Nguber Duda

Nguber Duda
Tujuh Puluh Empat



Ku tinggalkan saja mas Abhi. Beruntung aku melihat bang Wawan di pangkalan ojek tak jauh dari tempatku berdiri saat ini. Setelah merebut kunci motor dari tangannya bergegas aku segera naik ke motornya.


"Buruan bang naik" Ucapku yang sudah duduk manis didepan kemudi. Untungnya motor bang Wawan kini berganti matic jadi aku bisa menggunakan nya.Coba aja masih motor ninja dulu pasti aku gak akan berani menaikinya.


Begitu aku merasa ada seorang yang sudah naik di belakang jok motor yang ku tumpangi, aku pun segera menancap gas.


Biar saja kutinggal kan mas Abhi disana. Terserah dia mau kembali kerumahnya atau kemana lah.Aku sudah tidak perduli.


Pokoknya aku sebel... banget sama mas Abhi. Sudahlah... ngapain juga aku harus mikirin mas Abhi lagi. Toh.. orangnya juga gak ada disini.


Ku lajukan motorku dengan cepat saat pertama tadi dan berubah santai saat ku rasa jarak ku dan mas Abhi sudah cukup jauh dan aku yakini mas Abhi tidak mengejarku.


Sedikit sakit hati saat aku harus menerima kenyataan mas Abhi gak ngejar aku lagi.


Tuh... kan...


Plin-plan lagi. Ingat Binar mas Abhi gak cinta sama kamu...


Ku hela nafasku dengan pelan.


Tiba-tiba aku merasa aneh, kok tumben banget ya bang Wawan diam aja dari tadi. Biasanya bawel gitu. Harusnya dia nanya dong kenapa aku pulang?


Gak kangen atau apa dia sama aku. Nyebelin banget juga ding. Apa memang sifat semua laki-laki seperti ini. Dasar nyebelin.


Terserah kamu juga deh bang. Aku pun tak lagi memikirkan tentang itu. Biarlah bang Wawan diam saja. Yang penting aku bisa jauh lebih tenang dan bisa mengendarai motor ini dengan selamat sampai rumah ku.


Tapi....


Makin lama kok aku jadi agak lupa jalanan menuju rumah ya? Efek jarang pulang mungkin? Kemarin pas pulang terakhir pun waktu malam hari. Jadi aku tidak terlalu mengingat jalanan.


"Bang habis ini ke kanan atau ke kiri? " Akhirnya ku putuskan saja bertanya dari pada nanti tersesat.


Belum ada jawaban, bang Wawan masih diam membisu.


Aneh....


Akhirnya mau tak mau aku pun menghentikan motorku. Dasar tuman bang Wawan ini. Bukan hal yang baik jika ditanya harus diam saja seperti ini. Kalau dia memang sedang marah padaku, harusnya dia ngomong baik-baik. Bukan malah diam, in aku kayak gini.


"Bang... memang nya aku punya salah apa sama bang Wawan. Kok bang Wawan diamin aku kayak gini sih"


Masih hening....


Ck.. keterlaluan,....


Ku balikan badanku dan sontak saja mataku melotot mendapati mas Abhi yang ternyata nangkring aku boncengin dari tadi.


Tanpa dosa dia hanya nyengir ke arahku


Ya salam...


Pantesan aja ke bawel annya bang Wawan tiba-tiba hilang. Rupanya yang aku boncengin dari tadi itu mas Abhi.


Ngapain mas Abhi ada disini? Kan aku nyuruhnya mas Abhi pulang. Lagian aku juga gak minta dia ikut aku .Masih ingat di ingatan ku kalau aku minta bang Wawan yang naik dibonceng an ku tadi.


"Aku udah nyuruh mas Abhi pulang loh? Ngapain masih ngintilin aku juga. Bang Wawan mana?Kok bisa sih malah mas Abhi yang aku boncengin. Padahal aku tadi mintanya bang Wawan lho bukan mas Abhi? " Tanyaku kemudian


"Wawan aku suruh ngikutin kita dari belakang sayang. Lagian aku gak akan izinin kamu boncengin laki-laki lain selain aku.Bahkan sekalipun itu Wawan" Jawabnya


Kapan nyuruh nya? Memang dia ada waktu gitu nyuruh-nyuruh bang Wawan tadi. Lagian ini malah sok-sokan gak bolehin aku bonceng laki-laki lain lagi. Apa kabar kamu mas yang selalu deket-dekat sama mantan istri kamu.


