
"Nyonya Binar Ayu Kusuma silahkan masuk kedalam"
Akhirnya setelah menunggu seperempat jam nama ku dipanggil juga. Bergegas aku dan mas Abhi masuk keruangan dokter Sania. dan duduk dihadapan dokter yang ku perkirakan seusia dengan mas Abhi.
"Selamat sore nyonya Binar, selamat sore Bhi.Jadi ini alasan kamu menghubungi aku. Baguslah kalau kamu sudah move-on sama Hana. Aku ikut senang melihatnya. Jadi sejak kapan kalian menikah. Tega kamu ya Bhi gak ngundang aku" Celoteh dokter Sania.
Sepertinya mas Abhi dan dokter Sania ini sudah akrab banget. Terbukti ketika kami masuk dokter Sania langsung berbincang hangat dengan mas Abhi layaknya teman.
Se hebat dan se kaya apa sih suamiku ini sampai orang-orang besar seperti dokter Sania dan dokter Randy saja mas Abhi kenal.
"Mama aja belum tau San,aku dan Binar baru saja nikah kemarin"
"What" Jawab kaget dokter Sania.
Sebenarnya aku juga baru ke ingatan sama orang tuanya mas Abhi yang gak datang. Bukan sengaja hanya saja memang pernikahan kami begitu mendadak. Dan kami yang baru sampai bukanya langsung kesana malah kesini.
"Jangan bilang kalau kamu kebablasan terus Binar hamil duluan baru nikah ya Bhi. Sejak kapan kamu menganut hal seperti itu" Celoteh dokter Sania.
Hah...
Seriusan dokter Sania mikirnya seperti itu. Tapi gak salah sih kalau dokter Sania bakal mikir seperti itu. Habisnya baru nikah sehari aja mas Abhi langsung ngajak kesini.
"Bukan seperti itu dok... "
"Gak usah mikir yang aneh-aneh deh kamu San. Kamu tau siapa saya kan? " Potong mas Abhi cepat.
Ya sudah lah mas aku diam saja. Toh yang kenal dengan dokternya juga kamu.
"Lalu.. ngapain kesini kalau gitu. Masih terlalu dini buat tau hasilnya" Ucap dokter Sania dengan senyum.
Sebenarnya dokter Sania ini tipe perempuan yang banyak bicara. Mungkin kalau gak ada mas Abhi kami berdua akan nyambung kalau ngomong. Hanya saja karena ada mas Abhi aku cukup jadi pendengar yang baik saja disini.
"Justru karena ini masih dini aku butuh bantuan kamu"
Ada sesuatu yang hangat yang menyentuh relung hatiku. Aku gak tau aja kalau mas Abhi bakal se perhatian itu padaku.
"Ok... ok.. jadi kamu maunya gimana? Mau ngecekin kandungan Binar subur atau gak ya? Wah... sepertinya Gendis siap punya adik ini" Goda dokter Sania padaku dan aku hanya tersipu malu.
"Tidak seperti itu San,justru aku kesini ingin menunda punya momongan dulu. Gendis masih terlalu kecil jika harus punya adik"
Deg
Seketika kebahagiaan yang baru saja terlintas di fikiran ku lenyap seketika. Ku pandangi mas Abhi yang tanpa beban mengatakan itu dihadapan ku dan temannya itu.
Tak bisakah engkau membicarakan hal sepenting ini denganku dulu mas? Kenapa justru aku baru tau saat sudah ada disini.
"Kamu serius Bhi mau nunda momongan. Gendis sudah pantas kok kalau punya adik" Ucap dokter Sania. Entah mengapa ada sedikit pembelaan darinya untukku. Bersyukur sekali yang aku temui adalah dokter Sania ini.
"Tentu saja San, lagi pula umur Binar masih terlalu muda jika harus punya anak. Bukan begitu Bee..? " Kali ini mas Abhi menanyakan padaku. Tapi entahlah.. bahkan aku tak sanggup menjawabnya.
"Kalau kamu lupa, Hana juga melahirkan Gendis saat usianya sama dengan Binar saat ini"
"Dan kamu jangan lupa, bahkan Hana lupa dengan putrinya kemudian"
Apapun yang terjadi nanti aku tidak akan meninggalkan darah daging ku. Kecuali jika Tuhan memanggilku.
