Nguber Duda

Nguber Duda
Enam Puluh Enam



Pov Abhi


"Bhi... Abhi.... " Teriak mama pagi ini. Saat ini aku sedang duduk sarapan sendirian dan mama yang tiba-tiba datang ke rumah sambil teriak-teriak.


Tumben banget mama datang kesini pagi-pagi sekali. Biasanya kalau kesini mama bakal agak siangan dikit nunggu aku berangkat kerja.


"Apa sih ma? pagi-pagi udah teriak-teriak aja" Omel ku pada mama. Biarin, aku memang sedang sebal dengan mama. Gara-gara mama hampir sebulan ini aku tidak bisa bertemu bertatap muka dengan Binar, istriku. Sebenarnya bisa saja aku menemui Binar dirumah mama, toh aku tau letak rumah orang tuaku itu. Hanya saja mama mengancamku jika aku nekat kerumahnya. Mama mengancam akan membawa pergi Binar sejauh mungkin jika aku nekat menemui nya.


Jadilah aku nyewa rumah dekat rumahnya mama untuk mantau Binar dari jauh.


Ya Tuhan...


Benar kata orang, kalau jauh rindu jadi menggebu. Cinta pun baru terasa. Ah... Binar ku semakin cantik saja. Lihatlah...


Bahkan tubuhnya semakin berisi. Berbeda saat masih bersamaku. Apa karena saat Binar bersamaku dia tidak bahagia...


Entahlah...


Ini memang kesalahanku karena aku yang terlalu mengabaikan istriku selama ini.Jadilah aku kena hukuman seberat ini.


Tak apa aku menahan rindu yang penting setelah nya kami bisa bersama lagi. Hanya satu bulan kata mama. Dan ini tinggal beberapa hari lagi.Setelahnya akan ku perbaiki pernikahanku ini.


Aku jadi teringat dengan ucapan empat orang terdekatku.


Benar kata mama, Randy, Hana maupun Sania. Mereka semua bilang jika sebenarnya aku mencintai istriku tapi aku menampiknya, karena aku yang masih terpaku dengan masa laluku dengan Hana membuat aku terlambat menyadari perasaan itu.


Ada kerinduan tersendiri saat mama memboyong Binar kerumahnya. Semua kejadian seolah berputar di kepalaku.


Aku baru tersadar setelahnya jika aku memang mencintainya. Bukan hanya untuk Gendis saja tapi juga untuk diriku sendiri. Sayangnya perasaan itu harus disadarkan saat aku harus berjauhan dengan Binar.


"Kamu nakal banget ya Bhi,udah mama bilang hukuman kamu itu satu bulan gak ketemu Binar malah kamu bawa pergi" Ucap ma sambil menjewer telingaku.


Kebiasaan banget mama, sukanya jewer telinga anaknya. Kurang lebar apa telingaku.


"Apaan sih ma? Bukannya Binar sama mama. Mama sendiri kan yang hukum Abhi gak ketemu Binar selama satu bulan. Mama aja galaknya seperti ini. Mana berani Abhi membantah perintah mama" Ucapku membantu.


Meskipun bohong, toh aku masih sering lihat Binar dari jauh. Tapi apa maksud mama dengan nuduh aku bawa Binar pergi.Kan selama hampir satu bulan ini Binar sama mama.


"Kemarin istri kamu itu izin sama mama buat ketemu sama kamu. Tapi sampai sekarang gak balik lagi kerumah mama. Gimana mama gak curiga kamu nyembunyiin Binar coba"


Kapan Binar ketemu sama aku kemarin? Yang ada kemarin aku kena sial dipeluk-peluk dengan perempuan aneh. Mana ketahuan sama Hana pula. Bukan apa-apa? Hanya saja aku takut Hana akan bilang sama Binar.


Aku gak mau terjadi kesalah fahaman lagi dengan Binar. Setelah sebelumnya dengan Mira kemudian dengan Hana. Tidak boleh ada lagi perempuan lain lagi diantara kami.


Jujur rasaku padaku pada Hana yang sebelumnya aku kira masih ada. Kini telah menguap begitu saja saat Binar tak ada di sisi ku.


"Abhi gak ketemu sama Binar ma? " Jawabku kemudian. Meski aku pun sebenarnya gak faham dengan maksud mama.


"Tapi mama yang nganterin Binar ke kafe tempat biasa kamu makan siang Bhi"


"Apa? " Ucap ku kaget.


