
Abhi Pov
"Mira itu siapa sih mas? " Satu pertanyaan akhirnya keluar juga dari bibir Binar. Hampir aku dibuat bingung dengan tingkahnya yang jadi pendiam sejak memasuki ruangan ku tadi. Agak aneh karena biasanya Gendis dan Binar yang sama-sama cerewet apalagi saat mereka bersama.
Jadi alasannya cemburu.....
Ok...
Kenapa tidak sekalian saja aku kerjain perempuan yang selalu mengerjai ku ini. Apa dia kira hanya dia saja yang bisa.
"Kenapa gak nanya sendiri saja tadi? "
"Aku nanya lo mas, kenapa malah balik nanya? " Ucapnya sewot.
Ternyata kalau dia sewot gitu lebih lucu. Dibanding tiap hari yang cerewet dan bikin kupingku pengang.
"Biar akrab aja. Jadi aku kan gak perlu repot-repot" Jawabku ambigu yang sontak membua matanya melotot kearah ku.
Ha.. ha..
Asli.. saat melihat Binar yang sedang cemburu seperti saat ini membuatku jadi gemas padanya. Biasanya aku tidak akan pernah perduli padanya, tapi entah kenapa hari ini aku jadi suka mengganggunya. Lebih tepatnya balas dendam pada perempuan bar-bar yang sayangnya sudah ku peristri ini.
"Maksudnya mas ngomong biar akrab gimana? Mas gak ada hubungan dengan Mira-mira itu kan? Bukan selingkuhan kamu kan mas? "Lagi-lagi dia menyelidiki.
Baru nemu aku perempuan seperti ini. Biasanya perempuan yang curiga terhadap suaminya akan menyelidiki secara diam-diam. Lha ini malah tanya langsung. Memangnya dia gak takut aku berbohong atau sekedar ngeles apa?
Makin lama aku tambah pengen ngakak saja. Sabar Abhi... kalau sampai aku tertawa saat ini bisa-bisa rencanaku gagal total.
Untungnya saat ini Gendis sedang sibuk nonton kartun di laptop ku jadi Gendis tidak akan tau papanya sedang menggoda bundanya Gendis.Dan dia tidak akan membela bundanya.
"Makanya aku suruh kamu kenalan dan nanya langsung"
"Mas.... "Rengek nya
" Kamu berani nanya langsung ke aku kan? Berarti berani nanya langsung ke dia. Biasanya kalau sesama perempuan itu pasti lebih jujur. Sebentar aku suruh Mira kesini"
Segera aku mengangkat gagang telpon dan meminta Mira datang kesini
"Mira.. keruangan ku sek-"
Belum selesai aku berbicara, Binar udah merebut gagang telpon itu dan meletakkan di tempatnya
"Gak usah lah mas, aku percaya sama kamu. Kalaupun nanti ada bukti kamu dua in aku dengan perempuan manapun aku yang akan mundur"
Kenapa tiba-tiba dada ku berdenyut nyeri mendengar deretan kalimat yang diucapkan Binar padaku. Dia anggap apa diriku? Tukang selingkuh? Apa dia fikir bisa masuk dalam kehidupan ku dan Gendis kemudian meninggalkan kami begitu saja. Jangan harap...
Eh..
Dari mana aku punya fikiran seperti ini. Bukankah aku menikahinya karena Gendis yang memang menginginkan Binar menjadi bundanya. Maka aku akan menahannya selama Gendis membutuhkannya.Sedangkan diriku...
Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai seorang suami. Karena sampai saat ini cinta Hana tak pernah tergeser dari hatiku.
"Kamu gak akan mampu meninggalkanku" Ucapku kembali datar.
Binar tersenyum, entah apa maksud dari senyumannya itu.
"Aku memang mencintaimu mas...sangat malahan. Tapi percayalah aku tak pernah mau di madu dengan perempuan manapun. Kalaupun waktu itu aku bersedia dinikahi oleh juragan Santos, ya..karena hutang keluarga kami saja. Makanya biarkan aku bekerja. Jika suatu hari nanti kamu benar melakukan itu. Aku sudah tidak berhutang padamu dan aku bisa pergi tanpa beban"
Untuk pertama kalinya ku lihat keseriusan di matanya. Binar yang biasa nya terlihat celengekan bisa juga bicara dengan serius. Kenapa aku tidak suka saat dia berbicara seperti itu. Seakan-akan jika suatu hari nanti aku akan berselingkuh.
