Hingga kini, Faisal masih hidup sendiri. Ia masih di sibukkan dengan pekerjaan nya yang terpaksa, mau tak mau ia lah yang terjun mengurus perusahaan. Impian menjadi artis nya seketika lenyap saat tragedi kala itu.
Bagi Faisal, cukup sekali ia mengenal wanita. Dan ia tidak mau lagi merasakan sakit. Itulah sebab nya, ia tidak menikah hingga kini. Ia sempat berharap bahwa anak yang di kandung oleh Kimmy bisa selamat, namun nyatanya bayi itu hanya bertahan beberapa hari saja. Karena benturan yang cukup keras saat berada di dalam kandungan, membuat bayi itu tidak bisa bertahan lama.
Itulah mengapa Nichole tidak bisa bersikap acuh dan jahat kepada Faisal dan juga Sandrina. Karena mereka juga sama sepertinya, meskipun Davis melarang nya untuk berhubungan dengan keluarga Austin lagi. Namun, Nichole tidak bisa setega itu. Dan ia merasa bahwa pilihan nya sudah lebih baik.
Ia memperbolehkan Sandrina dan Faisal menemui Davis kecil, namun tidak boleh membawa nya.
Davis Fernando, adalah nama anak yang Nichole lahirkan beberapa tahun yang lalu. Ia sengaja memberikan nama putra nya dengan nama yang sama, agar ia bisa selalu mengingat sosok suami nya dan juga ia berharap bahwa putra nya bisa sekuat ayah nya.
“Tapi Nic,” Shiena menatap istri dari sahabat suami nya ini dengan tatapan penuh iba.
Shiena tahu, bagaimana perjuangan Nichole,. Meskipun wanita itu sering memancarkan senyuman manis, namun Shiena tahu apa yang di rasakan Nichole di balik senyuman itu.
Ya, di balik senyuman dan ketegaran itu, Shiena tahu bahwa Nichole menyimpan luka yang begitu dalam, luka yang tidak bisa di sembuhkan oleh siapapun, kecuali sang pemilik nya sendiri.
Sementara itu, di luar rumah Clayton tengah mengamati kedua anak kecil yang tengah bermain di halaman depan dengan seksama.
“Davis kenapa kamu gak pindah saja sih, rumah kamu jauh banget!” keluh seorang gadis terlihat menghela napas nya berat seraya mengusap usap kepala kelinci kecil di pangkuan nya.
“Kenapa gak kamu saja yang pindah kesini?” kata Davis balik bertanya.
“Gak bisa, kak Claire nanti sekolah nya gimana kalau kita pindah?” imbuh gadis itu memanyunkan bibir nya kala mengingat sang kakak yang berada di rumah, “Pekerjaan Papi aku juga gak bisa di pindah, jadi lebih baik Davis saja yang pindah. Nanti Davis bobo nya sama Chloe deh,” imbuh gadis itu berusaha membujuk sahabat nya.
Ya, Davis dan Chloe sudah cukup dekat sejak beberapa tahun yang lalu. Karena Clayton selalu membawa si kecil untuk menjenguk Nichole dan anak nya. Berbeda dengan Claire yang sudah semakin aktif sekolah jadilah sedikit sulit untuk di ajak ajak pergi jauh..
“Kalau Davis bobo nya sama Chloe, nanti Mama nya Davis gimana? Davis gak mau tinggalin Mama,” kata anak itu menggelengkan kepala nya dan tetap kekuh bahwa ia tidak mau pindah dari rumah itu.
"Tapi kan... "
"Gak mau Chloe.. Davis mau tetap disini pokoknya!" kata anak itu dengan begitu yakin.
“Papiiii! Davis nya gak mau!” ucap Chloe langsung berlari dan menghambur ke ayah nya karena usahanya untuk membujuk gagal sudah.
Ya, Clayton dan Edward sudah sepakat untuk mengajak Nichole pindah, ke negara yang lebih dekat dengan mereka. Atau mungkin Indonesia, namun Nichole dan Davis tetap menolak dan tidak mau. Mereka berdua sudah sepakat bahwa tidak akan pernah meninggalkan rumah itu.
...~To be continue .......