Nguber Duda

Nguber Duda
Enam Puluh Tujuh



Pov Abhi


Hampir dua minggu aku mencari keberadaan Binar. Lelah hati, lelah pikiran bahkan lelah tenaga. Namun tak kunjung aku temukan keberadaan nya. Hampir frustasi tapi aku gak boleh menyerah secepat itu.


Anggap saja ini adalah hukuman yang harus aku terima dari perbuatan ku. Dan dengan ini aku harus membuktikan bahwa aku memang sudah mencintai Binar.Maka dari itu aku harus menemukannya, bagaimana caranya dan apapun resiko yang harus aku terima.


Ngomong-ngomong soal resiko....


Bagaimana tidak beresiko, jika setiap kali aku bertanya tentang keberadaan Binar dengan orang terdekat dari istri ku itu. Aku akan selalu menjadi amukan bahkan mendapatkan omelan yang sama sekali tidak membantu tapi malah membuatku pusing saja.


Seperti saat aku bertanya pada mantan bos Binar, Maya dan juga Johan.


Tau apa yang mereka lakukan saat aku bertanya pada mereka?


Maya bahkan memukuli ku dengan kemoceng yang sedang dia pegang.


Ck... gak ingat apa, kalau dulu dia pernah begitu mengidolakan ku. Masih ingat gak saat Maya ngidam minta aku elus perutnya bahkan dengan gamblang Maya berharapnya anaknya mirip denganku. Sekarang saat aku bertanya keberadaan Binar saja dia malah memukuli ku.


Sakit banget...


Seumur-umur baru kali ini aku merasakan seperti ini.


Terus waktu aku datang ke kosan Binar.Disana aku ketemu sama Reni temennya Binar. Lagi-lagi bukan jawaban yang aku dapatkan. Malah aku harus dapat lemparan mie ayam yang masih panas ke kakiku. Untung aku pakai sepatu. Bayangin aja kalau enggak pakai sepatu. Bisa melepuh.


Tapi aku gak bisa omelin balik Reni, karena dia pun sebenarnya tak sengaja. Waktu aku kasih tau Binar hilang dia syok dan melepas Mia ayam yang ada ditangannya.


Masih untung bawa mie ayam, coba kalau bawa pisau. Beh... bisa berabe.


Duh...Binar sayang... kamu dimana sih?? Kalau aku tau ujung-ujungnya Binar meninggalkan ku begitu jauh seperti ini. Harusnya waktu itu aku nekad saja menemui Binar dirumah mama.Aku culik saja dia dari rumah mama.


Tapi apa mau dikata semuanya sudah terlambat dan terlanjur jadi bubur.


"Gimana Bhi udah ketemu menantu sama cucu mama" Ucap mana setiap kali baru datang bertemu denganku.


Gak lihat apa anaknya udah pusing kayak gini. Tapi mama selalu ngerong-rong gak jelas. Bantuin nyari kek.


"Belum ma? " Jawab ku singkat.


Tau apa yang terjadi selanjutnya?


"Kamu itu jadi suami gak becus banget sih Bhi, masa udah dua minggu masih aja belum ketemu keberadaan istri kamu. Cari yang benar dong? " Selalu itu yang diucapkan mama.


Gimana aku gak down coba. Aku udah berusaha keras bahkan sudah sewa detektif juga. Tapi memang Binar belum ditemukan sampai sekarang mau gimana lagi.


"Paling enggak kamu tau keberadaan Binar dimana. Dia sama calon cucu mama juga harus baik-baik saja" Tambah mama lagi.


Ku hembuskan nafasku keras. Emang orang tua harus selalu benar ya.


"Ma... Abhi sedang berusaha. Dulu mas Ken nemuin mbak Jingga juga lama kan?Waktu mbak Jingga ngilang juga" Jawab ku kemudian. Kali aja mau mengerti.


Pletak


Bukannya dapat pembenaran, aku malah dapat pukulan mama. Kebiasaan banget mama, suka bikin anaknya kesakitan.


Tuh kan salah lagi? Padahal maksud nya gak kayak gitu lho.


