Nguber Duda

Nguber Duda
Sembilan Belas



"Gendis"


Ucapku sambil perlahan masuk ke kamar itu. Yang dipanggil melihat kearahku sebentar kemudian menelungkupkan kembali wajahnya di lututnya.


"Gendis sayang... dicariin mbok Sumi tuh. Emang Gendis gak mau berangkat kesekolah apa? " Tanyaku sambil perlahan semakin mendekat.


Aku mendudukkan bokong ku ke ranjang punya mas Abhi. Sepintas aku merasa takjup karena ternyata ranjangnya empuk banget.


Gila beda banget sama kasur lipat ku yang ada di kosan.Kasurnya mas Abhi empuk banget.Pasti nih kalau aku bobok di sini gak nyenyak banget. Kalau aja gak ingat tujuanku disini mau ngapain udah loncat-loncat dari tadi.Emang orang kaya mah bisa beli apa aja ya.


Eh... apa-apaan diriku ini. Ingat tujuanmu Binar...


Segera aku menghadap Gendis dan membelai rambut gadis kecil itu.


"Gendisss... keluar yuk" Ajak ku kemudian.


"Gak mau... Gendis mau disini aja. Bundanya Gendis jahat. Bundanya Gendis marahin Gendis tadi" Ucapnya disela isak tangisnya.


Ya... aku yang salah memang. Harusnya aku tadi tidak langsung memarahi gadis kecil ini. Mungkin aku tau kalau Gendis benar-benar sudah keterlaluan tadi. Tapi Gendis yang masih kecil pasti belum tau mana yang salah dan mana yang benar.


"Ya udah bundanya Gendis minta maaf. Bunda marah tadi karena Gendis yang ngagetin bunda. Coba deh... Gendis fikir. Gendis aja sekarang ngambek gara-gara bunda marahin. Gimana bunda gak marah kalau tiba-tiba Gendis naikin bunda waktu tidur. Mana muka bunda dicoret-coret lagi" Jelas ku.


Kalau setelah ini Gendis masih ngambek. Biarin aja deh... Kan aku cuma bunda-bunda an nya Gendis. Beda nanti kalau bapaknya mau ngawinin aku. Aku pastiin kamu gak akan kurang satu apapun.


Makanya jangan lupa like, komen and Vote. Kasih poin yang banyak juga gak apa-apa deh. Ha... ha... promo nih ye...


Ok.. kembali ke laptop.


Setelah aku ceramahin panjang lebar akhirnya Gendis mau menampakkan wajahnya lagi. Wajah yang biasanya imut-imut itu sudah berubah menjadi merah karena menangis.


Ya salam...


Melihat itu aku jadi gak tega. Asli nyesel banget aku sudah bentak Gendis tadi. Aku sadar sih kalau Gendis anak broken home yang memang sedang cari perhatian. Gendis cuma butuh sosok seorang ibu yang menyayangi dia.


Aku gak meragukan kasih sayang mas Abhi sama Gendis. Lelaki itu sudah pasti sangat menyayangi Gendis. Sudah terbukti kemarin.


Ya... aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri gimana sayangnya mas Abhi sama Gendis. Hanya saja kadang anak akan merasa kekurangan kasih sayang tanpa kehadiran seorang ibu.


"Ma..afin Gen..dis juga ya bun..da..nya Gen..dis" Ucap Gendis masih terbata karena habis menangis.


"Bunda maafin kok. Tapi bunda juga dimaafin kan? " Tanyaku kemudian.


Gendis mengangguk sambil tersenyum.


"Anak pintar... sekarang kita keluar. Gendis harus mandi sama mbok Sumi karena Gendis harus berangkat sekolah"Ucapku sambil mengusap sisa air mata yang masih menempel dipipi gadis kecil itu.


" Gendis gak mau mandi sama mbok Sumi. Bosen... Maunya dimandiin sama bundanya Gendis"


Eh....


Kok kayak udah jadi ibu beneran gini. Sabar dulu kenapa Gendis? Bilang dulu tuh sama bapak kamu suruh ngawinin bunda. Habis itu bunda akan mandiin kamu tiap hari. Kalau perlu sekalian bapak kamu bunda mandiin juga. He....


Tapi gak mungkin juga aku bilang seperti itu.Emang bisa apa kawin dadakan. Lagian kalau aku sampai bilang itu sama Gendis bisa-bisa nih bocah ngambek lagi.


"Ya sudah... tapi cuma mandiin ya? Soalnya bunda juga udah telat masuk kerjanya ini"


Bersyukur Gendis menerima apa yang aku syarat kan. Gadis kecil itu mengangguk.


