Oh My Davis

Oh My Davis
Bertemu keluarga besar



...~Happy Reading~...


'Acting mu akan di mulai hari ini. Jadi, mainkan peran mu dengan baik!'


Kata kata yang Davis ucapkan beberapa jam yang lalu, selalu terngiang di kepala Nichole. Hingga gadis itu semakin di landa kebingungan. Nichole termasuk gadis yang introvert, ia sangat sulit untuk dekat dengan seseorang. Maka dari itu, ia hanya memiliki satu sahabat saja, yakni Aulia.


Menarik napas panjang, lalu Nichole menghembuskan nya perlahan. Ia menguatkan hatinya terlebih dulu, saat mobil yang ia tumpangi kini sudah tiba di sebuah rumah yang begitu besar dan mewah.


Rumah dengan luas yang mungkin hampir lima kali lipat dari rumah lama nya saat masih menjadi orang kaya. Sangat besar, dengan halaman yang begitu luas serta pagar yang menjulang tinggi. Namun terkesan sangat sepi, bahkan penjaga atau sekuriti saja tidak ada yang berjaga di depan.


"Turun," titah Davis masih dengan ekspresi wajah datar nya seraya membukakan pintu untuk Nichole.


'Bagaimana aku bisa berpura pura mencintainya, kalau dia sendiri kaku bin datar begitu.' gumam Nichole dalam hati nya berdecak.


"Gandeng tangan ku!" kata Davis lagi, membuat Nichole seketika langsung mengerutkan dahi nya. "Dan tersenyumlah."


Ini sungguh gila, bagaimana bisa dirinya di paksa untuk tersenyum, sementara Davis sendiri masih memasang wajah datar nya. Apakah dia waras? batin Nichole ingin mengumpat kasar.


"Jangan mengumpat ku! Mainkan saja peran mu dengan baik!" kata Davis masih menatap datar ke depan.


"Selamat datang Tuan muda. Anda sudah di tunggu oleh Tuan Daris dan Tuan Austin, di meja makan," ucap seorang pelayan yang membukakan pintu untuk Davis dan Nichole.


Davis pun segera melenggang masuk dengan menggandeng tangan Nichole. Saat hendak menuju meja makan, tiba tiba langkah nya terhenti saat melihat seorang wanita paruh baya yang masih terlihat muda sedang menuruni tangga dengan mata yang terus menatap ke arah nya.


"Selamat siang, Tante. Saya—" Nichole hendak menyapa wanita tersebut, namun tiba tiba Davis menahan tangan Nichole dan membawa nya menuju meja makan tanpa memperdulikan wanita tersebut.


"Akhirnya kau datang juga," ucap kakek Austin langsung berdiri menyambut kedatangan cucu nya.


"Aku pulang, bukan datang!" balas Davis dengan raut wajah datar nya.


Sementara itu, seorang pria paruh baya yang sejak tadi diam di kursi nya. Hanya bisa menatap Davis tanpa berani menghampiri.


"Ah, jadi ini tamu Ayah?" tanya wanita tadi yang baru ikut bergabung duduk di sebelah sang suami.


"Aku bukan tamu disini!" ucap Davis datar namun tatapan nya begitu tajam saat menatap wanita di depan nya.


"Ah Ibu lupa," katanya dengan tersenyum penuh arti kepada Davis.


"Ibu ku sudah meninggal!" balas Davis, seketika membuat wanita keturunan Jawa itu menatap kesal.


"Sudahlah," gumam Daris menggelengkan kepala nya kepada sang istri.


Davis yang melihat bagaimana ayah nya lebih membela wanita nya, tentu saja semakin muak dan ingin sekali menghancurkan seluruh benda di depan nya. Namun, ia berusaha menahan karena tidak ingin ada keributan di depan sang kakek.


"Baiklah, karena semua sudah berkumpul. Jadi aku akan memberikan pengumuman penting!" ucap kakek Austin menarik napas nya panjang.


"Mulai besok, Davis akan mengambil alih perusahaan. Aku sudah terlalu tua untuk mengurus nya. Sedangkan Daris, sedang sakit seperti ini, jadi—"


"Bagaimana dengan Faisal? Kenapa bukan dia?" tanya Sandrina langsung memotong ucapan Kakek Austin.


"Dia masih kuliah. Aku mau dia fokus dengan pendidikan nya dulu!" jawab kakek Austin kembali menghela napas berat.


"Aku setuju!" seru seorang pemuda yang baru saja tiba dengan wajah sumringah nya. Pemuda itu segera mempercepat langkah nya saat melihat sosok laki laki yang sedang duduk membelakangi nya.


...~To be continue... ...