
Pov Abhi
Tak pernah ku bayangkan jika aku akan menikah lagi setelah perpisahan ku dengan Hana. Jujur... aku masih sangat mencintai mantan istriku itu. Hanya saja aku tidak ingin menahannya terlalu lama di saat dia sudah mengatakan tidak mencintai ku lagi.
Katakanlah aku pengecut. Ya.... harusnya aku mempertahankan Hana waktu itu. Tapi aku tidak ingin Gendis terluka karena selalu melihat pertengkaran ku dengan Hana yang selalu ingin berpisah dariku.Setiap hari setelah Hana yang baru pulang dari luar kota.
Entahlah...
Akupun tidak mengerti kenapa Hana tiba-tiba berubah begitu cepat.Apakah karena ada laki-laki lain? Sungguh aku pun tidak yakin. Karena selama ini hubunganku dengan nya baik-baik saja bahkan terkesan sangat harmonis.
Aku sadar saat perpisahan itu terjadi bukan hanya aku yang terluka tapi juga putri ku, Gendis. Gendis..gadis kecil yang selalu ceria itu perlahan mulai tak banyak bicara dan menjadi lebih pendiam setelah mamanya meninggalkan nya.
Aku pun bingung harus dengan cara apa aku mengembalikan keceriaan Gendis.
Hingga satu tahun kemudian aku memutuskan pindah rumah. Meninggalkan kenanganku dengan Hana dan berharap putriku dan aku bisa memulai kehidupan kami yang baru. Dan disinilah awal kisahku dimulai.Kisah yang entah berakhir bahagia atau berakhir sama dengan kisahku sebelumnya.
Pertemuan ku dengan seorang perempuan yang aku bilang cukup aneh itu.
Ya...
Dia gadis bar-bar dan tak tau malu itu dengan lantangnya membacakan puisi didepan rumahku.Didepan orang banyak, karena saat itu aku mengundang mereka di acara syukuran menempati rumah baru.
Malu...
Tentu saja, siapa yang tidak malu diperlakukan seperti itu. Kenal juga tidak. Gadis bernama Binar yang baru ku ketahui namanya sehari setelahnya itu benar-benar keterlaluan. Bahkan tanpa tau malu gadis itu mengejarku setiap hari.Meneriakkan namaku setiap pagi di gerbang rumahku. Bahkan dengan centilnya dia berharap aku jadi suaminya.
Ingin rasa nya aku pindah rumah lagi. Tapi Gendis menolak. Gendis bilang sudah kerasan dirumah baru itu. Bahkan baru sehari tinggal dirumah itu Gendis sudah mulai berceloteh seperti biasanya. Kalau sudah begini mana bisa aku memaksanya.Lagipula aku tak ingin Gendis sedih lagi.Aku ingin anakku merasa bahagia juga.
Sebenarnya aku cukup penasaran dengan perubahannya lagi. Tapi karena aku cukup sibuk saat itu, maka aku sempat mengabaikannya. Hingga saat dirumah mama dan saat aku mengajak Binar kesana, baru ku ketahui jika Gendis cukup akrab dengan Gadis bar-bar itu. Bahkan dengan entengnya Gendis memanggil Binar dengan sebutan bunda.Ya... aku ingat Gendis memanggilnya dengan sebutan Bundanya Gendis.
Bunda... sebutan sejenis dengan mama.
Aku sempat tak percaya, mungkin saja Gendis hanya bercanda atau sekedar tak mengerti dengan sebutan bunda.Karena tak pernah aku melihat Gendis seperti itu. Bahkan dengan Vika yang sering kerumah mama pun Gendis tak seakrab itu.
Hingga... pertemuan kembali dengan Binar setelah aku sempat meminta perempuan itu untuk menjauh, i kami Gendis begitu sedih. Bahkan putriku menangis karena Binar.
Aku bisa apa saat Gendis terus menangis dan merengek minta ketemu dengan bundanya, bahkan dengan mamanya Gendis bahkan belum pernah minta ketemu. Semenjak perpisahan kami setahun yang lalu Gendis tak pernah bertemu dengan mamanya.Dan Binar... siapa dia?
Demi... putriku...
Ya... demi Gendis aku buang egoku dan meminta alamat kampung Binar pada temannya itu. Bahkan aku rela merogoh kocek yang lumayan untuk membebaskan Binar dari hutang itu.
Sungguh aku tak pernah berfikir untuk menikahinya. Mana bisa aku menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Aku hanya berharapnya Binar terbebas dari hutang kemudian bisa kembali ke kota dan menemani Gendis.
