Oh My Davis

Oh My Davis
Bukan dia



...~Happy Reading~...


Sejak kejadian malam itu, dimana Nichole kembali mengingatkan akan status pernikahan kontraknya, sifat Davis sedikit berubah padanya. Bukan semakin dingin atau datar, namun semakin aneh bagi Nichole.


“Selamat pagi kakek,” sapa Nichole saat sudah tiba di meja makan. Sejak malam itu juga, Nichole tidak pernah lagi membuatkan sarapan untuk Davis. Laki laki itu terpaksa mengalah memakan makanan yang di buatkan oleh Kimmi, karena tahu bahwa istrinya sedang sakit.


“Woahh kakak ipar ku, akhirnya kau keluar dari kandang mu. Setelah seminggu penuh kau tidak keluar kamar. Kini akhirnya kau bisa bergabung lagi di meja makan,” kata Faisal yang langsung berantusias ketika melihat keberadaan Nichole.


Ya, Nichole memang tidak bisa keluar kamar selama satu minggu penuh. Bukan karena malas, tapi memang dirinya tidak bisa. Bahkan, Davis sampai mendatangkan dokter langsung ke rumah untuk mengecek kondisi Nichole.


Bug!


“Auwhh sakitt!” pekik Faisal saat merasakan bahu nya di pukul cukup kencang oleh Nichole.


“Mulut kamu sangat berisik!” cetus Nichole berdecak.


“Sudah sudah, kenapa malah pada bertengkar sih? Oh ya, Nichole dimana Davis?” tanya kakek Austin.


“Sebentar lagi akan turun Kek,” jawab Nichole tersenyum.


“Sebagai istri, harusnya kamu menunggu suami kamu. Dan seharusnya kalian berdua, bukan sendiri sendiri.” Saut ibu Sandrina sinis.


“Iya Ibu, terimakasih atas saran nya,” Nichole tersenyum menatap ibu mertua nya, “Tapi tadi mas Davis sendiri yang meminta ku agar sarapan terlebih dulu, karena dia tahu istri tercinta nya sudah lapar.”


“Ibu kaya gak pernah muda aja sih Bu. Dulu gimana waktu Ibu dan Ayah masih pengantin baru juga? Saat akan mencetak ku? Bagaimana Ibu dan Ayah? Apakah kalian juga sampai seminggu tidak keluar kamar?” tanya faisal yang seketika membuat semua mata orang mendelik langsung menatap ke arah nya.


“Apakah pertanyaan ku salah?” imbuh nya polos.


****


‘Jangan pergi, jangan tinggalin aku.’


Tubuh Davis seketika langsung menegang saat membaca pesan teks yang di kirimkan oleh seseorang. Seseorang yang sudah cukup lama tidak pernah ia temui bahkan nama dalam ponsel itu masih sama seperti dulu.


Tangannya bergetar, ia tidak percaya bahwa nomor itu masih bisa mengirimi nya pesan lagi. Namun, sebisa mungkin ia berusaha untuk tetap tenang dan langsung menghubungi nomor tersebut.


” The number you have dialed is either inactive or out of range. Please try again later.” Hanya suara operator yang menjawab nya, secepat itu ia langsung mematikan ponsel kembali.


Davis semakin terdiam. Bayangan demi bayangan yang sudah sedang ia coba untuk lupakan, kini kembali terlintas kembali di pikiran nya. Membuat nya semakin kalut dan bingung, niat nya yang akan segera turun ke lantai bawah untuk bergabung sarapan dengan yang lain, kini ia urungkan karena ia merasa tubuh nya langsung lemas seketika.


‘Gak mungkin. Ini bukan kamu kan? Aku yakin ini bukan kamu.’ Gumam Davis meracau dengan perasaan yang semakin gelisah tak menentu.


Menarik napas nya panjang. Davis berusaha mengontrol dirinya agar tidak gugup atau cemas lagi. Ia segera menghubungi Clayton dan beberapa mantan anak buah nya untuk meminta keterangan lebih lanjut. Memastikan bahwa orang itu benar benar sudah tidak ada.


“Apa kamu yakin?” tanya Clayton di ujung seberang sana.


“D—dia baru saja mengirimi ku pesan.” Jawab Davis kembali gugup.


“Tenang lah dulu.” Clayton menghela napas nya berat, “Kamu masih belum bisa memaafkan diri kamu sendiri?”


“Clay—“


“Davis, itu bukan salah kamu. Berhentilah merasa bersalah, berdamailah dengan dirimu sendiri. Sekarang kamu sudah memiliki Nichole, lupakan dia.” Ucap Clayton dengan tegas namun tak bisa membuat Davis merasa tenang.


...~To be continue ......