
Beginilah hidupku saat ini jadi ibu rumah tangga. Kerjaannya tiap hari cuma jagain dan ngajak main Gendis saja. Berasa kayak baby sister ya..
Baby sister plus-plus mungkin, soalnya kalau malam gantian bapaknya juga yang minta di jagain. He...
Bosan...
Tentu saja,..
Biasanya banyak gerak sekarang jadi mager saja. Habisnya mbok Sumi juga ngelarang aku bantuin dia sih. Katanya mbok Sumi gak mau makan gaji buta. Sudah ada aku yang jadi istri mas Abhi aja mbok Sumi seneng banget. Jadi ada yang bantuin dia jagain Gendis dan mbok Sumi lebih fokus ngurus rumah.Jiah...
Jagain Gendis mah bukan apa-apa. Lha wong Gendis juga bukan anak yang nakal. Lihat saja bahkan anak itu sudah bisa bermain sendiri. Aku hanya sesekali aku menanggapi celotehannya dan ikut bermain bersama nya saja.
Harusnya aku seneng ya?
Tapi nyatanya enggak. Tangan aku udah gatel pengen pegang sapu atau alat pel saja dari kemarin. Rasanya pengen ku pecat saja mbok Sumi. Jadi aku bisa jadi ibu rumah tangga yang sebenarnya.Biar berguna sedikit dan gak ongkang-ongkang kaki saja.
Tapi kasihan juga mbok Sumi kalau aku pecat. Kerja dimana lagi dia?Apa lagi mbok Sumi tipe pelayanan setia yang sulit ditemui di zaman seperti ini.
Hadeh...
Lagi-lagi aku hanya bisa pasrah. Di nikmatin aja deh punya suami Sultan. Semoga badan aku gak bengkak aja kebanyakan makan dan tidur.
Ih.. apaan sih... Bayangin tubuh jadi gendut kok jadi geli sendiri. Apa iya mas Abhi bakal nerima aku apa adanya kalau badan aku jadi gendut.
"Tidak..... " Teriak ku tanpa sengaja.
"Ada apa non? " Tanya heran mbok Sumi. Aku yang baru sadar jika teriakanku itu nyata hanya nyengir kuda.
"Gak apa-apa mbok, keceplosan"
"Mbok fikir sih non teh kesurupan setan apa gitu? "
Cek.. si mbok mah.
Manyun nih aku manyun.Ngambek aku dibilangin kesurupan.
"Gak usah manyun gitu neng, jelek kalau bibirnya maju kedepan"
Dengan refleks aku pun menutup bibirku dengan tanganku. Masa sih kalau manyun aku jadi jelek. Si mbok mah ada-ada saja.
Nah lo.. aku dikerjain kan. Lihat saja si mbok malah tersenyum melihat tingkahku.
"Mbok cuma bercanda kali non... Oh ya tadi tuan telpon katanya non disuruh nganterin ke kantor berkas yang ketinggalan. Kata tuan penting dan tuan gak bisa ambil pulang karena sedang meeting" Ucap mbok Sumi panjang lebar kaya rel kereta api. Ea...
Mendengar itu aku yang tadinya lemes jadi semangat 45.
"Serius mbok? Berkasnya mana? Sekalian alamat kantornya juga dimana?Kan Binar gak tau?''Tanyaku bertubi-tubi.
" Satu-satu atuh non. Berkasnya ada di laci dekat televisi. Alamatnya nanti mbok tulisin deh"Jawab mbok Sumi.
Gegas aku berlari menuju tempat yang disebutkan mbok Sumi tadi. Sedangkan mbok Sumi tampak mencari kertas dan bal poin untuk menuliskan alamat yang ku minta.
"Ini non alamatnya"
Segera aku menerima kertas itu dan membacanya sekilas.
"Kalau gitu Binar berangkat dulu ya mbok" Ucapku.
Rasanya tidak sabar ketemu sama mas Abhi.Pasti seru ketemu mas Abhi saat pria itu ada di kantor.
Kalau Gendis ikut berarti....
