
Ku pijat kepalaku yang sudah nyut-nyutan karena memikirkan uangku yang entah raib kemana.
Gila...
Ngilang kemana uang sebanyak itu. Dari ibu aku tau. Kalau selama ini ibu mempercayakan uangnya pada Wawan saja. Toh setelah dapat kiriman dariku Wawan selalu memberikan uang itu pada ibu. Setelahnya baru ibu diantar Wawan menemui Juragan Santos.
Makanya ibu kasihan sama Wawan yang bolak-balik dan memintanya langsung setor pada Juragan Santos saja saat menerima uang kiriman dariku. Karena ibu pun sudah sangat percaya pada pemuda itu.Apalagi Wawan adalah keponakannya.
Apa Wawan yang mengambil semua uang ku itu. Sekilas saat aku kerumahnya tadi. Rumah Wawan memang berubah. Banyak terdapat perabotan yang berkelas disana.
Entahlah...
Tapi aku pun harus minta penjelasan sama Wawan hari ini juga. Mumpung Juragan Santos ada disini.
Sengaja aku suruh Bagas (adikku) yang kebetulan baru pulang dari sekolah untuk memanggil Wawan kemari.
Sepuluh menit kemudian,Bagas pun berhasil membawa Wawan kemari bersama ibunya juga. Bagus lah setidaknya jika Wawan memang bersalah ibunya tidak akan menuduh kami yang macam-macam.Karena dia akan langsung mendengar sendiri.
"Ada apa Binar.. " Tanya Wawan ketika sampai dirumahku. Sepertinya Wawan baru bangun tidur saat diminta Bagas kemari.
"Duduklah dulu bang. Saya hanya mau tanya abang? Bukankah setiap bulan saya selalu mengirim uang lewat rekening abang untuk diberikan kepada ibu? "
"Ya.Lalu...?. " Jawab Wawan.
Sengaja aku mulai pelan-pelan supaya Wawan tidak langsung syok karena saat kulihat waktu datang tadi Wawan baru bangun tidur .
"Abang kasih ibu kan uangnya? Tanyaku lagi.
" Iya Binar... satu tahun pertama memang aku kasihkan bude tapi setelahnya bude memintaku untuk menyerahkan pada juragan Santos langsung supaya saya gak repot? Kenapa? "
"Lalu abang kasih sama juragan Santos? " Selidik ku lebih dalam...
"Ya.. iy... ini maksudnya apa sih Bee.... kok kamu nanyanya kayak gitu? " Ucap Wawan yang lama kelamaan merasa aneh dengan pertanyaanku. Rupanya karena bangun tidur juga dia agak jadi kesal.Apalagi pertanyaan ku seolah sedang mencurigainya.
Walaupun sebenarnya iya? Siapa lagi yang harus saya curigai kalau bukan bang Wawan? Kan transfernya lewat dia.
"Gak.. apa-apa bang. Hanya saja kenapa juragan Santos bilang tidak pernah menerima uang itu dari abang? "
"Ya.. abang... Apa.... " Tiba-tiba Wawan memekik kaget dengan ucapanku. Kata-kata yang keluar dari mulutku sontak membuatnya kini tersadar penuh.
Aku pun sempat terpekik kaget karena teriakannya.
Setelahnya bang Wawan menengok ke belakangnya yang sudah ada Juragan Santos berdiri disana. Kemudian dia menengok kearah ibunya.
Roman-romannya tersangka sebenarnya sudah bisa ditebak meski bang Wawan belum mengungkap kan yang sebenarnya.Karena aku yakin bang Wawan tidak akan berbuat curang seperti itu.
Tampak bibi Harti (ibunya bang Wawan) salah tingkah sejak aku mulai bertanya pada bang Wawan tadi. Apalagi saat melihat keberadaan juragan Santos di sini juga. Ditambah lagi intimidasi dari sorot mata anaknya.
"Aku memang menerima uang kamu Binar tapi setiap kali aku mau setor sama Juragan Santos ibuku yang memaksaku untuk menyetorkan nya. Alasannya karena dia sedang mau lewat rumah juragan Santos" Jelas bang Wawan
"Ibu kasih uang yang Wawan kasih sama juragan Santos kan bu? " Tanya bang Wawan kemudian.
Nah lo kan... ternyata benar ulat nya siapa. Kalau gak ingat dia masih saudara dari ayahku. Sudah aku cakar-cakar wajahnya. Seenak kata dia ngambil uang hasil kerja keras ku. Mana buat bayar hutang lagi.
