
"Lancang " Teriak mas Abhi penuh amarah.
Aku yang saat ini sedang menyetrika terlonjak kaget mendengar teriakan mas Abhi. Gak biasanya laki-laki itu berbicara cukup keras. Lagipula kapan datang nya mas Abhi kok aku gak ngelihat sih?
Mau tak mau aku pun jadi penasaran. Segera aku copot colokan setrikaan dan bergegas menghampiri mas Abhi.
Biasanya jam segini aku sudah selesai menyetrika baju. Hanya saja tadi Gendis benar-benar manja padaku. Gadis itu minta ditemani sampai dia tertidur. Makanya saat ini aku masih dirumah mas Abhi untuk menyelesaikan pekerjaan ku.
Bukan karena nunggu mas Abhi lho. Ini tadi beneran karena Gendis. Kalau saat ini aku bisa melihat mas Abhi namanya rezeki anak soleha. Hi.. Hi..
"Ada apa mas kok dibelakang Binar dengar suara mas Abhi kenceng banget" Ucapku ketika sudah sampai dihadapan dia orang.
Ku lihat Mas Abhi yang terlihat kesal dan mbok Sumi yang terlihat ketakutan. Apa mas Abhi memarahi mbok Sumi ya? Emang mbok Sumi salah apa? Gak biasanya?
"Mulai sekarang kamu tidak usah kerja disini lagi Binar. Kamu saya pecat" Teriak mas Abhi tiba-tiba.
Lho.. lho... lho... apa-apaan ini. Kok jadi aku yang kena. Emang aku punya salah apa? Ketemu mas Abhi hari ini aja baru sekarang.Terus salahku dimana?
"Salah Binar apa mas? " Tanyaku penasaran. Gak rela aku di pecat begitu saja. Udah gajinya lumayan majikannya ganteng lagi.Kan double nikmat.
"Kamu gak sadar dengan kesalahan kamu? "
Aku yang masih gak ngerti hanya melongo aja. Kalau aku ngerti sama kesalahan aku gak mungkin aku nanya kamu mas Abhi?
Akhirnya aku hanya menggeleng. Biarin aja deh aku difikir bodoh. Dari pada aku pura-pura tau tapi aslinya emang gak tau. Bisa bikin tambah penasaran kan?
Melihat gelengan kepala ku mas Abhi menghendus kesal. Mungkin benar mas Abhi mikirnya aku bodoh banget. Tapi aku masih lulusan SMA lho mas jadi gak bodoh-bodoh amat.
"Ngapain kamu tadi masuk-masuk kamar saya. Mbok Sumi saja saya larang. Lalu kenapa kamu dengan lancang memasukinya tanpa seizin saya" Ucap mas Abhi lagi.
"Oh..karena itu.... " Ucapku tanpa rasa bersalah.
Lha emang aku gak salah kan. Mbok Sumi juga tau aku ngapain disana. Kalau bukan karena bujuk Gendis aku juga gak mungkin masuk.Kalau Gendis gak aku bujuk jupa pasti bocah itu seharian betah disana. Nanti nyalahin orang lagi.
Lagi pula aku masih tau diri kali mas...Kan belum sah jadi istri kamu mas.Nanti kalau udah sah kamar itu juga bakal jadi kamar aku kan.
Lagiaan kok aku heran. Aku tuh masuk kamar kamu udah dari tadi pagi, kok kamu bisa tau sih. Tau dari mana coba. Emang ada CCTV nya apa? Ngapain coba dikamar pakai dikasih CCTV segala. Ada-ada saja sih kamu mas.
Mungkin karena aku yang memandang remeh kemarahan mas Abhi laki-laki itu terlihat semakin marah padaku.
"Kamu cuma bilang oh.... kamu fikir siapa kamu berani memasuki kamar saya. Jangan fikir karena selama ini saya membiarkan prilaku kamu yang bar-bar terus kamu bisa seenaknya. Kamu dengar Binar. Kamu bukan siapa-siapa saya jadi berhenti mengganggu kehidupan keluarga saya"
Haduh mas.. sekalinya kita bisa berbicara panjang kali lebar kamunya malah marah-marah. Slow aja kali mas...