"Ya gak gitu ma? Mama sih bikin gaduh aja. Harusnya mama gak bikin Abhi tambah pusing dong ma? Abhi juga sudah berusaha sekuat tenaga dan kemampuan Abhi ini. Emang mama fikir Abhi gak rindu apa sama istri Abhi dan calon anak Abhi. Bahkan Abhi juga baru tau, kalau Abhi bakal jadi ayah lagi saat Binar ninggalin Abhi. Abhi takut terjadi sesuatu dengan istri dan anak Abhi ma! Gimana kalau Binar ketemu sama orang jahat?Binar udah makan belum ya ma? " Ucapku sedih.


Sungguh aku benar-benar tidak bersandiwara saat mengatakan khawatir tentang keadaan istri dan calon anak ku.


Ah... anak...


Kenapa bisa dulu aku begitu entengnya mengatakan kalau aku tidak menginginkan anak dari perempuan lain selain dari rahim Hana. Toh kenyataan nya saat aku tau Binar mengandung anak ku, aku begitu bahagia. Hanya saja kasih sayangku tak bisa aku salurkan karena Binar yang memutuskan pergi darimu.


Masih jelas dalam ingatanku saat Binar menginginkan pem-pek yang penjualnya bernama pak Tarno tapi aku malah lebih memilih menemui Hana dibanding memenuhi keinginannya.


Mungkin saat itu adalah fase dimana Binar sedang mengidam sesuatu padaku. Tapi aku justru mengabaikannya.


Maafkan papa ya nak, papa belum bisa jadi papa yang baik untuk kamu. Sepertinya ini juga harus ku agendakan. Aku harus mencari penjual pem-pek yang bernama pak Tarno juga. Begitu Binar ditemukan aku akan menuruti permintaannya yang tertunda dulu.


"Kamu benar Bhi, mama jadi merasa bersalah karena gagal jagain Binar dan calon cucu mama? " Ucap mama sendu yang berhasil memecah lamunanku.


Tuh... kan... baru ngakuin. Kemana aja dari kemarin mama yang selalu nyalahin Abhi .


"Kira-kira kemana perginya Binar ya Bhi? Kamu sudah nyari Binar di kampung halaman nya belum? " Tanya mama lagi.


"Kata orang suruhan Abhi, Binar gak ada disana ma? " Jawab ku kemudian.


Aku memang tidak datang langsung ke kampung halaman nya Binar. Terlalu jauh untuk datang kesana. Apalagi pekerjaanku disini juga banyak. Aku disini baru bisa mencari Binar juga saat sedang tidak ada pekerjaan penting, saat istirahat siang atau saat pulang dari kantor.


Bukan tidak mau fokus cari Binar saja. Hanya saja dikantor ini juga banyak orang yang bergantung hidup padaku. Makanya untuk mencari keberadaan Binar di kampung halaman nya, aku menyuruh orang menyelidiki terlebih dahulu. Baru setelah Binar ada aku akan menjemputnya kesana.


"Lalu Binar di mana ya Bhi? " Ucap mama lagi-lagi bersedih.


"Do'ain Abhi segera menemukan Binar ya ma, Abhi janji bakal menebus semua kesalahan Abhi sama Binar"


Perempuan yang ku sebut mama itu segera memeluk ku. Meskipun terkesan galak toh nyatanya mama sangat menyayangiku.


"Bhi.. kok mama yakin Binar bakal ke kampung halamannya ya. Kenapa kamu gak ambil cuti terus kesana. Bujuk Binar pulang ya? " Rengek mama.


Apa-apaan mama ini, kan udah Abhi bilang Binar tidak ada kesana kenapa juga mama bisa seyakin itu.


"Gini lho Bhi.. Binar itu kan bukan perempuan matre. Ya meskipun saat ini ATM yang kamu berikan masih sama Binar. Pernah gak Binar narik uang? Gak kan? Mama kok merasa Binar belum ke kampung halamannya karena dia masih gak ada uang. Jadi Binar kerja dulu ngumpulin uangnya. Ya Tuhan.... kalau benar perkiraan mama. Kasihan banget menantu mama yang sedang hamil muda itu. Pasti sulit ngejalanin sendiri. Makanya mama tuh ngomelin kamu biar Binar ketemu"


Ucapan mama benar-benar mengiris hatiku. Baru aku sadari jika benar Binar belum pernah menarik sepeser uang yang aku berikan kepadanya.


Sepertinya aku harus menyuruh orang suruhan ku untuk mengecek lagi. Semoga kamu memang kembali kesana Bee...


Dan tunggu aku menjemputmu.


*


*


*