Oh My Davis

Oh My Davis
Sedikit lagi



...~Happy Reading~...


Euugghhh!


Entah siapa yang memulai lebih dulu, kini tubuh kedua insan itu sudah kembali polos setelah sang wanita baru menyelesaikan makanan nya. Davis seolah tak pernah puas dan tak memiliki hati untuk membiarkan wanitanya untuk istirahat. Dirinya selalu tergoda dan mudah sekali bangkit setiap kali melihat istrinya.


Entah siapa yang salah, Davis yang tidak bisa mengontrol diri, atau memang Nichole yang sudah salah besar karena memberikan rasa berbeda kepada Davis. Kini keduanya kembali berperang melawan rasa nikmat yang selama ini berusaha di hindari namun kini justru semakin di senangi atau mungkin akan masuk ke dalam hobi utama bagi Davis.


“Ahhh aku capek,” gumam Nichole dengan suara serak nya mendongakkan kepala.


“Sedikit lagi,” kata Davis di sela sela aktifitas nya.


“Kamu terlalu lama. Dari tadi sedikit sedikit tapi lama, ahhh!"


Tak ingin konsentrasi nya ambyar sebelum mencapai puncak. Davis pun segera membungkam Nichole dengan bibir nya. Ciuman yang cukup kasar dan menuntut, serta tangan yang tidak bisa diam, membuat Nichole yang awalnya mengeluh semakin lama menjadi mele nguh. Hingga setelah beberapa saat, Davis menepati ucapan nya yang benar benar sampai di puncak tertinggi kenikmatan atas ranjang nya.


“Terimakasih, cup.”


Meskipun Davis tergolong datar dan dingin, memiliki gengsi besar dan susah untuk jujur tentang perasaan nya. Namun, laki laki itu begitu menghormati wanita, terlebih Nichole. Setiap kali dirinya melakukan hubungan suami istri, Davis tak pernah lupa untuk mengucapkan kata terimakasih setiap kali selesai.


“Apakah kamu sudah menonton film yang ku katakan kemarin?” tanya Nichole mendongakkan kepala nya agar bisa menatap wajah Davis.


“Belum,” jawab nya seraya memejamkan mata dengan tangan yang di jadikan bantal oleh Nichole sedang satu lagi ia gunakan untuk memeluk tubuh Nichole.


“Masa? Kenapa aku gak percaya? Lalu darimana kamu dapat frekuensi untuk gaya gaya tadi?” tanya Nichole penasaran.


“Apa kamu menyukai nya?” tanya Davis langsung membuka mata, seketika membuat Nichole terdiam karena malu.


“Jangan pikirkan soal gaya. Sekarang tidur lah, besok pagi kita ke rumah sakit.” Kata Davis tanpa sadar menyunggingkan senyuman tipis di bibir nya.


“Kita jadi ke rumah sakit?” pekik Nichole pelan.


“Hemm.”


“Untuk apa?”


“Agar kamu segera hamil.”


“Apakah kamu benar menginginkan anak dari ku?” tanya Nichole pelan.


Mata Davis yang semula terpejam, kini seketika terbuka kembali. Ia menatap wajah Nichole yang terlihat bingung saat menatap nya.


“Bukankah kamu yang menginginkan nya?” kata Davis kembali membuat Nichole terdiam.


“Iya,” jawab Nichole dengan cepat, “Jadi ku rasa kita tidak perlu ke dokter. Toh, nanti juga kamu tidak akan mengurus anak itu. Sisa pernikahan kita hanya tinggal beberapa bulan lagi. Dan kalaupun nanti aku hamil, biarkan aku saja yang mengetahui nya, kita tidak perlu ke dokter.” Jelas Nichole panjang lebar, lagi lagi membuat Davis terdiam.


Entah mengapa, mendengar kata kata yang di ucapkan oleh Nichole, membuat da da Davis begitu bergemuruh. Hingga tanpa sadar rahang nya mengeras dengan tangan yang mengepal kuat. Ia seolah tidak terima mendengar perkataan dari Nichole, namun ia juga tidak bisa menjawab perkataan itu.


“Tapi aku benar benar mengucapkan terimakasih. Setidaknya, kamu melakukan nya dengan sangat lembut dan pelan, aku merasa seperti wanita yang di cintai,” imbuh Nichole kini tersenyum seraya mengusapkan tangan nya pada rahang kokoh milik Davis. Rahang yang semula begitu keras karena menahan rasa amarah, kini perlahan hilang saat tangan mungil Nichole menyentuh dan mengusap nya.


...~To be continue ........