
Disinilah aku sekarang di depan sebuah rumah tempat mas Kai dulu dibesarkan.
Gugup...
Tentu saja, siapa coba yang gak gugup mau ketemu sama calon mertua yang katanya belum merestui hubungan ku dan mas Kai. Aku bilang belum karena aku yakin suatu saat nanti mungkin hati orang tua mas Kai akan dibuka dan kemudian merestui kami.Amin.....
"Kamu duduk disana dulu ya Bee... aku mau panggil ayah dan ibu ku dulu " Ucap mas Kai sambil menunjuk sofa diruang tamunya saat kami telah memasuki rumah itu.
Aku hanya mengangguk pasrah dan mencoba menenangkan hatiku.
Tarik nafas... hembus kan pelan-pelan.Begitu seterusnya..
Sepanjang aku menunggu itu lah yang ku lakukan.
Pakaian sih udah ok menurutku, untung aja kemarin malam dapat gaji dari mas Abhi lebih jadi bisa ku belikan baju baru meski cuma barang kw yang dijual dipasar.Itung-itung menghargai orang tua mas Kai yang mau ku temui lah.
Tinggal ngatur mental nya aja ini kayaknya. Semoga orang tua mas Kai gak garang-garang amat.
"Binar.. kenalin ini ibu dan ayahku" Ucap mas Kai yang tiba-tiba datang bersama dua orang yang disebutnya orang tua. Ah... sepertinya ujian akan segera dimulai. Dan semoga aku bisa melewati nya dengan baik.
Perlahan ku ulurkan tangan dan mencium tangan ayah mas Kai.
"Saya Binar pak" Ucap ku sopan.
"Panggil saja pak Aji" Ucapnya juga sopan. Kayaknya pak Aji gak galak deh.Terbukti dengan tutur katanya yang sopan terhadap ku.
Kini ganti aku meraih tangan ibu mas Kai.
"Saya Binar bu"
Namun baru hendak mencium tangan ibu mas Kai. Perempuan itu menarik tangannya.
"Saya baru ngiris bawang belum cuci tangan" Ucap Ibu mas Kai sewot. Rupa-rupanya sudah tercium bau-bau permusuhan ini.Ketahuan banget yang galak siapa? Upsss...Kebanyakan nonton drama yang modelan kayak gini sih. Jadi bawaannya parno melulu.
"Silahkan duduk nak Binar" Ucap pak Aji mencoba mencairkan suasana. Aku tersenyum sebentar kemudian mendudukkan diriku di atas sofa.Bersama tiga orang lainnya.
Alamak... hatiku udah kayak mau copot aja. Berasa disidang sama pak hakim aja.
"Gak usah takut seperti itu. Sebenarnya saya yang meminta Kai membawamu kemari" Ucap ayahnya mas Kai tanpa basa-basi.
Tuh... kan.. benar. Aku disini berasa jadi tersangka utama aja.
"Kamu tau kenapa kamu saya suruh kemari" Ucapnya lagi.
Entah karena aku yang be*o atau aku yang ketakutan. Refleks aku mengangguk tapi kemudian dengan cepat menggeleng.
Mana aku tau? Mas Kai cuma bilang diajak bertemu orang tuanya. Dia cuma minta aku mau berjuang bersamanya untuk mendapat restu dari orang tuanya saja. Mana tau ada hal lain yang belum aku tau. Jadi aku menggeleng saja. Aku mau denger langsung dari ayahnya mas Kai langsung.
Terlihat pak Aji menghela nafas dan melirik putranya sebentar. Sama dengan aku, mas Kai terlihat sama gugupnya. Kamu aja gugup mas, gimana sama aku. Kita seperti pasangan mesum yang digrebek aja mas.
"Sudah beberapa bulan ini ayah sama ibu memisahkan kalian. Selama itu pula kami berharap kalian dapat dipisahkan. Tapi ternyata Kai cukup keras kepala dan mempertahankan kamu. Kai minta diberi kesempatan untuk kami lebih mengenal kamu. Maka kami memintamu kesini"
"Halah... pak kelamaan, kenapa gak dibilang langsung aja kalau Kai itu sudah kita jodohkan dengan anak teman kita. Yang sudah jelas bibit, bobot dan bebet nya. Yang lebih penting dia lebih sholeha dan yang pasti gak matre karena berasal dari orang yang sama kayak kita" Potong ibunya mas Kai cepat.
Mak jleb banget.
Akurat, tajam dan terpercaya. Gak tanggung-tanggung nih emak-emak menghina aku. Asal emak tau ya.. aku terlahir dari hasil pernikahan yang sah. Kalaupun aku adalah anak haram. Toh semua orang juga berhak bahagia kan?
Masalah kemiskinan? Sungguh aku juga tidak menginginkan menjadi orang miskin.Saat ini Tuhan memang sedang memberiku sedikit rezeki. Tapi aku selalu mensyukuri nya...
