
...~Happy Reading~...
Dengan langkah kaki lebar dan panjang nya, Davis melangkah menyusuri setiap lorong rumah sakit dengan begitu tergesa gesa. Nafas nya sudah memburu sejak tadi karena terus berlari menuju ruangan dimana istrinya berada.
"Dimana istriku?" tanya Davis dengan raut wajah menahan marah nya menatap tiga orang yang berada di kursi tunggu.
"Masih di dalam, Dokter masih—" jawab ayah Daris, namun harus terhenti saat dengan tiba tiba Davis justru langsung menghampiri ibu Sandrina.
"Apa ini ulah mu, hah!" bentak Davis langsung menatap tajam pada ibu tirinya, "Segitunya kah kau membenci ku? Sangat ingin kah, kau menguasai semua harta itu? Tidak rela bila istriku hamil? Jawab!"
"Sepertinya aku salah sudah menganggap mu remeh selama ini!" imbuh Davis dengan napas yang memburu hebat.
"Aku memang membenci kamu dan istrimu. Tapi aku sama sekali tidak pernah memiliki pikiran sejauh itu!" jawab ibu Sandrina dengan lantang ia membalas tatapan tajam putra dari suami nya.
"Cih! Apa kau pikir aku percaya? Iblis seperti mu, tidak pantas berlagak baik seperti itu!"
"Kau sebut aku iblis, lantas kau apa?" kata ibu Sandrina dengan berani.
"Davis cukup! dan kamu juga berhenti!" ucap ayah Daris segera menarik tangan istrinya dan menaruh di belakang tubuh nya.
"Kakak... " panggil Faisal yang baru saja tiba tak jauh dari tempat Davis berdiri. Tentu saja ia mendengar perdebatan Davis dengan ibu nya.
Meskipun Faisal juga tidak menyukai ibu nya. Namun, Faisal percaya bahwa ibu nya tidak mungkin sampai hati untuk melukai Nichole dan bayi nya.
"Ibu, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Faisal. menatap ibu nya.
"Mana ku tahu!" jawab ibu Sandrina acuh, "Aku hanya ingin makan siang. Dia tiba tiba jatuh dan menjerit, keluar darah. Lalu salah ku dimana?"
"Masih untung aku mau membawanya kesini. Kalau tidak—" Ibu Sandrina melirik ke arah Davis yang terlihat tidak mempercayai ucapan nya.
"Pergi kalian semua dari sini!" usir Davis memberikan tatapan tajam pada beberapa orang di sekitar nya.
"Pulang lah Kek. Jaga kesehatan mu!" ucap Davis segera memotong ucapan kakek Austin.
Tak ingin terus berdebat, Davis pun segera memasuki ruang penanganan dimana istrinya sedang di tangani. Ia tidak perduli, bila itu di larang. Karena saat ini yang ada di pikiran nya hanya keselamatan istri dan anak nya.
"Maaf Tuan, anda tidak bisa masuk kemari!" ujar seorang suster menahan agar Davis tidak masuk lebih dalam lagi.
"Aku ingin melihat istri ku!" ucap Davis datar.
"Tapi pasien sedang di tangani Dokter. Tolong percayakan kepada kami, dan silahkan keluar!" ujar suster itu lagi seraya menunjuk pintu keluar.
Bukan Davis namanya, bila ia langsung menuruti perintah orang lain begitu saja. Bukan pergi, justru laki laki itu malah mendorong suster itu dan menerobos masuk ke dalam.
Tentu saja hal itu membuat dokter yang tengah menangani Nichole menjadi terkejut dan sempat hampir kehilangan konsentrasi.
"Tuan—"
"Lanjutkan pekerjaan kalian. Aku hanya ingin menemani nya," ucap Davis dengan raut wajah datar nya.
Davis mendekati brankar Nichole, menatap wajah wanita yang tengah mengandung anak nya itu berbaring tak berdaya dengan beberapa selang di hidung serta tangan nya. Matanya terpejam dengan raut wajah yang sangat pucat karena kehilangan banyak darah.
Davis bisa melihat dokter dan suster begitu sibuk mencoba untuk menghentikan pendarahan di rahim Nichole. Bahkan, salah seorang suster harus bolak balik untuk mengganti kantung darah. Membuat Davis semakin marah dan mengepalkan tangan nya.
"Selamatkan istri dan anak ku. Sampai mereka terluka, maka kalian juga akan terluka!" ancam Davis seketika membuat aktivitas tangan mereka berhenti.
Hanya beberapa detik, lalu mereka kembali tersadar dan segera melanjutkan pekerjaan nya.
Sebenarnya, dokter di sana sangat terganggu dengan adanya Davis di ruangan itu. Namun, mereka tidak memiliki pilihan lain.
...~To be continue... ...