
Masih Pov Mas Abhi ya?
Ku ayunkan kakiku kembali,menuju ruangan Istriku di rawat. Ada yang berdenyut di dalam dada ini. Kenapa justru kebahagianku dihancurkan oleh keluarga ku sendiri.Entahlah...
Apakah keputusanku ini sudah benar atau tidak? Tapi setidaknya Tante Rosita memang harus di beri pelajaran. Kalau tidak, mungkin dia akan terus menerus berbuat semena-mena terhadap orang lain.
Kenapa juga Tante Rosita harus memiliki sikap yang jauh berbeda dengan Mira. Kalau saja sedikit saja Tante Rosita mempunyai sikap lemah lembutnya Mira mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.
Hah...
Ku duduk 'kan sebentar diri ini di Koridor rumah sakit. Masih sedikit tidak menyangka aku bisa melakukan semua ini. Tante Rosita adalah satu-satunya keluarga mama yang ada di negara ini. Makanya mama masih berusaha membujuk ku untuk memaafkan nya. Makanya akupun sedikit meragu.
Lalu ku yakinkan hatiku 'Kenapa tidak? Toh mereka juga tidak memperdulikan perasaan ku saat menyakiti orang tersayangku. Kalau saja Tante Rosita segera minta maaf dan menyadari kesalahannya mungkin aku akan pikir-pikir kembali. Lha ini? Kalau saja tak ku cabut investasi itu mungkin Tante Rosita gak akan pernah datang'
Setelah yakin aku pun kembali melanjutkan langkahku ke ruangan istriku.
"Mas Abhi, " teriak seorang perempuan.
Segera aku toleh 'kan kepalaku ke belakang.
"Hana, " balasku.
Hana berlari kecil ke arahku. Saat ini sudah tidak ada lagi desiran aneh di hatiku untuknya. Bagiku saat ini status Hana adalah mantan istriku dan hanya mama Gendis saja.
Tidak ada hal yang spesial lagi. Beda dengan kedatangan Hana yang pertama kali. Saat itu aku masih ragu. Tapi kali ini aku sudah sangat yakin bahwa cintaku hanya untuk Binar semata.
"Sedang apa kamu kesini? Penyakit kamu tidak kambuh bukan? " tanyaku.
Hanya sekedar basa-basi. Tidak mungkin juga aku akan berlari terbirit-birit saat melihatnya. Masih jelas di ingatanku bagaimana cemburunya Binar dengan Hana. Meskipun yang terucap di bibirnya adalah baik-baik saja. Tetap saja jika berurusan dengan Hana pasti bawaannya cemburuan.
Hana tampak menggeleng kan kepalanya.
"Maaf aku baru bisa datang, aku baru saja dengar dari Dokter Randy jika Binar mengalami kecelakaan. Makanya aku langsung kemari, " ucapnya.
"Kamu mau jenguk Binar, Han? "
Hana lagi-lagi mengangguk.
"Ayo, " Ajakku
Hana mengikuti ku dari belakang. Begitu sampai di depan pintu. Aku meminta Hana untuk menunggu. Hanya boleh dua orang saja yang memasuk, i ruangan Binar. Sementara ada mama di dalam. Makanya aku meminta Hana menunggu diluar dan berniat masuk dulu lalu meminta mama untuk keluar sebentar.
"Ma, " panggilku pada perempuan yang sudah melahirkan ku itu. Terlihat mama yang sedang menatap ke arah Binar kini beralih menatap ku saat aku memamggilnya. Mama hanya diam saja dan aku langsung saja faham.Mungkin Tante Rosita sudah menghubunginya.
Inikah alasannya mama memintaku turun untuk makan tadi?
"Sudah Abhi katakan , Ma. Suruh Tante Rosita datang kembali saat Istri Abhi sehat nanti. Atau jika Binar tidak bisa di sembuhkan. Jangan tunjukkan wajahnya di hadapan Abhi. Jika tidak ingin hal buruk menimpanya. "
Daripada mama susah-susah bertanya lebih baik langsung aku jawab saja. Aku tau mama juga kepikiran tentang ini. Tapi keputusan ku pun sudah bulat.
"Mama dukung kamu Bhi...Hanya saja mama juga tidak bisa mengabaikan sepupu mama itu. "
Ku usap pundak mama.
"Sekali-kali memang harus di beri pelajaran , Ma. "
"Ya, kamu benar. "
"Ada Hana mau mengunjungi Binar , Ma, "tambah ku
" Kalau gitu mama keluar dulu. Mau menemui tante kamu itu. Siapa tau dia benar-benar bertaubat. Jangan CLBK lagi loh sama Hana. Mama gak mau kehilangan menantu mama, "ucap mama dengan candaannya, meskipun hatinya juga sedang tidak baik-baik saja dan aku hanya tersenyum.
Tidak akan pernah lagi ma.
Setelahnya mama mengambil tas nya dan keluar ruangan. Setelah sebelumnya mereka saling sapa dulu baru kemudian mama pergi.