"Saya masuk kamar mas juga gak ada niatan apa-apa kok mas. Saya cuma bantu mbok Sumi nyari Gendis saja yang kebetulan sembunyi disana. Kalau gak percaya mas bisa tanya sama si Mbok atau Gendis langsung. Iya kan mbok.... " Ucapku pelan sambil mencoba mendapat pembelaan dari mbok Sumi. Namun sayang mbok Sumi terlihat sangat takut. Mungkin karena ini pertama kalinya mas Abhi marah jadi mbok Sumi enggan untuk membantah.
"Kamu lihat kan mbok Sumi hanya diam saja. Sekarang mendingan kamu pergi dari sini dan jangan pernah tunjukkan wajah kamu dihadapan saya maupun putri saya lagi. Satu hal lagi... kalau kamu fikir saya bisa tertarik sama kamu, kamu salah. Saya justru muak melihat tingkah laku kamu. Kamu gak lebih seperti pela**r yang merayu pria hidung belang. Dan maaf saya adalah pria terhormat yang tidak akan pernah terpengaruh oleh kata-kata manismu atau rayuanmu. Atau kamu adalah perempuan miskin yang mengincar orang-orang kaya seperti saya? "
Duar....
Begitu kah tanggapan mu terhadapku mas? Aku tau aku memang terlalu berlebihan selama ini, tapi pernahkah aku sengaja merayumu menggunakan tub*hku. Tidak mas...
Bahkan untuk sekedar sengaja menyentuhmu pun aku tak pernah mas. Aku masih tau batasannya. Aku hanya sengaja merayumu dengan kata-kata ku saja. Tak lebih hanya gurauan semata.
Tapi kenapa kamu bisa berfikir seperti itu tentang diriku.
Tanpa terasa buliran bening keluar dari pelupuk mataku. Dengan cepat aku mengusapnya. Selama ini aku tidak pernah menangis. Bahkan ketika aku dibebani hutang semenjak kepergian ayah pun aku tak pernah menangis. Lalu kenapa sekarang harus kutunjukkan air mata berharga ku pada orang lain.
Kalau itu mau mu mas...
Maka mulai sekarang aku tidak akan pernah mengganggumu lagi.
"Kalau itu mau mu mas maka aku tidak akan pernah mengganggumu lagi. Anggap kita tidak pernah bertemu" Ucapku lalu berbalik meninggalkan rumah itu. Tapi sebelum keluar aku berbalik lagi.
"Satu hal lagi mas, saya bukan perempuan yang kamu tuduhkan. Kalau saya perempuan seperti itu maka dari awal tak akan ku buang waktu untuk merayumu dan menguras hartamu. Oh.. aku ingat... apa karena kamu pernah membelikanku sepatu kaca itu kamu menuduhku seperti itu? Kamu tenang saja mas besok pagi akan ku kembalikan. Lagi pula saya tidak membutuhkannya. Saya akan kembalikan dengan utuh dan tentu saja masih baru"Ucapku kemudian lalu benar-benar meninggalkan rumah mas Abhi.
Setelah cukup jauh berjalan aku akhirnya bisa mengeluarkan air mataku dengan puas. Rasanya sakit mendapat tuduhan seperti itu dari orang yang kita kagumi.
Tapi entah mengapa rasa cintaku pada pria itu tidak berkurang sedikitpun. Kenapa kamu tega banget sama aku mas....
Tapi aku sudah bertekad mulai sekarang aku tidak akan mengganggumu lagi. Kalau kehadiran ku adalah duri bagimu maka aku akan menjauh...
(Ku kan menghilang jauh darimu, tak terlihat sehelai rambut pun. Tapi dimana saat kau terluka cari aku.. ku ada untukmu)
Jiah... saat sedih-sedihnya seperti ini. Masih sempat-sempat nya aku menyanyi.
Mak... anakmu patah hati lagi. Kali ini patah hati beneran...
Entahlah...
Tiba-tiba saja aku kangen ibu yang ada di kampung halaman . Sudah hampir empat tahun aku merantau untuk melunasi hutang kami. Mungkin saat ini hutang kami pun sudah lunas. Apa aku pulang saja ya... ?
Disamping aku yang rindu ibu dan adikku, aku pun juga ingin sekedar menenangkan hatiku.
Aku akan meminta izin sama mas Johan dan mbak Maya dulu. Siapa tau mereka memberi izin. Toh selama ini aku belum pernah libur sekalipun. Luka itu segera terobati begitu aku mengingat ibu.
"Ibu aku pulang...... "
*
*
*
Sabar dulu ya Binar mau ngungsi kekampung dulu. Nguber mas Abhi nya di pending dulu. Kamu sih mas kejam amat sama Binar.