
Pov Mas Abhi
"Teman mas Abhi yang waktu itu dokter kan? Bisa tidak mas Abhi hubungin dia? Adakah orang yang butuh donor ginjal. Saya mau jual ginjal saya"
Aku sempat dibuat terkejut dengan ucapan seorang gadis yang basah kuyup dihadapan ku itu. Beberapa hari tidak bertemu dengannya rupanya dia semakin ngawur saja.
Sebegitu pentingnya kah uang baginya sampai dia harus rela jual ginjal segala.
"Maaf mas Abhi lupakan saja. Anggap aku tak pernah mengatakan itu. Permisi"
Namun sedetik kemudian dia berubah fikiran dan langsung ngelonyor begitu saja. Tidak ada adegan seperti biasanya seperti saat bertemu denganku dulu. Syukur lah setidaknya dia sudah lebih waras lagi. Lagi pula itu bukan urusanku.
Segera aku meneruskan membuka gerbang dan kembali ke mobil.
"Papa... itu tadi bundanya Gendis ya? "Ucap putriku saat aku sampai di mobil.
" Bukan Gendis hanya orang gila yang hujan-hujanan malam hari"Ucapku asal.Keterlaluan memang tapi whatever....
Mata Gendis nampak berkaca-kaca.
"Papa bohong itu bundanya Gendis, bundanya Gendis bukan orang gila. Bunda..... bunda....... " Teriak putriku dengan lantang.
Entah pelet apa yang digunakan perempuan itu sehingga putriku sampai mau memanggilnya bunda. Padahal hampir semua yang mendekatiku tak sampai membuat Gendis seperti ini.
"Tuh... kan.. Gendis. Buktinya pas Gendis panggil dia gak noleh. Itu berarti dia bukan bundanya Gendis"Bohong ku masih mencoba merayunya.
Kali ini mata putriku tidak lagi berkaca-kaca tapi sudah mengeluarkan butiran air mata.
"Gendis anak yang nakal ya pa? Sampai bundanya Gendis gak mau nemuin Gendis lagi. Padahal waktu Gendis sedih dan sembunyi dikamar papa, bunda bilang Gendis bukan anak nakal.Dulu mama yang ninggalin Gendis sekarang bundanya Gendis juga"
Deg
Ya Tuhan....
Untuk pertama kalinya kulihat putriku menangis untuk orang lain. Apa aku salah sangka pada perempuan itu.Bahkan ucapan Gendis pun sama dengan perempuan itu. Entahlah....
Ku elus pelan rambut putriku.
"Siapa bilang Gendis nakal. Putri ayah ini yang terbaik didunia" Ucapku sambil mengangkat nya ke pangkuanku.
Ada rasa sesak dihatiku. Harusnya anak seusia Gendis mendapat kasih sayang kedua orang tuanya. Nyatanya aku dan mamanya Gendis telah berpisah. Aku fikir kasih sayangku cukup untuknya. Ternyata Gendis memang membutuhkan sosok seorang ibu.
"Pa.. pa... besok anterin Gendis ketemu sama bundanya Gendis ya. Gendis mau minta maaf. Gendis udah jahat sama bundanya Gendis selama ini. Kalau Gendis sudah dimaafin kan Gendis bisa main sama bundanya Gendis lagi. Kayak yang kemarin itu. Gendis ditungguin ngerjain PR, Gendis juga di boboin sama bunda. Bahkan Gendis juga dimandiin lo yah sama bundanya Gendis" Celoteh Gendis panjang lebar.
Entah aku harus senang atau tidak dengan pengakuan Gendis.Aku cukup merasa bersalah dengan ucapanku kemarin. Rupanya perempuan itu tak se bar-bar yang aku kira. Bukan kamu yang salah sayang tapi papa!!
Mungkin benar apa Gendis kalau besok aku juga harus menemuinya. Setidaknya aku harus meminta maaf padanya.
Berikutnya aku hanya mengangguk dan otomatis membuat Gendis bersorak gembira.
Sesederhana kah itu membuatmu gembira nak..???
****
Pagi ini aku sudah duduk manis didepan sebuah rumah kos-kosan bersama putri cantik ku.Hal yang hampir tidak pernah aku lakukan seumur hidupku. Pun sama dengan Gendis Tak seperti biasa nya Gendis terlihat antusias sekali.
Ah... putriku sebegitu rindunya kah kamu pada sosok seorang ibu. Andai mamamu tidak meninggalkan kita waktu itu. Mungkin kita akan menjadi keluarga paling bahagia sedunia.
