Nguber Duda

Nguber Duda
Enam puluh Tiga



Pov Abhi


Tiga hari setelah dirawat putriku Gendis akhirnya diperbolehkan pulang. Sementara Hana masih harus di rumah sakit setelah pemulihan paska oprasi transplantasi ginjal.


Sebenarnya aku masih ingin menunggui dan mendampingi Hana saat masa pemulihannya. Hanya saja,begitu ku lihat Binar aku menyadari aku begitu bersalah padanya. Setidaknya waktu itu Binar sudah mengizinkan ku mendampingi Hana saat oprasi dan aku tak ingin membuatnya semakin terluka lagi. Ya... sungguh aku menyadarinya apalagi sejak Binar yang mengetahui ku membohonginya.


Ada yang aneh dengan Binar.


Binar ku seperti bukan Binar yang dulu. Perempuan yang berstatus sebagai istriku itu terlihat lebih pendiam dari biasanya.


Ah... sungguh aku merindukan sikap cerewetnya itu.


Tidak... tidak... tidak...Kenapa aku bilang suka dengan perempuan cerewet.


Bukankah aku lebih menyukai perempuan yang anggun seperti Hana. Kenapa juga sekarang aku malah memikirkan Binar.


Ternyata dicuekin itu memang gak enak ya. Lalu apa kabar Binar yang ku perlakukan seperti itu selama ini.Sepertinya aku harus sungguh-sungguh meminta maaf padanya dan memperbaiki hubungan kami.


Benar kata mama Hana adalah masa laluku dan Binar adalah masa depanku. Terlepas saat ini aku mencintainya atau tidak. Tapi aku tak ingin bercerai untuk yang kedua kalinya.


Bergegas aku keluar dari kamarku dan mencari keberadaan Binar. Mumpung Gendis sedang dibawa sama mama. Putri kecilku itu minta dibelikan mama mainan karena mama baru bisa menjenguk Gendis saat keluar dari rumah sakit. Katanya hukuman buat mama.Sebenarnya sudah aku larang tapi sepertinya akan sulit mencegah kemauan putriku itu. Tidak apa-apa setidaknya aku punya kesempatan berbicara berdua dengan Binar.


Tak begitu lama aku menemukan keberadaan Binar...


Lagi-lagi aku mendapati dia yang sedang duduk dan menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong. Entah apa yang dia fikirkan sehingga dia melamun seperti itu. Sungguh aku jadi tidak tega. Apakah aku sungguh membuatnya sangat terluka?Aku jadi ingat sikap Gendis saat kehilangan mama nya dulu.


"Bee... " Sapa ku padanya sejenak Binar melihat ke arahku, tersenyum sebentar lalu kembali memandang lurus ke depan.


Biasanya saat ada diriku, Binar pasti bergelayut manja denganku. Sembari merayu atau sekedar mengerjai ku. Tapi sekarang bahkan Binar hanya tersenyum saja tanpa berbuat apa-apa.


Lagi-lagi ada yang hilang.


Apasih....???


Segera ku enyahkan fikiran itu dan kembali fokus dengan tujuan awal ku.


Aku segera duduk disampingnya. Harus aku mulai dari mana aku bicara. Jadi bingung sendiri.


"Aku sudah menemui dokter Sania mas dan aku sedang tidak hamil sekarang. Apakah sesuai perintahmu dulu aku harus ikut program supaya tidak hamil "Ucapnya masih tak menandangku.


Eh... kenapa tiba-tiba Binar bertanya seperti itu padahal kan niatnya aku tidak membicarakan hal itu. Bahkan aku sempat lupa lagi.


"Sampai kapan mas aku harus menunda kehamilan. Satu tahun, dua tahun atau tiga tahun? " Tambahnya lagi dan masih dengan tatapan kosongnya.


Dicerca pertanyaan seperti itu aku jadi bingung mau menjawab seperti apa? Haruskah aku mengatakan yang sejujurnya ? Lalu apakah nanti Binar mau menerima keputusanku jika aku memang sedang tidak ingin mempunyai anak lagi. Entah sampai kapan? Masih ada trauma saat aku membesarkan Gendis sendiri.


"Kita bicarakan nanti saja Bee.. untuk sekarang sebaiknya kita bicarakan hubungan kita dulu. Aku tau aku salah makanya aku mau mulai semuanya dari awal" Ucapku akhirnya.


Tak tega juga aku harus mengatakan yang sebenarnya. Biarlah nanti aku ulur-ulur saja. Siapa tau ditengah jalan nanti aku bisa mengubah keputusanku dan mau punya anak lagi.


