Nguber Duda

Nguber Duda
Delapan Puluh



Author Pov


Seorang laki-laki sedang berjalan mondar-mandir di dalam rumahnya. Sedangkan tiga orang perempuan hanya memperhatikan sang lelaki dengan bingung. Entahlah.. apa yang terjadi dengan laki-laki yang berjalan mondar-mandir itu? Padahal saat keluar rumah tadi lelaki itu masih baik-baik saja. Tapi setelah pulang kenapa justru membuat bingung seisi rumah.


"Bang... ngapain mondar-mandir dari tadi sih, bikin sakit kepala tau" Ucap Ningsih salah satu nama perempuan itu.


Sang lelaki yang yang ternyata juragan Santos itu menoleh ke arah istri kedua nya.


"Aku merasa terhina, baru kali ini ada perempuan yang berani menolak ku. Padahal aku adalah orang terkaya di desa ini. Berani sekali dia menolak ku" Ucap juragan Santos dengan penuh amarah.


"Apa bang?Jadi abang sudah mencari calon istri ke empat lagi. Apakah abang masih kurang punya tiga istri " Ucap Dinda istri ke tiga dari juragan Santos.


"Diam kamu Dinda, kalau bukan karena aku gagal menikah, i Binar maka aku belum tentu akan menikahimu" Teriak juragan Santos.Mendengar teriakan Suaminya Dinda pun terdiam dari pada dia kena damprat.


"Ceh... jadi masih tetap perempuan itu bang? Apa bagusnya coba?Cantik sih...???Tapi dia itu hanya anak dari mantan perempuan gila. Apa abang tidak takut nanti ketularan gila. Lagian abang sudah ditolak bukan? Bahkan dia sudah punya suami juga. Jadi untuk apa abang masih mengejar nya" Ucap Ningsih Sinis.


"Betul itu mbak? " Sahut Dinda masih takut-takut. Takut dia akan dimarahi lagi.


"Bukan apa-apa aku hanya masih penasaran juga dengan perempuan itu. Kalian tidak masalah kan kalau aku menikah lagi" Ucap juragan Santos


"Aku tidak setuju bang enak saja, kita kan baru sebulan menikah bang. Apa kata orang nanti? Dipikir nya abang tidak pu*as dengan aku makanya abang menikah lagi"Rengek Dinda, ternyata harga dirinya membuatnya mau mengungkapkan isi hatinya.


Perlahan juragan Santos mendekati Dinda dan merangkul istri ketiganya itu.


" Tidak akan ada yang berani mengatakan hal itu pada istri juragan Santos. Bilang sama abang jika ada yang berani mengatakannya.Lagi pula jika aku menikah lagi aku tidak akan melupakan kalian. Coba kamu tanya Rania dan Ningsih. Saat mereka aku madu maka uang bulanan mereka akan bertambah. Bukan begitu Rania, Ningsih? "


Yang ditanya hanya mengangguk saja. Sementara mata Dinda sudah berbinar.


"Benarkah mbak Rania,mbak Ningsih? " Tanya Dinda antusias.


"Tentu saja, mana mungkin aku bohong. Bahkan sekarang aku akan menawarkan pada kalian? Siapapun yang berhasil membujuk Binar untuk menikah denganku maka aku akan memberi uang belanja lebih besar lagi" Ucap juragan Santos penuh keyakinan.


Sontak mendengar uang belanja yang besar membuat mata Ningsih dan juga Dinda berbinar.


Sementara Rania istri pertama dari juragan Santos hanya geleng-geleng kepala mendengar obrolan tiga orang dihadapannya.


Ah.. Rania bahkan sudah mati rasa saat suaminya itu berbicara tentang perempuan. Dulu sebelum suaminya mem poligami nya. Suaminya itu sudah sering gonta-ganti pacar. Jadi Rania sudah kebal jika suaminya akan menikah lagi. Lebih baik bukan dari pada harus berbuat zina.


"Oh iya bang, besok adik ku Vano mau datang kesini. Abang ingat kan dengan janji abang saat menikah dengan Ningsih dulu. Abang akan memberikan pekerjaan yang layak untuk adik ku itu setelah dia lulus kuliah" Tagih Rania.


Jujur dia bukan seperti Ningsih dan Dinda yang gila harta. Tapi Rania juga tidak munafik jika dia harus mengamankan masa depannya dan juga keluarganya.


"Terserah kamu, urus saja adikmu itu, terserah dia mau bekerja dimana nantinya. Aku ada pekerjaan lain yang lebih penting"Ucap juragan Santos lalu meninggalkan ketiga istrinya.


Sementara itu Ningsih mendekati Rania.


" Jadi si Vano itu akan tinggal disini Ran? "Tanya Ningsih kepo.


Rania hanya mengangguk kemudian menyusul suaminya.


Sepeninggal Rania Ningsih tersenyum. Entah apa yang difikirkan perempuan itu saat ini. Sementara Dinda berusaha menyusun strategi untuk menjadikan Binar sebagai istri ke empat suaminya. Tidak masalah jika dia dimadu. Toh sebelumnya juga sudah seperti itu. Yang terpenting setelahnya Dinda bisa hidup makmur dengan harta yang dijanjikan suaminya.


*****


Sementara itu ditempat lain....