Baru setelah itu Hana masuk kedalam.Hana sempat terdiam saat melihat kondisi Binar.
"Bagaimana ceritanya Binar bisa seperti ini mas? " tanya Hana ketika lama terdiam. Sudah aku duga dia pasti penasaran dengan kejadian naas itu.
"Jangan mengatakan seperti itu ,Mas. Aku yakin kamu pasti jagain Binar dengan baik. Ini musibah, jangan kamu bilang ini kesalahan kamu. " ucapnya.
Bisakah kamu mengatakan ini bukan kesalahanku saat sudah tau semuanya.Walaupun sebenarnya memang bukan. Tante Rosita lah yang seharusnya bertanggung jawab.Tapi ...entah kenapa aku masih merasa sangat bersalah.
Lalu aku ceritakan pada Hana kejadian yang sebenernya. Hana sempat menutup mulutnya tak percaya.
"Ternyata perkara mantan bisa jadi masalah sebesar ini ya mas. Lalu keadaan anak kamu bagaimana? " tanya Hana
"Namanya Dewa, Han, " ucapku
"Anak kamu cowok , Mas. Kamu pasti bahagia sekali punya Dewa. Dari dulu kamu 'kan memang pengen banget punya anak cowok. "
Ucapan Hana mengingatkanku saat Hana hamil dulu. Dulu memang aku menginginkan anak pertama ku adalah laki-laki. Tapi saat Gendis lahir aku pun ternyata sangat bahagia. Bahkan setelahnya aku berjanji tidak akan mematok jenis kelamin yang di beri untuk anak kami selanjutnya.Sayangnya kami telah usai.
"Sekarang yang aku inginkan adalah Binar segera sadar, Han, " ucapku sedih.
Hana mendekat ke arah ku dan menepuk pundakku.
"Kamu juga harus kuat buat Dewa dan Gendis, Mas. Mereka juga membutuhkan kamu. Jangan buat mereka kehilangan sosok seorang ayah dan ibunya. Binar sedang sakit maka kamu yang harus jadi ayah sekaligus anak buat mereka, " ucap Hana.
"Sekarang kamu sudah ada di sini 'kan? Untuk sementara waktu kamu bisa jagain Gen... "
Ucapan ku terhenti seiring aku lihat jari Binar yang bergerak. Apakah tandanya Binar akan sadar tapi kenapa sekarang dia kembali diam. Entah perasaan ku atau tidak. Kehadiran Hana dan ucaapnku yang sangat mudah di salah artikan itu membuat Binar merespon.
"Untuk sementara waktu kamu bisa jagain Gendis dan Dewa sebagai ibunya, " ucapku sengaja. Tampak Hana pun bingung dengan ucapanku. Baru setelah aku menunjuk ke arah jari Binar yang kembali bergerak dia mengerti.
Senyumku kini kembali mengembang. Ada yang tidak pernah aku duga. Ternyata kehadiran Hana membuat motivasi Binar untuk sadar kembali. Kalau saja aku tau kehadiran Hana cepat membuat perubahan ini. Sudah sejak awal aku hadirkan mantan istri ku ini.
Segera aku memberi kode pada Hana untuk meneruskan sandiwara kami.
"Eh.. em... tentu saja , Mas. Aku pasti akan jagain mereka selagi Binar belum sadarkan diri. Tapi bagaimana jika Binar gak sadar-sadar , Mas? "
Meski sempat gelagapan di awal. Selanjutnya Hana berhasil memainkan perannya.
"Kemungkinan terburuknya aku akan jadi duda lagi. Selanjutnya tinggal nyari perempuan yang nguber-nguber aku lagi, " ucapku sambil perlahan memencet tombol yang mengarah ke ruangan dokter. Karena aku melihat gerakan jari Binar semakin sering saja.
Duda..
Perempuan lain...
Mana mungkin...
Hanya Binar perempuan yang paling aku cinta. Hanya dia satu-satunya perempuan yang boleh nguber diriku di saat statusku duda
"Kalau kamu mau , Mas. Aku siap kembali padamu kalau terjadi hal yang tidak diinginkan dengan istri kamu itu, " ucap Hana.
Bukan dia yang mau ngomong itu. Tapi sengaja aku suruh Hana membaca kalimat yang sengaja aku tulus di layar handphonku.
"Boleh, " jawabku acuh.
Sesuai dugaanku mata indah yang sudah aku rindukan sejak dua minggu itu kini terbuka lebar.
'Ya.. ampun Bee... jadi kamu sadarnya karena kamu cemburu sama Hana'
*
*
*
Hadeh... Binar... sempat-sempatnya koma cemburu gitu. Pasti nih kalau mas Abhi niat selingkuh langsung peka banget. Hi... Hi...
Tinggal dikit lagi mau di tamatin ya kak.
Untuk kisah selanjutnya bakalan dibikin gemes ketawa dan juga mewek sama Vika, Vano dan juga bang Wawan. Hi.. Hi...