Apa mungkin Binar melihat kejadian saat ada perempuan yang duduk dipangkuanku dan memeluk ku itu? Kemudian dia marah dan pergi dari rumah mama.


Duh... kenapa coba hidupku dipenuhi dengan kesalahan fahaman seperti ini.


"Kemarin memang ada perempuan aneh gitu ma, dia takut sama kecoa mainan terus peluk-peluk aku gitu. Apa Binar ngelihat terus dia cemburu lalu pergi ya ma? Kenapa mama gak bilang sih kalau Binar mau kesana? " Oceh ku sama mama.


Bagaimana kalau Binar pergi beneran? Mau dicari kemana coba? Aku bisa tahan kalau Binar hanya ada dirumah mama. Tapi apa kabar diriku jika harus kehilangan dia. Pokoknya mama yang harus tanggung jawab.


Gara-gara mama gak ngebolehin aku ketemu sama istriku sekarang malah jadi runyam. Aku takutnya Binar bakal mikir aku gak perduli padanya dan mencari kesenangan dengan perempuan lain.


"Perempuan nya kayak gimana Bhi, apa berambut pendek dan ada tai lalat nya? " Tanya mama kemudian.


Terlihat mama menepuk jidat nya.


"Ya ampun Bhi... itu Binar istri kamu. Mama memang nyuruh dia nyamar supaya kamu gak ngenalin dia. Hukuman kamu kan masih belum selesai"


Ucapan mama bener-benar membuat ku begitu shock. Jadi perempuan yang bergelayut manja padaku itu adalah Binar, istriku sendiri.


Kalau saja aku tau itu kamu sayang, udah aku pelukin juga kamu waktu itu. Kamu gak tau aja Bee.. gimana rindunya aku sama kamu. Mama memang benar-benar keterlaluan misahin kita.


Kalau Binar adalah perempuan itu? Lalu kenapa juga Binar harus cemburu dan pergi tanpa kabar seperti ini.


Tiba-tiba aku teringat sesuatu.


Hana


Ya Tuhan...


Bukannya setelah itu Hana datang kesana. Apa jangan-jangan Binar mikirnya aku sama Hana masih ada hubungan apa-apa lagi.


"Ma.. Jangan-jangan Binar ngiranya aku masih ada hubungan sama Hana lagi? " Ucapku kemudian.


Mama menatapku dengan tajam


"Kamu ketemuan sama Hana Bhi? Kan udah mama bilang gak usah ketemuan sama Hana dulu. Kamu aja mama larang ketemu sama istri kamu. Kamu nya malah ketemuan sama mantan istri kamu" Oceh mama.


Kenapa coba sekarang mama yang jadi nyalahin aku.


"Hana cuma nitip barang buat Gendis ma? Soalnya Hana mau pergi keluar negri. "


Terlihat mama menghembuskan nafasnya dengan keras. Bahkan mama kini menghempaskan tubuhnya dikursi.


"Cari Binar sampai ketemu Bhi...! Mama gak mau kehilangan menantu dan calon cucu kedua mama"


Deg...


Ucapan mama sekali lagi memporak-porandakan hatiku. Apa maksudnya cucu mama? Siapa yang hamil? Binar kah? Tapi bukannya Binar bilang gak hamil waktu itu?


"Binar hamil ma? " Tanyaku akhirnya. Aku ingin memastikan bahwa apa yang diucapkan mama sebelumnya adalah kebenaran.


Mama memamdangku dengan mata yang berkaca-kaca lalu mengangguk.


Ku tarik rambutku dengan frustasi. Ternyata selain mama yang memisahkan ku dengan istriku.Mama juga menyembunyikan kehamilan Binar.


Rasa bersalah ku pun semakin besar terhadap perempuan yang berstatus dengan istriku itu. Aku ingat betul perkataan ku yang menginginkan Binar untuk tidak hamil. Bahkan ketika Binar bertanya sampai kapan? Aku tak mampu menjawabnya.Apa karena itu juga engkau menghukum aku dengan hilangnya mereka saat ini, Tuhan!


Aku yang salah yang sempat tidak menerima kehadiran mereka. Tapi sekarang sungguh aku sudah menyadari kesalahanku itu.


"Kamu dimana sayang? Please jangan tinggalkan aku seperti ini"


*


*


*


Nah lo... mas Abhi udah sadar dan memang sedang menjalani hubungan.


Kamu pergi kemana sih Bee...?


Maunya kakak-kakak dipisahinnya lama atau bentar saja nih?