"Mohon maaf Bu? Maksudnya apa ya? " Tanyaku akhirnya. Pura-pura bodoh aja deh.
"Kamu lihat kan Kai, gini-ni kalau kamu berhubungan dengan orang yang tidak berpendidikan"
"Binar gak seperti itu bu, ibu saja yang keterlaluan" Balas Mas Kai
Rasanya pengen nangis tapi masa baru gini aja udah nyerah. Kamu kuat Binar. Lagian mas Kai gak mungkin biarin kamu ditindas.
Kok aku jadi aneh banget sama mereka. Sebenarnya kesepakatan apa yang sedang mereka buat. Kok mas Kai gak cerita apapun. Aku gak dijadikan kelinci percobaan kan?
"Terserah Ayah saja, yang jelas ibu tetap akan berpihak pada Mira saja"Ucap Ibunya mas Kai sembari meninggalkan kami bertiga.
" Permisi sebentar ya nak Binar. Ayah mau memberi pengertian sebentar sama ibunya Kai"Giliran ayah mas Kai yang bicara lalu beliau segera menyusul istrinya pergi.
Jadi calonnya mas Kai namanya Mira. Yap Allah.. kok jadi rumit kayak gini. Aku seperti pelakor yang mengganggu kebahagian keluarga ini.
Seandainya saja aku tidak hadir di kehidupan mas Kai. Mungkin mas Kai akan bisa bahagia berjodoh dengan Mira dan yang jelas tidak akan ada perselisihan diantara keluarga ini.
Perlahan ku pijit kepala ku yang terasa pening. Sepertinya salah besar aku menerima permintaan mas Kai menemui orang tuanya dengan cepat. Harusnya kamu baca situasi dulu Binar...
"Sayang maafin ibu ku ya" Ucap mas Kai saat kami berdua.
"Biasa aja kali mas, semua orang yang gak suka pasti ucapannya pedes.Aku aja kadang kayak gitu. Lagian mas Kai bikin kesepakatan apa sih. Kok mas Kai belum cerita ke aku? "Tanyaku kemudian.
Giliran mas Kai yang menghela nafas. Roman-romannya kayaknya serius ini mah. Mas Kai gak niat jadiin aku dan Mira jadi istrinya kan?
Tidak....
Belum apa-apa aja aku sudah dimadu. Gak ngebayangin awal pernikahan langsung punya madu.
" Gak gitu Bee... Hanya saja... "Sepertinya mas Kai begitu berat mengatakannya.
Asal kamu tau mas. Aku lebih baik sakit diawal dari pada aku nanti juga yang menyesal.
" Bilang aja yang sebenarnya mas"
"Aku ngajuin syarat mau bertemu dengan Mira asal ayah dan ibu juga memberi kamu kesempatan untuk menunjukkan kamu juga calon istri yang baik"
Nah lo kan sama saja.
"Terus.. kalau Mira juga memenuhi kriteria istri yang baik dan mas Kai suka bagaimana? Mas Kai gak niat nikahin kita berdua kan? "
"Bee.. gak kayak gitu. Aku bakal tetap milih kamu jadi istriku"
"Sekarang kamu bisa ngomong kayak gitu mas, gak tau nanti kalau kamu sudah ketemu Mira. Saran aku kamu fokus saja sama Mira. Cintai dia mas, aku yakin kok orang tua mas pasti sudah milihin jodoh yang terbaik buat mas"
"Kamu gak cinta sama aku Bee.. "
Sedikit susah memang memberi pengertian pada orang yang sudah bucin kayak gini.
"Kalau aku gak cinta aku gak mungkin disini mas. Tapi aku juga berfikir realistis aja. Orang tua mas Kai sepertinya sudah yakin sekali dengan Mira dan aku rasa kalau mas Kai ketemu juga begitu. Kalau kita nekat terus berjuang akan ada banyak hati yang terluka mas. Bisa jadi aku dan mas juga akan terluka nanti"
Yakin gak sih ini keluar dari mulut aku. Sok kuat banget kamu Bee...
Padahal kamu nyerahin cowok kamu sama orang lain lo. Biar kata Binar orang nya selengekan tapi aslinya aku emang suka gak tegaan sama orang. Gak apa-apa ding kan kata kak Mujiningsih ada mas Abhi yang jadi serep. Eh.......
Lagi-lagi terdengar helaan nafas dari mas Kai.Seperrinya saat ini mas Kai sedang bimbang. Antara tetap memperjuangkanku atau berbakti pada orang tuanya.
"Tapi kita masih berteman kan Bee.... "
Aku mengangguk mantap.
"Tentu saja mas. Kalaupun kita memang ditakdirkan berjodoh suatu saat akan dibukakan jalannya.Kalau enggak ya.. cukup kita berteman saja mas"
Mas Kai pun akhirnya mengangguk.
Huh... rasanya lega. Padahal ini aku baru putus cinta lho. Mak... anakmu lagi patah hati. Mas Abhi aku datang. Eh......
*
*
*