Setelah itu aku meminta Gendis naik ke punggung ku. Awalnya Gendis menolak tapi perlahan di ulurkan tangannya melingkari leherku.


"Siap terbang ke angkasa Gendis" Ucapku.


Gendis hanya terdiam.


"Siap bunda... Gendis jawab itu ya? "


Sekali lagi Gendis mengangguk.


"Bunda ulangi sekali lagi ya? Siap terbang ke angkasa Gendis" Ulang ku sekali lagi.


"Kalau gitu... satu... dua... tiga... meluncur... " Teriakku sambil sedikit berlari. Seolah-olah aku sedang membawa Gendis terbang. Tampak gadis kecil itu tertawa terbahak-bahak diatas punggung ku.


Ah... Gendis...


Andai mamamu saat ini bersama mu mungkin kamu gak akan pernah kesepian seperti ini. Hanya saja kalau ada mamamu. Mana berani aku godain papa kamu. Bisa dikatain pelakor aku nanti.


Segera setelah itu aku pun memandikan Gendis. Sepanjang dikamar mandi kami terus bercanda. Ini pertama kalinya aku dan Gendis bisa sangat akrab. Biasanya kami akan seperti kucing dan tikus yang selalu bertengkar.


Entahlah.... mungkin ini pertanda jika aku dan mas Abhi akan segera berjodoh. Amin....


****


Abhi Pov


Menyandang status duda bukanlah keinginan ku. Siapa orang yang mau punya status seperti itu. Status yang benar-benar membuatku terpuruk dan menanggung malu. Hingga aku pun berubah dari Abhi yang supel menjadi Abhi yang dingin.


Apa kurangnya diriku. Ganteng... tentu saja. Semua orang akan mengatakan seperti itu. Bahkan banyak perempuan yang berlomba-lomba mengejar ku karena ketampanan ku.Bukan aku bermaksud sombong hanya saja itu memang kenyataannya.


Kalau Mapan tentu saja. Harta ku tidak akan habis sampai tujuh turunan nanti.


Lalu pertanyaanku...?


Kenapa bisa mantan istriku itu menggugat cerai diriku. Alasannya karena dia tidak mencintaiku lagi. Padahal aku masih sangat mencintai nya.Karena Hana adalah cinta pertama dan terakhirku. Karena setelah ini tak kan ada satu perempuan pun yang sanggup menggantikan kedudukannya dihatiku.


Satu hal yang aku sesalkan ? Kenapa tak pernah sekalipun sejak perceraian kami mantan istriku itu menjenguk putri kami.


Sudah sebenci itukah dirinya padaku dan buah hati kami. Entahlah.....


Untuk menghilangkan rasa kecewa ku maka ku alihkan semua pada pekerjaanku. Seperti pagi ini aku yang berangkat pagi-pagi sekali. ...


Akhir-akhir ini aku memang sedang banyak pekerjaan.


Mungkin Gendis akan marah nanti, saat dia bangun tapi tidak melihatku. Apalagi malam ini aku yang pulang cukup terlambat dari biasanya.


Benar saja,.. saat aku pulang Gendis sudah tertidur.


Tumben... Biasa nya gadis kecilku itu akan menungguku. Entahlah...


Aku pun segera melangkah menuju kamarku. Begitu pintu kamar kubuka. Aku merasakan sesuatu yang berbeda. Aku ingat betul dengan kondisi kamarku setelah kutinggalkan tadi.


Ada aroma berbeda yang tercium disini. Bukan aroma Gendis karena aku sangat menghafalnya. Lalu siapa orang yang berani masuk ke dalam kamarku.


Segera ku lempar tas kerjaku ke ranjang lalu gegas ku cari mbok Sumi ke bawah.


"Mbok... mbok Sumi... " Teriakku


Yang ku panggil datang tergopoh-gopoh.


"Ya tuan" Jawabnya.


"Siapa yang sudah masuk kamarku mbok" Tanyaku tegas.


Kulihat mbok Sumi sedikit ketakutan. Itu berarti benar ada orang yang sudah memasuki kamarku.


"Jawab mbok siapa? " Tanyaku lebih tegas.


"Anu... tuan.. no.. n. Bi...nar"Ucapnya terbata.


" Lancang"Jawabku penuh amarah.


*


*


*


Cie... mas Abhi ngamuk bestie... kira-kira apa yang terjadi pada Binar selanjutnya. Padahal sudah dapat lampu hijau dari calon mertua dan calon anak tiri lo.