Terlalu lucu jika aku mengatakan kamu cemburu dengan laki-laki lain. Toh nyatanya kamu tidak mencintaiku mas.


"Kapan mas Abhi nyuruh bang Wawan? " Tanyaku kemudian.Penasaran juga


Mas Abhi tersenyum kearah ku.


Apa?


Jadi mereka sudah bersekongkol sebelum nya? Awas kamu bang Wawan? Tega benar kamu menghianati aku yang adalah keluarga mu sendiri.


"Sayang... tidak apa-apa kita pulang kampung untuk beberapa hari. Anggap saja kita sedang berbulan madu lagi. Setelah itu kita pulang kerumah ya? Gendis sudah menunggu kita dirumah" Ucap mas Abhi sambil menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.


Entah... benar atau salah tapi tatapan itu seperti benar adanya. Aku merasa tatapan itu memang penuh kerinduan.


Tidak... tidak... tidak....


Aku tidak boleh lemah untuk kesekian kalinya. Sekalipun mas Abhi menyebut Gendis dalam ucapan nya.


Bukan aku tidak menyayangi Gendis hanya saja keputusanku sudah bulat. Aku tidak ingin disakiti lagi.


Segera aku turun dari motor dan berjalan meninggalkan mas Abhi.


"Sayang... mau kemana? " Tanya mas Abhi yang masih berada di atas motor.


"Pulanglah mas... sudah ku bilang disini rumahku, aku tidak akan kemana-mana lagi?Aku akan tinggal disini bersama anak ku nanti" Teriak ku.


Mas Abhi berlari mengejarku.


"Sayang... harus dengan cara apa lagi aku meyakinkan mu . Beri aku satu kesempatan lagi untuk membuktikan bahwa ucapanku untuk memulai kehidupan baru dengan mu adalah benar adanya. Bukan hanya denganmu tapi juga Gendis dan juga anak kita nanti"Ucap mas Abhi sambil menakup wajah ku .


Harusnya aku tersanjung dengan segala ucapannya tapi lagi-lagi kenapa tak terucap kata cinta untuk ku di bibirmu mas. Terlalu sulitkah tiga kata itu? Hingga kamu tidak mampu mengucap kan di bibirmu.


Aku jadi ingat dengan perkataan dokter Sania waktu itu?


"Kamu harus bisa hamil Bee.. mungkin dengan itu, Abhi bisa menerima mu dan mencintai mu"


Benar kata kamu dokter Sania. Memang mas Abhi seolah mengatakan dia sudah menerima anak nya.


Ya...


Hanya anak yang ada di rahim ku, tapi bukan diriku atau karena kamu yang sudah mencintaiku mas.Nyatanya tidak ada kata-kata cinta yang keluar dari bibir mu untuk ku. Apa jika saat ini aku sedang tidak hamil kamu akan melakukan hal seperti ini mas?


"Sekarang kita kembali ke motor ya? Gak usah ngambek lagi. Memangnya kamu mau pulang kerumah dengan jalan kaki. Masih jauh lo sayang" Tambah mas Abhi.


Hampir aja aku mau bilang kalau lebih baik aku jalan kaki dari pada harus di boncengin sama mas Abhi. Tapi gak jadi ding.


Realistis aja...


Masa iya hanya gara-gara ngambek aku harus jalan kaki. Masih jauh lagi..


Lagian yang bawa motor tadi kan aku bukan mas Abhi. Harusnya mas Abhi dong yang jalan kaki bukan aku.


Sayangnya aku lupa jalan. Heran...


Ngaku kampung halaman tapi gak tau jalan. Malah mas Abhi yang ingat jalan.


Binar... Binar... gagal deh bikin mas Abhi jalan kaki.


*


*


*


Hi... Hi.. maaf banyak typo. Ngantuk banget...


Ini langsung ketik langsung di upload.