
...~Happy Reading~...
"Davis, jadi kapan kau akan memberikan ku cicit? Usia pernikahan mu sudah hampir satu tahun, tapi istri mu belum juga hamil," ucap kakek Austin dengan tiba tiba hingga membuat Davis yang tengah mengunyah makanan nya, seketika langsung tersedak.
Uhukkk hukkk uhukkk
"Pelan pelan," ujar Nichole segera memberikan minuman kepada Davis.
"Kakek, kita ini hanya manusia biasa. Kami pun sudah berusaha setiap hari, pagi siang bahkan malam tiada henti. Tapi memang semua sudah di atur oleh Tuhan. Kakek sabar ya," jawab Nichole dengan begitu santai dan menatap kakek mertua nya.
"Sabar sampai kapan? Umur ku sudah tidak muda lagi, dan juga bukankah kamu waktu itu sudah pergi ke dokter untuk konsultasi? Mengapa belum hamil juga?" kata kakek Austin berdecak.
"Percuma kalian menikah kalau sampai sekarang belum ada tanda tanda hamil juga!" Setelah mengatakan itu, kakek Austin pun segera pergi meninggalkan meja makan.
Raut wajah nya terlihat begitu kecewa, hingga membuat Davis juga Faisal menatap tak tega.
"Faisal, lebih baik kamu saja yang segera menikah. Berikan kakek mu itu cicit dan Ibu yakin, dia akan senang!" saut ibu Sandrina dengan tersenyum penuh arti.
"Apakah Ibu yakin, bila Faisal menikah dan langsung bisa membuat istri nya hamil?" kata Nichole dengan senyuman khas nya menatap sang ibu mertua, "Bagaimana kalau istrinya Faisal sama seperti ku?"
"Tidak mungkin!" jawab ibu Sandrina dengan cepat, "Aku yakin, Faisal akan lebih unggul dari suami kamu. Dan aku yakin, bahwa bibit Faisal tidak akan meragukan."
"Oh, jadi maksud Ibu, benih suami ku tidak unggul?" kata Nichole dengan sinis, "Apakah Ibu sadar, ucapan Ibu itu sama saja dengan menghina suami ku."
Seketika itu juga, Ibu Sandrina langsung melirik ke arah Davis dan juga Daris yang tengah menatap nya dengan datar.
Ibu Sandrina dan ayah Daris pun juga segera pergi meninggalkan meja makan. Dan kini, di sana hanya tersisa Nichole dan juga Faisal.
"Ada apa?" tanya Faisal to the point.
"Tidak!" jawab Nichole datar dan menggelengkan kepala nya.
Faisal langsung menghela napas berat, "Apa kamu meminum pil petunda kehamilan?" tebak Faisal.
"Tidak juga," jawab Nichole lagi dengan jujur.
Dirinya memang tidak mengkonsumsi obat penunda kehamilan, namun dirinya memasang alat kontrasepsi berbentuk implan di lengan nya.
Nichole memang sengaja memasang alat itu agar dirinya tidak hamil. Memang benar, awalnya dirinya sangat ingin hamil anak Davis, ia berharap bahwa rumah tangga nya bisa selamat.
Namun, harapan nya itu pupus saat Davis tidak akan bisa mencintai nya. Setelah hampir sembilan bulan usia pernikahan mereka, Davis sama sekali tidak bisa di tebak, membuat Nichole ragu dan akhirnya memutuskan untuk memasang KB secara diam diam.
Terlebih saat Nichole tahu bahwa Davis masih mencari tau soal wanita dari masa lalu nya, yang bernama Miyya. Yang Nichole ketahui bahwa dia adalah cinta pertama Davis bahkan sejak kecil remaja.
"Tidak mungkin ada masalah sama kalian berdua kan? Maksud ku, kalian sama sama sehat kan?" tanya Faisal lagi, dan langsung di balas anggukan kepala oleh Nichole.
"Sudahlah, mungkin benar yang di katakan sama ibu mu. Lebih baik kau saja yang menikah dan punya anak. Aku lelah, aku akan istirahat dulu sekarang," ucap Nichole lalu segera beranjak dari kursi nya dan pergi ke kamar.
...~To be continue... ...