"Ok.. kalau gitu. Sebelumnya aku mau tanya apakah sebelumnya kalian sudah melakukan hubungan suami istri secara wajar? " Tanya dokter Sania. Sepertinya dokter Sania langsung bersikap profesional. Bagaimanapun dia adalah dokter dan dia harus menjalankan tugasnya secara profesional.
"Sudah " Jawab mas Abhi. Ada rona malu ketika dia diberi pertanyaan seperti itu. Tapi mas Abhi pun harus menyampaikan kebenarannya.
Dokter Sania pun manggut-manggut atas jawaban mas Abhi.
"Sebenarnya tidak ada masalah jika saat ini langsung dilakukan program KB. Tapi ada baiknya kamu dan istrimu kembali lagi bulan depan saja. Setidaknya tunggu, apakah habungan kalian itu berhasil membuahi atau tidak. Takutnya terjadi yang tidak diinginkan saja. Untuk sementara waktu jika kalian melakukan hubungan bisa pakai alat kontrasep*i dulu"Jelas dokter Sania.
"Tapi San" Potong mas Abhi.
"Tidak ada tapi Bhi... kalau kamu tetap memaksa dan Binar sudah hamil bagaimana. Kamu gak kasihan sama calon anakmu. Kalau saja kamu datangnya lebih dulu mungkin beda lagi. Gak mungkin kan Bhi kamu gak nerima anak yang ada di kandungan binar. Gak usah membantah deh mendingan kamu tebus obat untuk Binar sekalian beli alat kontrasep*i yang banyak sana di apotik"Usir dokter Sania sambil menyerahkan resep pada mas Abhi dan mendorongnya keluar.
Hanya mas Abhi...
Nyatanya dokter Sania membiarkanku tetap diruangan. Tak berapa lama terdengar dengusan dari mulut mas Abhi. Tapi laki-laki itu tetap menjalankan perintah dokter Sania.
Kini hanya tinggal kami berdua didalam ruangan itu. Perlahan dokter Sania mendekati ku dan menduduki kursi mas Abhi tadi. Dokter Sania menggenggam tanganku dengan pandangan yang sedikit iba.
"Jangan dengarkan kata-kata Abhi ya Bee.. sebenarnya dia pria yang baik. Hanya saja trauma nya yang terlalu dalam dihatinya. Entah bagaimana caranya dia bisa menikah dengan mu. Tapi aku yakin kamu perempuan baik. Gendis pasti sangat menyukai dan menyayangimu. Sebisa mungkin aku akan membantumu"
Aku mengangguk, sungguh aku sangat berterima kasih pada dokter cantik ini.
"Aku tau karena jika ada perempuan lain bisa menjalin hubungan lebih dengan Abhi itu artinya restu Gendis bersamamu.Kamu terlihat begitu sangat mencintai nya. Jangan menyerah ya Bee...buat Abhi jatuh cinta padamu maka setelah itu kebahagian itu akan selalu bersama kalian. Sedikit sulit memang tapi kamu pasti bisa"Nasehat dokter Sania padaku.
Ah... lega rasanya bisa bertemu dengan orang sebaik dokter Sania. Kalau saja kamu tau perjuanganku sebelum nya dok. Kamu pasti sudah mentertawakan ku. Tapi benar apa yang kamu bilang jika aku masih harus berjuang dan tak kenal lelah mendapatkan hati orang yang ku cintai.
"Oh ya Bee... obat yang aku suruh Abhi untuk tebus adalah vitamin. Kamu minum ya? Aku juga berharapnya sudah ada janin yang berkembang disini" Ucap dokter Sania sambil mengelus pelan perut rata ku.
Sumpah Demi apapun aku begitu terharu dengan perempuan dihadapanku ini. Aku juga berharapnya seperti itu dok, Semoga apa yang kita berdua harapkan benar-benar terwujud. Amin...
"Semoga benar kamu sudah tumbuh disana nak" Ucapku sambil ikut mengelus perut rata ku.
Setelahnya aku banyak berbincang dengan dokter Sania. Rupanya benar yang ku fikirkan tadi jika aku dan dokter Sania akan bisa klop jika sudah berbincang berdua.
*
*
*
Hayo tebakan siapa yang benar. 100 buat kak mujiningsih.
Untung ketemu nya sama dokter Sania ya. coba ketemu sama dokter lain.Bohong-bohongin mas Abhi sedikit lah he.. he...
Jangan lupa Like, komen and Vote ya kak. Kasih poin juga malah terimakasih sekali.
Setelah ini kita ketemu sama Bee yang biasanya ya. Ce ayo... Binar....