"Mas Abhi ya..? He.. he.. maaf mas, tapi Binar nya udah pulang kampung tadi pagi-pagi sekali" Ucap perempuan yang menemuiku.
Jadi perempuan itu pulang kampung. Pantas saja, coba saja kalau dia tau aku sengaja datang kesini untuk menemuinya pasti sudah heboh sendiri.
"Bundanya Gendis baliknya kapan tante Reni? " Tanya Gendis putriku. Aku saja tidak pernah tau nama-nama tetangga dekat rumahku. Tapi kenapa putriku ini yang malah mengenal mereka.
"Sepertinya bundanya Gendis gak akan balik sayang. Bundanya Gendis akan menetap dikampung halamannya"
Benarkah demikian....
Tiba-tiba kulihat putriku itu matanya berkaca-kaca. Untuk kesekian kalinya putriku menangis karena Binar.
"Karena Gendis selalu nakal sama bunda ya tante makanya bunda Gendis gak mau balik lagi dan ketemu Gendis? "Tanya polos putriku.
Sungguh aku tak tega. Bahkan membuat Gendis menangis pun aku tak pernah. Kini orang lain yang membuatnya sedih.
" Bukan sayang tapi bundanya Gendis mau menikah. Mau tinggal dikampung aja setelah itu"Ucap perempuan yang bernama Reni itu. Entah apa niatnya mengucapkan itu sambil melirik ku.
Bahkan aku tak ada hubungan apapun dengan Perempuan yang bernama Binar. Bagus dong kalau Binar mau menikah. Itu artinya setelah itu hidupku akan bebas.
"Hua... Hua... kenapa bunda nikahnya gak sama papa aja biar bundanya Gendis bisa bareng sama Gendis terus"
Ya Tuhan....
Kenapa putriku jadi segitunya. Apa untungnya coba punya ibu tiri seperti Binar-binar itu. Mau jadi apa dia kalau sampai punya ibu sambung seperti Binar. Gadis urakan yang gak punya sopan santun.
"Gendis sayang... ayo kita pulang saja" Ajak ku kemudian.
"Tapi Gendis gak mau pulang, maunya sama bundanya Gendis papa? "
"Nanti deh.. papa cariin yang satu spesies" Ucapku asal
"Apa itu satu spesies papa? " Tanya Gendis, Entah kenapa kata itu yang keluar dari mulutku. Jadi bingung sendiri kan ngejelasinnya kayak gimana.
"Maksudnya nanti papa cariin bundanya Gendis deh"
"Beneran ya papa"
Mau tak mau aku pun mengangguk. Entah nanti aku berkelit bagaimana. Yang penting Gendis mau pulang dulu saat ini.
"Kalau gitu saya permisi mbak" Ucapku pada perempuan bernama Reni itu.
"Tunggu mas Abhi" Ucapnya tiba-tiba saat aku akan beranjak.
"Tunggu sebentar" Ucapnya lalu berlari menuju kedalam. Tak berapa lama Reni datang lagi membawa sebuah kotak.
"Ini dititipin Binar beberapa hari yang lalu. Tapi saya belum sempat kasihkan sama mas Abhi. Saya pikir Binar bakal balik terus ngasih langsung ke bapak. Tau nya dia datang lagi beresin baju-bajunya" Jelas Reni panjang lebar.
Ku lirik sebentar isi didalamnya. Ternyata sepatu kaca yang pernah ku belikan dulu. Lagi-lagi aku hanya mengangkat bahu. Terserah saja lah..
"Makasih" Ucapku datar lalu menggandeng tangan putriku.
"Binar itu suka beneran lo sama bapak. Asal mas Abhi tau, Binar menikah karena dia habis ditipu sama bibinya. Uang untuk bayar hutang ditilep.Jadi Binar harus mau nikah sama orang yang ngasih hutangan untuk pengobatan ayahnya dulu" Teriak Reni
Entah apa maksudnya bilang semua itu padaku. Lagi-lagi sudah ku tegaskan jika aku tidak ada rasa dengan makhluk bernama Binar itu.
"Kalau mas Abhi mau saya kasih deh alamatnya Binar. Tapi kalau gak mau, saya masih satu spesies lo sama Binar. Boleh banget dijadikan bundanya Gendis" Teriak Reni gak ada akhlak.
Tak ku hiraukan teriakan perempuan itu. Segera ku percepat langkahku meninggalkan tempat ini.
Bisa makin Gila aku
*
*
*