
...~Happy Reading~...
Cklek!
Nichole langsung mengalihkan pandangan nya ke arah pintu, dimana seorang laki laki sedang berdiri menatap nya yang hendak mengambil sebuah ponsel di atas meja.
“Kenapa balik?” tanya Nichole, hanya beberapa detik lalu ia tersadar, “Ah iya, mau ambil ponsel?”
“Tidak!” jawab laki laki yang tak lain dan tak bukan, ialah suami Nichole, Davis.
“Lalu?” tanya Nichole mengerutkan dahi nya.
Davis tidak menjawab pertanyaan Nichole, laki laki itu langsung berjalan menuju walk in closed nya dan mengambil sesuatu di sana. Dan setelah beberapa saat, Davis kembali keluar dan hendak pergi, sebelum suara Nichole berhasil menghentikan langkah nya.
“Ponsel mu?” kata Nichole berjalan membawakan ponsel milik Davis.
“Itu milik mu! Dan jangan mengabaikan nya!” Setelah mengatakan itu, Davis pun kembali melanjutkan langkah nya dan pergi untuk kembali ke kantor.
“Milik ku? Kapan aku beli ponsel?’ gumam Nichole bingung seraya memegang ponsel.
Karena penasaran, Nichole pun membuka ponsel itu yang ternyata memang tidak di kunci.Mata Nichole langsung mendelik saat melihat layar ponsel itu, dimana ternyata itu adalah foto pernikahan nya dengan Davis.
Tak hanya itu, ternyata suara getaran ponsel tadi adalah panggilan telfon dari Davis sendiri dari ponsel nya. Dan, hal yang tak terduga untuk Nichole ialah, nama Davis di ponsel itu ialah ‘My Husband’.
‘Siapa yang menyeting ponsel ini? Kayaknya gak mungkin kalau dia sendiri?’ gumam Nichole begitu syok melihat ponsel baru nya.
Dan memang benar, bahwa ponsel itu memang di beli oleh Davis. Namun, yang mengisi dan menyeting semuanya adalah Faisal. Dengan terpaksa, Davis meminta tolong kepada Faisal untuk mencarikan ponsel untuk Nichole. Karena Davis baru ingat bahwa istrinya belum memiliki ponsel.
‘Atau memang dia sangat menginginkan seorang istri? Ckckck, tapi kenapa dia malah mengontrak ku setahu kalau memang mau punya istri? Ah jangan jangan, dia hanya ingin membuat kenangan atau sebatas pengalaman sudah pernah memiliki istri. Ckckck, dasar kulkas!’ gumam Nichole berdecak.
Ia tidak berniat untuk mengganti wallpaper atau nama kontak Davis di ponsel nya. Ia hanya mengangkat kedua bahu nya cuek, lalu ia kembai merebahkan tubuh nya di atas tempat tidur, karena ia merasa sangat lelah.
Tok .. Tok ... Tok ..
Baru saja, Nichole hendak memejamkan mata. Lagi lagi harus di urungkan karena mendengar suara ketukan pintu. Membuat nya sedikit mendengus dan merasa kesal. Dan dengan terpaksa, Nichole pun bangkit dari tempat tidur untuk membukakan pintu.
Cklek!
“Halo kakak ipar?” sapa seorang pemuda dengan bibir melengkung nya membentuk sebuah senyuman.
Ya, dialah Faisal. Adik ipar Nichole, yang entah mengapa laki laki itu tidak pergi kuliah, justru malah mengganggu nya saat hendak istirahat.
“Ada apa?” tanya Nichole menghela napas nya berat.
“Ayah ingin bertemu dengan mu, yuk.” Ajak Faisal hendak menggandeng tangan Nichole, namun gadis itu menggelengkan kepala nya.
“Aku bisa jalan sendiri,” ucap Nichole menolak untuk di gandeng, “Dimana?” tanya nya lagi lalu ia berjalan mendahului Faisal.
“Ada di ruang baca!” Faisal mengajak Nichole untuk menemui ayah Daris di ruang baca. Dimana ternyata di sana juga ada ibu Sandrina yang sedang menikmati secangkir teh nya.
‘Apakah aku akan di sidang? Kenapa harus keroyokan begini? Kakek dan Davis tidak ada, astaga. Jadi apa aku nanti?’ gumam Nichole sedikit gugup ketika memasuki ruang baca.
...~To be continue ......