Ingin ku bantah tapi Binar segera berdiri dan mendekati Gendis. Perempuan itu seolah-olah tak pernah berbicara padaku dan terlihat tertawa bersama Gendis. Yang lebih parahnya dia mengabaikan ku...
Namun sayang...
Pembicaraan ku dengan Binar tadi benar-benar mengusik pikiran ku. Bahkan setelah Gendis dan Binar berpamitan pulang fikiran ku pun masih tidak tenang dan tidak bisa berkonsentrasi bekerja.
Argh... sial..
Kenapa melihat wajah Binar yang sedih seperti itu membuatku merasa bersalah. Tidak...
Aku yakinkan diriku jika aku tak pernah menyakitinya. Bahkan sebagai suami aku sudah memberi nya nafkah lahir dan batin.Lagi pula ego laki-laki lebih besar kan? Untuk apa aku perduli dengan Binar. Biarkan saja dia berfikir seperti itu. Selama Gendis membutuhkannya aku akan menahannya ada di sisiku. Ya... hanya demi Gendis.
Malam harinya...
Ketika aku pulang tak kutemui sosok yang tiba-tiba berlari menghampiriku dan mencium tangan ku.Biasanya jam berapapun aku pulang Binar pasti mentambutku. Apa dia masih marah denganku? Tapi kan aku tidak melakukan apapun?
"Non Binar tadi pamit mbok tidur lebih awal tuan katanya kepalanya sedikit sakit" Ucap mbok Sumi yang tiba-tiba menghampiri ku. Apa mbok Sumi bisa membaca fikiran ku ya?
"Biarkan saja mbok, lagi pula ini sudah malam. Kenapa mbok Sumi juga belum tidur? " Tanyaku
"Anu.. anu.. tuan... Sebenarnya mbok nungguin tuan. Takutnya nanti tuan nyariin Non Binar. Kan biasanya Non Binar nungguin tuan. Apa tuan perlu disiapkan makan malam?"
"Saya sudah makan malam diluar mbok? " Jawabku
"Ya sudah kalau gitu mbok kembali ke kamar dulu tuan"
Aku hanya mengangguk.
Setelahnya ku langkahkan kakiku menuju kamarku. Rasanya begitu hampa saat memasuki kamarku. Bahkan saat aku selesai mandi dan merebahkan tubuh ku diatas kasur. Rasa-rasanya masih begitu hampa dan ada yang kurang.
Argh... sial...
Kenapa tubuh Binar jadi terbayang dimataku malam ini. Apa karena aku yang tidak tidur seranjang dengannya malam ini? Tidak Abhi..
Mungkin itu hanya fikiran mu saja. Semakin malam aku semakin tak bisa tidur. Mau tak mau aku pun memasuki kamar Binar.
Cek lek...
Begitu aku membuka pintu kamarnya kulihat Binar yang tertidur dengan tenang. Perlahan aku mendekatinya dan ikut merebahkan diriku disampingnya. Ku tatap dalam wajah yang sudah hampir sebulan menemaniku.
"Cantik"
Ya...
Kuakui Binar memang cantik, kulitnya juga bersih sebenarnya. Hanya saja karena sering terpapar matahari jadi lebih gelap. Dan saat bersamaku yang hanya dirumah saja kulitnya sudah mulai kembali ke aslinya.
Harus ku akui, aku mulai terbiasa dengan nya. Bahkan untuk tidur saja, sekarang aku mulai tak tenang jika tidur sendiri.
Apakah aku mulai mencintainya?
Entahlah.. tapi aku hanya terbiasa dengannya.
Pelan ku angkat kepalanya dan meletakkan di lenganku, sehingga Binar kini ber bantal kepalaku. Ke dekap erat tubuhnya dalam pelukanku.
Untuk pertama kalinya tubuh ini dengan sengaja memeluknya.Setelahnya aku benar-benar sudah terlelap dengan memeluknya.
*
*
*