Tapi saat disana keadaan nya jadi berbeda. Putriku terlalu lengket dan sulit dipisahkan dengan perempuan bernama Binar itu. Bahkan dengan celotehan nya Gendis menginginkan Binar jadi mama nya.
Awalnya aku biarkan. Hingga seorang bernama Santos itu membentak putriku dihadapanku. Sipa dia berani melakukan itu? Sungguh emosiku sungguh meledak. Dan inilah akhirnya...
Terpaksa aku pun harus menikahi Binar. Gadis bar-bar yang belum aku cinta.
*****
Ku pandangi kamar berukuran 3×3 yang aku tempati saat ini sambil merebahkan tubuhku diatas kasur.
Lelah...
Itulah yang aku rasakan saat ini. Perjalanan yang cukup jauh dan juga rangkaian acara sepanjang pagi hingga sore hari membuatku sangat lelah. Tapi bisakah aku tertidur pulas saat ada seorang perempuan yang juga berada didalamnya.
Gadis itu terlihat malu-malu. Bahkan sikap bar-bar yang dia tunjukkan sepanjang siang tadi lenyap begitu saja. Kemana perginya Binar yang berani?
Rasanya aku pengen tertawa melihatnya.
Aku sadar apa yang perempuan itu bayangkan saat ini. Tapi haruskah aku menyentuhnya? Bahkan rasa cintaku masih belum ada.
Namun tidak adil baginya jika aku mengabaikan begitu saja. Bukankah laki-laki bisa melakukannya walau tanpa cinta? Entahlah... biarkan semua mengalir dengan sendirinya dan berjalan dengan semestinya.
Baiklah...
Kini saat nya aku yang berbalik membalas perlakuannya tadi padaku.
"Kamu mau tidur atau masih mau tetap disana" Ucapku sambil menopang kepalaku dengan tanganku.
"Ti.. dur.. kok...mas .Tapi sebentar lagi" Jawabnya sambil tersenyum malu-malu.
"Kenapa harus nunggu sebentar lagi. Bukannya tadi kamu menyuruhku makan yang banyak supaya aku kuat. Ya sudah sini biar aku buktikan... " Ucapku sambil menepuk sebelah ranjang ku yang masih kosong.
Kalau saja itu ku ucapkan pada perempuan yang aku nikahi karena cinta mungkin aku akan bahagia bahkan aku akan dengan senang hati menggodanya.
Tapi saat ini yang ada dihadapanku bukan Hana tapi Binar ,perempuan yang katanya mencintaiku tapi belum aku cintai.Saat ini pun aku hanya berusaha melakukan kewajiban ku memenuhi hak nya saja.
Binar yang aku panggil masih mematung ditempatnya.
"Binar.... " Panggil ku...
Perlahan perempuan itu mendekat kearahku dan duduk disamping ranjang yang masih kosong. Kali ini aku merubah posisiku menjadi duduk dan mendekat kearah Binar yang memunggungiku.
"Mau dilakukan langsung atau kita sholat sunnah dulu" Ucapku.
"Sholat sunnah dulu aja mas" Jawabnya malu-malu.
Sebenarnya aku berharapnya Binar yang nolak aku. Tapi apa iya dia akan melewatkan semua ini, sedangkan dia sudah terlalu berharap lebih. Ini salahku yang terlalu gegabah mengambil keputusan menikahinya tadi. Sekarang akupun jadi dilema...
Akhirnya aku dan Binar pun melaksanakan sholat sunnah berjamaah dua rakaat.
Dalam doaku...
Aku hanya berdoa saat membuat keputusan menyentuhnya malam ini, tidak akan ada penyesalan dikemudian hari. Semoga saja....
Haruskah aku berusaha mencintainya setelah ini? Entahlah... hanya waktu yang akan menjawabnya nanti.
Begitu.. sholat sunnah dan doa selesai ku panjatkan segera aku membalik tubuhku ke hadapannya. Menatap perempuan yang ada dihadapanku saat ini. Perlahan dengan pasti. Seperti air yang mengalir begitu saja.Akhirnya malam ini pun benar-benar terjadi.
Seperti doaku sebelumnya. Semoga aku tidak menyesal kelak.
*
*
*
Hayo... siapa yang mikirnya bakalan hot.
Hehe.. ampun ya.. paling gak bisa bikin kayak gitu. Cukup kita bayangin sendiri saja.
Jangan lupa Like, komen and Vote ya. Kalau ada poin lebih boleh disumbangin. Terimakasih.