
"Selamat siang bu.. ada yang bisa saya bantu? " Sapa seorang resepsionis dengan ramah.
Ya iya lah ramah. Kalau muka galak mah biasanya satpam Hi.. Hi..
Aku dan Gendis baru saja sampai ditempat kerja nya mas Abhi. Karena ini pertama kalinya aku kesini maka aku pun bertanya pada resepsionis. Takut ganggu juga kalau mas Abhi lagi kerja.Sekaligus untuk memastikan saja.
"Saya mau ketemu sama mas Abhi mbak? Ada? Tadi saya diminta mengantar berkas penting yang ketinggalan dirumah soalnya" Jawabku jujur.
Tapi yang ada wajah perempuan yang ada dihadapanku ini sedikit bingung. Adakah aku salah bicara?? Perasaan biasa aja deh.
Sejenak perempuan itu memandang anak kecil yang ada di gandengan ku lalu kemudian tersenyum.
Nih orang gak kesambet kan? Tadi pasang muka bingung sekarang senyum-senyum sendiri. Jadi ngerasa horor abis sama nih resepsionis.
"Mbak nya baby sister baru ya? Makanya gak tau ruangan nya pak Abhi"
What....
Baby sister? Seenak kate nih resepsionis ngomongnya. Emang wajah ku wajah-wajah resepsionis apa? Tapi mungkin memang iya ding? Pasalnya saat ini penampilanku hanya biasa-biasa saja.Gak mencerminkan perempuan sosialita yang pantas mendampingi mas Abhi.
Bahkan baju mahalllll (Baca mahall lidahnya pakai goyang ya Hi...) yang dibelikan mas Abhi kemarin belum ada yang ku pakai. Agak sayang aja kalau sampai rusak. Ya iya lah kan mahallll cin? Biarin aja deh tu baju-baju tetap baru terus di dalam almari.
"Iya mbak? Jadi ruangan nya mas Abhi disebelah mana ya? "
Sengaja aku iyain aja saat resepsionis ini mengatakan aku seorang baby sister. Biar gak ribet dia tanya-tanya sama aku.Yang ada kalau aku jawab jujur kalau aku istrinya mas Abhi bisa dikira tukang halu lagi. Jadi suka-suka si embaknya aja deh.
Sengaja aku udah iya in kata-kata nya. Bukannya langsung menjawab. Lagi-lagi resepsionis itu menatapku dengan heran.
"Mohon maaf ya mbak? Menurut saya kurang sopan anda yang hanya seorang baby sister memanggil majikan anda pak Abhi dengan sebutan mas. Kesannya mbak ini seperti baby sister penggoda. Kayak yang lagi viral-viral itu. Walaupun pak Abhi sebenarnya sudah duda sih.'' Ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang entah memang ber ketombe atau hanya pura-pura ada kutu yang nemplok. Entahlah....
Kali ini aku hanya berusaha mengatur nafasku dan berusaha sabar. Tapi kayaknya susah buat orang yang ucapannya pedas level 1 aja. Jadi karena sebutan mas nih resepsionis jadi menatapku dengan aneh dari tadi.
"Yang penting kan saya bukan pelakor mbak. Saya sama mas Abhi sama-sama singgle tau. Jika saya menjlin hubungan sama mas Abhi. Emangnya Mbak nya suka juga gak sama mas Abhi? Mendingan gak usah deh? Saingannya saya lo. Meskipun tampang kayak baby sister tapi saya lawan yang tangguh. Dijamin si mbaknya bakal kalah dulu sebelum bertanding"
Lama-lama gemes juga sama nih resepsionis. Biarin aja deh, sekalian aku gaspol ucapanku dan panas-panasin. Semoga aja pas dia tau statusku nanti gak syok.
Si mbak rese (Singkatan resepsionis ya) tampak salah tingkah. Salah nyari musuh si mbak. Dipikirnya aku bakal takut gitu sama situ.
"Tante... Mira... " Tiba-tiba ku dengar Gendis yang ada di belakangku berteriak lalu tak jauh dari tempat kami berdiri muncul lah perempuan berjilbab yang menghampiri kami. Sekilas ku pandang perempuan itu sangat sempurna.
Ya Tuhan....
