
...~Happy Reading~...
"Yudha, siapkan jadwal ku hari ini." Davis terus berjalan sambil berbicara dengan Yudha di belakang nya. Namun meskipun begitu, pikiran nya terus berkelana memikirkan tentang sebuah pesan teks yang ia terima pagi tadi.
Meskipun Clayton sudah meyakinkan dirinya bahwa itu bukan lah salahnya. Namun, tetap saja, rasa bersalah terus menyelimuti hati dan pikiran nya.
Setelah beberapa tahun berlalu dirinya hidup dalam sebuah penyesalan. Dan kini, saat dirinya berhasil menutup luka itu, seolah ada yang mengorek luka itu hingga bernanah kembali.
Drrrtt... drrrtt... drttt...
Langkah kaki Davis yang hendak memasuki ruangan nya kini langsung terhenti saat mendengar suara getaran ponsel dalam saku celana nya.
'Jangan lupakan aku.'
Davis langsung meremas ponsel nya dengan sangat erat. Rahang nya mengeras dengan jantung yang berdetak begitu cepat.
"Yudha, batalkan semua acara ku hari ini. Dan jangan biarkan ada yang masuk ke dalam ruangan ku!" setelah mengatakan itu, Davis segera menutup pintu ruangan nya dengan cukup kencang hingga membuat Yudha sedikit terkejut.
Di dalam ruangan nya, Davis langsung mendudukkan dirinya di kursi. Ia menghubungi beberapa nomor anak buah nya dulu saat masih ada di Klan C. Ia ingin memastikan siapa orang yang sudah meneror nya.
"Kalian cari siapa dia. Dan aku tunggu secepat mungkin!" ucap Davis datar, lalu segera mematikan sambungan telfon nya.
Davis menyandarkan kepala nya pada sandaran kursi, lalu ia memejamkan matanya. Memijit pelipis nya yang terasa cukup pening seraya menghela napas nya berat.
Bayangan demi bayangan saat beberapa tahun yang lalu, kini kembali terngiang di kepala nya. Saat itu Davis melakukan tugas dari Clayton untuk menggagalkan sebuah transaksi ilegal yang akan di lakukan musuh nya. Hingga sebuah tragedi naas terjadi, yang membuat dirinya sampai berhenti tidak bertugas selama beberapa waktu.
Flashback...
Dorrrr!
"Miyaa!" teriak Davis yang langsung berlari ke arah seorang gadis yang hampir tergeletak karena tertembak oleh peluru beracun dari musuh nya.
Brukk!
"Bodoh!" seru Davis langsung memangku kepala gadis itu di kaki nya, "Cepat kalian kejar mereka!!" imbuh Davis menatap marah pada anak buah nya agar mengejar beberapa orang yang tersisa yang sudah berhasil melarikan diri setelah menembak Miyya.
"D—Davis... " gumam gadis itu tersenyum menatap wajah Davis.
"Sudah ku katakan, kamu diam di rumah! Tugas mu itu menjaga Shiena dan anak anak nya, bukan kesini!" kata Davis setengah berteriak dengan napas yang memburu hebat.
"A—aku juga ingin menjaga k—kamu, uhukk hukk uhukk."
"Dasar gadis bodoh! Kenapa sejak dulu kau selalu bodoh hah!" seru Davis tanpa sadar sampai meneteskan air matanya.
"J—jangan menangis," tangan mungil itu mulai bergerak, mencoba untuk mengusap air mata yang di wajah Davis walau sedikit bergetar.
"A—aku sudah lama mencari kamu. Dan sekarang, aku sudah menemukan mu, a—aku bahagia. Terimakasih karena kamu sudah menjadi seperti yang kita impikan dulu," imbuh Miyya semakin lirih menahan rasa sakit di dada nya yang terkena peluru beracun.
"Miyya, jangan tutup mata kamu! Aku mohon, jangan pergi lagi!" pekik Davis semakin panik saat melihat mata gadis di depan nya semakin melemah.
"Keinginan ku sudah tercapai. Dan aku ingin istirahat," gumam Miyya semakin lirih dan dalam hitungan detik ia sudah menghembuskan napas terakhir di pangkuan Davis.
"Aaarrrkkkkhhhhhh!" teriak Davis mendongakkan kepala nya menatap langit.