" Ya ampun Vik,kan sudah tante bilang bawa mobil tante kenapa kamu malah bawa mobil rosokan ini"Omel Meris (Mamanya Abhi ya biar gak repot) pada Vika.


"Ck.. tante jangan bilang rosokan dong, ini itu mobil antik. Vika belinya itu mahal tau" Omel Vika yang tak mau kalah.


Jelas saja Vika marah karena mobil yang dibawanya ini memang mobil antik yang harganya cukup mahal. Sayang hanya Vika yang tak mengerti mesin jadi sering kali mogok seperti ini.


"Tante tau, hanya saja kalau mobil itu dibawa ke pedesaan kayak gini ya gak pas saja. Medannya itu gak tepat. Pantasnya emang ditaruh di museum aja mobil kamu"


Vika hanya manyun saja sambil mencoba mencari kerusakan mobilnya. Meskipun tidak Terima dengan makian tante Meris terhadap mobilnya tapi Vika juga sadar apa yang dikatakan oma nya Gendis ini memang benar. Coba saja Vika sedikit tau mesin pasti kejadiannya gak kayak gini. Vika cuma suka barang antik saja tapi gak tau mesin.


"Terus mobil Vika gimana tante? "


"Ya ditinggal dong, emang kamu mau dorong sampai rumah Binar atau penginapan "


"Kalau memang mau menginap kita cari penginapan disekitar sini aja tante. Siapa tau si Jalu besok bisa nyala"


Puk...


Tiba-tiba Meris menepuk pundak Vika.


"Kamu lihat sekitar dong? Ini itu persawahan. Kalaupun ada penginapan pasti masih sekitar 1Km an atau lebih. Mau kamu dorong mobil sendirian"


Meski keberatan tapi Vika terpaksa harus menggeleng. Ya kale Vika harus mendorong sendirian mobil ini sampai penginapan. Iya kalau dekat kalau jauh gimana dong...


Akhirnya Vika pasrah juga, pokoknya nanti oma nya Gendis itu harus mengganti mobilnya. Kan oma nya Gendis orang kaya dong. Pasti gak akan sulit menggantinya. Kalau Vika harus minta sama mama atau papanya bakal lama. Gini.. ni.. jadi pengangguran mau beli apapun jadi susah. Sepertinya nanti Vika harus mencari pekerjaan.


Saat asyik melamun tiba-tiba lewat seorang yang mengendarai motor matic.


"Stopppppppp..... " Teriak Vika yang otomatis membuat pengendara itu mengerem mendadak.


Dengan segera Vika mendekati pengendara itu.


"Mas... ngerti mesin gak? Bisa bantuin benerin mesin mobil saya gak? " Tanya Vika tanpa basa-basi.


Sementara pemuda itu hanya memandang heran. Sudah membuatnya hampir jatuh karena mengerem mendadak, gak minta maaf, eh.. malah langsung ngerocos saja.


"Sa.... " Ucap pemuda itu terputus.


"Haduh... kalau benerin mobil rosok kamu kelamaan Vik.Gini deh bisa bantuin cari kendaraan buat kami gak mas. Soalnya udah kemalaman juga, kasihan cucu saya kalau kemalaman disini"


Meris menunjuk kearah mobil yang ada anak kecilnya sejenak pemuda itu pun menoleh.


"Kalau tante mau kita bisa tukeran kendaraan. Tante bisa pakai motor saya sementara saya dengan mobil ini. Gak mungkin juga kan saya boncengin kalian bertiga"


"Ok kalau gitu, tapi kamu gak apa-apa kan tukeran dengan mobil ini. Masalahnya ini kita gak kenal, dan tante gak bisa balikin motor kamu.Duh.. tante gak enak mana motor kamu masih baru lagi. Kamu kirim rekening kamu aja biar tante ganti nanti" Ucap tante Meris.


"Gak usah tante, " Jawab pemuda itu.


"Iya lah tan, masih mahalan mobil Vika tau dari pada motor itu. Meski bentuknya kayak gitu" Celetuk Vika yang langsung dapat senggolan dari Meris.


"Maaf.. ya.. keponakan saya ini memang bibirnya lemes banget. Ya sudah kalau gitu, kami bawa motornya dulu" Ucap Meris sambil menggendong Gendis lalu menarik tangan Vika.


Vika nampak masih tak rela meninggalkan mobil kesayangannya. Tapi mau gimana lagi. Terpaksa Vika harus menerima kenyataan yang ada. Dengan berat hati Vika menaiki motor pemuda itu.


Sementara pemuda itu tampak tersenyum senang sepeninggal tiga perempuan beda generasi itu pergi.


"Akhirnya aku bisa menemukanmu bahkan mendapatkan mu mobil antik" Lirih nya sambil menyiumi mobil yang ada dihadapannya.


*


*


*


Lagi-lagi intermezzo...


Kepikiran bikin novel baru lagi. Tapi nunggu tamat dulu deh. Nah di bab ini tu awal mulanya. Penasaran gak...?


Gak tau kenapa setiap bikin novel itu suka saling bersangkutan aja. Biar orang tau kalau novel ini asli bikinan saya ya bukan plagiat. Hi... Hi...


Vote hari seninnya ya kak. Poin nya juga.


InsyaAllah nanti up lagi. Kalau matanya gak sakit. Lagi ada wabah sakit mata dan udah ngerasa gimana gitu matanya. Bismillah semoga gak jadi sakit matanya. 🤭