Tapi bi Harti juga gak bohong sih soal lewat rumah Juragan Santos. Masalahnya saat menuju pasar pasti lewat sana. Jelas aja setelah itu uangku digunakan untuk belanja barang-barang mewah yang ada dirumahnya kini.
"Halah.. kamu gak usah gitu lah Wan, lagi pula kamu juga ikut menikmati uang milik Binar kan? Ucap bi Harti. Sepertinya dia sudah terlanjur terpergok dan gak mau disalahkan sendiri.
"La.. itu motor yang kamu pakai. Cicilannya ya dari uang punya Binar"
Deg
Jadi motor yang dipakai mengantarku pulang malam itu adalah motor hasil dari nilep uangku. Aku menatap dengan tajam ke arah bang Wawan.Rasanya amarahku sudah sampai ke ubun-ubun sekarang. Lagi-lagi kalau gak ingat masih saudara sudah aku cakar-cakar mereka berdua.
"Sumpah Binar abang gak tau. Ibu bilang pas beli motor itu ibu dapat warisan. Aku fikir warisan dari keluarga bapak" Ucap bang Wawan menjelaskan.
Aku percaya bang. Tapi entahlah aku sudah terlanjur kecewa.
"Kalau benar yang ibu bilang motor abang itu dari uang kamu abang rela kok kalau motor itu dijual"Tambahnya lagi.
Kalau bisa bang. Toh melihat sikap ibu kamu yang seperti itu rasanya sangat sulit.
"Gak.. bisa.. gak bisa.. enak aja. .. itu memang hak kita. Motor itu sudah menjadi hak milik kita. Lagipula ibu gak salah. Ibu memang sedang meminta hak ibu juga. Selama ini bang Kusuma ayah kamu itu yang menguasai peninggalan orang tua kami. Bahkan dia juga menjual sawah untuk mengobati ibumu yang gila itu. Sementara aku adiknya, hanya dapat warisan tanah satu petak yang kujadikan rumah itu. Makanya uang kamu bibi ambil sebagai gantinya"Ucap bi Harti seenaknya sendiri.
"Kamu yang gak bisa seenaknya Harti. Uang yang kamu curi itu adalah uang hasil kerja keras anakku. Kalau masalah sawah yang dijual. Mas Kusuma bilang kamu juga sudah diberi bagian. Jangan fikir karena saat itu saya sakit saya tidak tau" Ucap Ibu yang tidak terima.
Dulu.. kata orang-orang sebelum ibu menikah sama ayah ,ibu memang sedang mengalami gangguan mental. Entahlah.. mungkin itulah sebabnya tak ada satupun keluarga ibu yang aku tau.Bahkan ibu pun tak pernah memberi tahu siapa keluarganya. Entah memang tidak mau atau memang tidak ada.
"Bu.. sudahlah.. bu kembalikan uang Binar. Mereka memang butuh untuk membayar hutang" Ucap bang Wawan kemudian.
"Kamu aja sendiri yang balikin. Pokoknya ibu tidak mau" Ucap bi Harti lalu meninggalkan rumah ku begitu saja.
Dasar emak-emak gila harta. Ingin rasanya ku jambak rambutnya biar kapok. Tapi apa kata orang nanti kalau Binar main kasar.
Hah... entahlah... pikiranku sungguh buntu. Apa iya aku harus kerja keras lagi dari awal.
"Jadi bagaimana ini? Kapan uang saya bisa kembali" Ucap Juragan Santos tiba-tiba setelah cukup lama mendengar kami lama berdebat.
"Saya yang akan tanggung jawab juragan. Biarkan saya yang akan mencicil nya"Potong bang Wawan.
Hah... kenapa bang Wawan beda sekali sama bi Harti. Tapi syukur deh kalau memang bang Wawan mau bertanggungjawab.
" Mohon maaf, saya tidak mau dicicil lagi. Sudah cukup saya bersabar menunggu selama ini. Kalaupun kalau kamu mau semua hutang itu lunas. Cukup Binar jadi istri ketiga saya"
Deng.....
Nih.. bapak-bapak emang kayaknya modus banget.Kebanyakan lihat drama di teve makanya dia punya ide kayak gitu. Enak aja Binar yang tak gendol-gendol ngunah ini mau dijadikan istri ketiga.
Duh.. mak... Binar mah gak mau nikah sama Bapak-bapak. Maunya sama mas Abhi aja.....
Biar bapak-bapak tapi masih cetar membahana.
Tapi sayangnya mas Abhi gak mau ding sama aku.
*
*
*
Intermezo dulu. Cari konflik....