Tiba-tiba Binar menghadap kearah ku. Entah apa yang sedang difikirkan nya saat ini. Ah... kenapa jadi serumit ini.Padahal aku cuma belum ingin punya anak lagi dalam waktu dekat.


"Saat ini kita sedang membicarakan hubungan kita mas. Kamu mungkin tidak khawatir karena sudah ada Gendis dihidup kamu. Sungguh akupun sudah menganggap Gendis sebagai putriku sendiri. Hanya saja aku juga ingin seperti perempuan lain diluaran sana. Aku ingin rasanya mengandung, aku ingin rasanya melahirkan, menyusui bahkan juga merawat anak ku secara langsung. Mulai dari saat dia masih bayi sampai dewasa nanti"


"Kita bicarakan nanti saja ya Bee... " Ucapku akhirnya. Setidaknya itu yang bisa aku ucapkan sekarang. Sungguh aku masih bingung dengan keputusan apa yang aku buat.


"Aku bukan perempuan mandul mas. Beda ceritanya jika aku memang tidak bisa memberi mu keturunan. Meskipun aku mencintaimu tapi aku tidak menginginkan semua ini. Lebih baik kita akhiri sekarang dari pada nanti"


Satu tetes bening mengalir di pipi Binar. Bersamaan dengan hatiku yang bergetar.


Apa maksud kata akhiri yang Binar ucapkan barusan. Kenapa rasanya sakit. Seolah kejadian saat Hana meminta mengakhiri pernikahan kami terulang lagi.


Tidak....


Tidak akan ku biarkan semua itu terulang lagi. Sungguh aku tidak rela.


"Tidak ada kata akhiri Binar, sampai kapanpun aku akan pertahankan pernikahan ini"


"Bukankah ini kesempatan emas buat kamu mas, mbak Hana sebentar lagi akan sembuh. Kalian bisa berkumpul lagi seperti dulu. Asal kamu tau mas, meskipun aku istri kamu tapi aku merasa jadi orang ketiga diantara kalian"


Setelah itu bukan hanya satu tetes air mata yang jatuh tapi tangisnya kini sudah pecah.


Ya Tuhan.. kenapa dada ini rasanya sesak melihatnya menangis.Seperti itu kah yang sedang kamu rasakan Bee. Kenapa aku merasa menjadi suami yang sangat jahat sekali.


Segera aku merangkul tubuh rapuh itu.Tapi Binar melepas pelukan itu.


"Jangan.. mas... jangan buat keputusanku berubah karena sikap pedulimu yang hanya sesaat. Tapi nyatanya setelah itu kamu menyakitiku lagi.Maaf mas aku menyerah lebih awal. Mungkin ini memang jalan yang terbaik untuk kita semua"


"Gak... gak.. Bee.. aku gak mau seperti ini. Kalau perlu aku bakal cabut permintaan ku soal program kehamilan itu. Kamu bisa hamil kapanpun kamu mau"


Rasanya aku gak sanggup jika benar harus berpisah dengan Binar. Tidak... aku tidak mau seperti itu. Bukan ini yang aku inginkan.


"Mama sudah peringatkan semua ini sejak awal kan Bhi. Sudah mama bilang jauhi Hana tapi kamu malah lebih perduli padanya dari pada istrimu.Bahkan kamu meminta Binar untuk tidak hamil. Sungguh kamu keterlaluan,mama kecewa sama kamu" Ucap mama yang baru saja datang.


Apa-apaan mama ini, kenapa datang-datang mama malah mendukung permintaan Binar untuk berpisah dengan putranya sendiri.


"Ma.. gak usah memperkeruh keadaan" Ucapku kemudian.


"Bukan mama tapi kamu, mulai saat ini Binar akan tinggal di rumah mama. Sampai kamu benar yakin siapa orang yang kamu rindukan. Ayo Bee.. kemasi barang-barang kamu. Mulai sekarang kamu akan tinggal dirumah mama" Ucap mama tanpa beban.


Padahal dunia ku saat ini sedang Runtuh.


*


*


*


Dikit-dikit kak ya.. yang penting bisa up tiap hari dulu. Masih ngerasa gak enak aja badannya.


Siapa yang minta Binar sama mas Abhi dipisahkan? Nih udah dipisahin sama mama nya mas Abhi. Biar kapok dirumah sendiri. Nangis-nangis kamu tuh mas.


Tetap gak lupa ngingetin. Like, komen and Vote ya kak.


Poin nya.. poin nya.... dong. Hi... Hi...