Siapa lagi perempuan ini. Kenapa saingan ku banyak banget. Begitu dekat Gendis langsung memeluk perempuan bernama Mira.
"Ini pasti ibu Binar ya? "Tanya nya padaku setelah melepas pelukan mereka.
" Bukan tante... ini bundanya Gendis"Kali ini Gendis yang menjawab. Mira tampak tersenyum manis sambil mengacak pelan rambut Gendis.
Sedekat itukah mereka. Lalu kenapa Gendis lebih memilih aku menjadi bundanya dibanding Mira yang sangat sempurna.
"Iya.. deh.. iya.. yang punya bunda baru. Bun. . da..nya Gendis sama Gendis mari ikut saya sudah ditunggu Pak Abhi di ruangannya" Ucap perempuan bernama Mira itu.
Kami pun mengikuti langkah Mira menuju lift.Baru masuk lift Gendis minta digendong karena mengeluh capek berjalan. Mana ada..padahal jalannya cuma dari parkiran ke dalam saja tadi.
Ya sudahlah namanya juga anak-anak.Baru akan ku gendong. Tapi Mira menawarkan diri menggendong Gendis.
Hendak ku tolak namun anehnya Gendis langsung mau. Sedekat apakah mereka, padahal Gendis juga bukan tipe anak yang suka akrab dengan seseorang
Dalam perjalanan sempat aku memikirkan itu? Siapa sebenarnya Mira ini?Ck.. apaan sih kok aku jadi cemburuan kayak gini. Dari ucapannya jelas Mira tau statusku apa dan dari penampilannya Mira gak mungkin jadi seorang pelakor.
Eh.. tapikan jaman sekarang penampilan gak menjamin kepribadian seseorang.
Ah... makin dipikirkan otak ku makin ngelantur aja. Nanti aja deh nanya langsung sama mas Abhi. Awas aja kalau dia berani macam-macam dengan perempuan lain.
"Tante Mira turun.. " Tiba-tiba suara Gendis mengintrupsi lamunanku.
Ku lihat perlahan Gendis melorot kan diri dari gendongan Mira. Putri kecilku itu lalu menarik tanganku.
"Bunda.. itu ruangannya papa" Ucapnya sambil menunjuk pada satu ruangan yang pintunya terlihat berbeda sendiri.
Jadi aneh...
Sebenarnya apa sih pekerjaan mas Abhi? Selama aku mengidolakannya dan baru beberapa minggu jadi istrinya aku bahkan belum tahu apa pekerjaan nya sebenarnya.
"Ayo bunda? " Rengek Gendis karena tidak ada pergerakanku dari tadi.
"Iya sayang, jangan lompat-lompat nanti jatuh" Ucapku lalu mengikuti pergerakannya menuju ruangan papanya.
Gendis terlihat begitu bersemangat. Sempat ku lihat senyum diwajahnya Mira.
"Biar saya yang ketok pintunya bu" Ucap Mira begitu sampai didepan pintu. Aku mengangguk saja. Sudahlah...
Mungkin aku hanya salah faham dengan perempuan dihadapan ku ini. Mira memang perempuan yang baik mungkin.
Tok.. tok.. tok..
Lihatlah bahkan dia tidak mengizinkanku melakukan pekerjaan. Walaupun itu menggendong Gendis atau sekedar mengetuk pintu.
"Masuk... " Terdengar suara dari dalam. dan Mira segera membukakan pintu untuk kami.
"Papa... " Begitu masuk Gendis langsung berhambur memeluk papa nya sementara aku mendekat untuk mencium tangannya.
"Kalau gitu saya permisi dulu pak" Ucap Mira kemudian.
Mas Abhi yang sedang sibuk dengan Gendis segera mendongkak menatap Mira.
"Ok.. terima kasih Mira" Ucapnya sopan sambil tersenyum manis.
Apa-apaan ini kenapa sama Mira saja bisa tersenyum seperti itu sedangkan sama aku? Senyum aja pelit. Otak ku yang tadi hampir menampik adanya sesuatu diantara mereka jadi kembali berfikiran buruk.
Jangan macam-macam kamu mas sama Binar.
*
*
*
Binar cemburuan banget ya? 🤣🤣🤣