Padahal aku baru berniat, minjam sepeda ontel punya anak kosan lho. Kalau Gendis ikut otomatis aku gak bisa pakai outfit itu.Kebetulan motor yang dirumah kemarin lagi di servis gara-gara dulu jarang digunakan jadi agak rusak.
Bisa dipenggal kepalaku sama mas Abhi melihat anaknya panas-panasan. Masa iya aku harus naik taxi. Uang dari mana coba???
"Mbok.. pinjam duitnya boleh, karenavGendid ikut saya gak jadi naik sepeda dan harus naik tadi. Uangnya buat bayar taxi nanti soalnya uang aku tinggal lima ribu perak" Ceritaku kayak dongeng tidur. Terbukti setelahnya...
Mbok Sumi jadi menatapku horor. Mungkin dia mikirnya majikan kok minjam duit sama pembantunya. Lha apa boleh buat mbok? Istri tuan mu ini memang gak punya duit. Alias bokek karena gak kerja lagi
"Gak usah heran mbok, saya memang gak ada duit. Orang mas Abhi ngasihnya cuma kartu doang gak ngasih duit. Emang mau Supir taxi dikasih kartu" Ucapku jujur.
Tiba-tiba tawa mbok Sumi meledak.
"aNon itu memang lucu banget, fari kartu itu bisa ambil uang atuh non. Tinggal dibawa ke mesin ATM nya aja. Uangnya dapat. Justru kartu itu sekarang mempermudah semuanya" Jelas mbok Sumi.
Masa sih.. .
Lha mana aku tau....
Tau dari kemarin juga aku gak merasa se miskin ini.Aku ambil saja semua uanynya biar uang mas Abhi habis.
Eh...
Lha terus uangnya buat apa coba kalau udah aku ambil.
"Ya sudah sekarang mbok pinjamin non dulu. Besok mbok ajarin cara pakai kartu itu non. Kita ketempat mesin ATM terdekat."Ucap mbok Sumi.
Wanita paruh baya itu bergegas ke kamarnya dan mengambil uang. Lalu dengan segera kembali membawa lima buah uang ratusan ribu.
"Pakai uang mbok dulu non. Tapi Mbok adanya uang segini, kalau untuk naik taxi bolak-balik insyaallah cukup"
Segera aku menerima uang itu. Rada baru sih, masa aku yang baru beberapa hari disini sudah berani ngutang. Kebiasaan banget hoby ngutang.
"Nanti Binar kembaliin ya mbok, kalau perlu nanti pas ketemu mas Abhi Binar minta uang kes aja sama mas Abhi" Ucapku dengan janji.
Biasalah orang yang saat ngutang bakalan berkata manis dan bakalan suka janji. Tapi nanti pas ditagih jadi janji palsu dan pura-pura lupa. Lebih galak malahan dari pada yang memberi hutang. Tapi aku gak gitu dong. Segera akan kubkembalikan uang mbok. Bahkan kalau perlu nanti langsung ku minta uang pada Mas Abhi.
Singkirkan rasa malu dulu. Biarlah mas Abhi mengatai ku matre atau apalah...
Yang penting uang mbok Sumi gak lama-lama aku pinjam. Lha... kalau aku gak minta dapat uang dari mana coba?? Udah gak kerja juga kan? Lagi pula aku pinjam uang mbok Sumi juga gara-gara disuruh mas Abhi bawa berkas ke kantornya kan.
Setelah itu aku pun menggandeng tangan Gendis menuju luar rumah,sambil menunggu taxi online yang sebelumnya juga dipesankan mbok Sumi.
Gak sabar pengen ketemu sama mas Abhi di kantornya. Bakalan gimana ya nanti?
Kadang aku ngerasa gak pantas jika harus disandingkan dengan mas Abhi. Ya.. aku yang biasa hidup sederhana dan mas Abhi yang sudah terbiasa hidup dengan mewah. Kita bagai air dan minyak yang sulit disatukan. Entah aku mampu atau tidak bertahan seperti ini. Sepanjang hidupku...
*
*
*
Binar mah katro banget dikasih kartu ATM masih aja ngutang🤣🤣🤣