Nguber Duda

Nguber Duda
Sembilan Puluh Delapan.



Masih Pov Abhi


Pernah gak sih kamu merasakan bahagia dan sedih secara bersamaan?.


Di satu sisi aku begitu bahagia karena akhirnya putra kami lahir dengan selamat.Meski selama tiga hari Dewa harus masuk inkubator tapi saat ini Dewa sudah baik-baik saja.


Ya... nama putra kami 'Bramasta Sadewa'. Nama yang aku temukan di buku catatan milik Binar sebelum kami mengalami musibah ini.


Saat aku tanya kenapa harus di namakan seperti itu?


Binar hanya menjawab 'Suka saja, gak tau tiba-tiba kepikiran nya seperti itu'


Padahal saat itu kami pun belum tau. Apa jenis kelamin anak kami nanti. Kami sepakat untuk membuat kejutan di saat dia lahir nanti. Kami bahkan meminta dokter untuk pura-pura tidak tau saat kami melaksanakan USG. Selagi anak kami baik-baik saja.


Sayangnya saat anak kami lahir Binar harus mengalami koma.


Ah.. kenapa harus ada rasa sedih juga. Kenapa Tuhan tidak menciptakan rasa bahagia saja.


"Sayang... kamu gak mau buka mata kamu. Lihat Dewa kecil kita pengen ngerasain digendong sama bundanya, " ucapku setiap saat.


atau


"Sayang, pusar Dewa sudah lepas. Kamu gak mau mandiin Dewa. Kamu bilang saat pusar Dewa sudah lepas kamu bakal mandiin sendiri 'kan. Lalu sekarang kenapa kamu masih bobo saja. Bohong itu dosa loh. Makanya kamu bangun , Sayang. Kamu penuhi janji kamu"


Berbagai upaya telah aku lakukan. Aku akan selalu mengajak mengobrol Binar. Berharap istri yang paling aku cintai itu merespon ucapanku dan segera sadar. Tapi sayang, Binar masih belum membuka matanya sampai sekarang.


Ya...


Sudah dua minggu sejak kejadian itu istriku belum juga membuka matanya. Aku rindu kamu, Sayang. Aku rindu manjanya kamu, usilnya kamu, bahkan omelan kamu.


Setidaknya kamu harus sadar untuk anak kita. Dewa kecil masih butuh kamu. Aku tidak ingin Dewa kehilangan kasih sayang bundanya.


Dulu saat Gendis harus kehilangan mamanya karena perceraian kami, aku masih bisa baik-baik saja. Tapi...jika sampai nanti kamu meninggalkanku. Maka aku tidak yakin bisa melaluinya. Aku tidak yakin bisa hidup tanpa kamu.


"Bhi... kamu cari makan sana! Biar mama yang gantiin kamu jagain istri kamu. Badan kamu itu sudah kurusan saja. Memangnya kamu mau nanti pas Istri kamu sadar dia gak ngenalin kamu lagi karena kurus, " ucap Mama yang baru saja masuk.


Hari ini sudah kelima kalinya Mama mengatakan itu tapi tak pernah aku gubris.


Bukan aku mau jadi anak durhaka. Tapi sejak Binar dinyatakan koma nafsu makanku langsung saja menghilang. Bahkan sering kali aku tidak makan dalam satu hari.


Entahlah...


Nafsu makanku tiba-tiba saja lenyap seiring separuh jiwaku yang hilang bersama Binar.


"Abhi... gak lapar , Ma. Nanti kalau lapar Abhi juga makan sendiri. "


Terdengar helaan nafas dari perempuan yang telah melahirkan ku itu.


"Mama pulang saja lah,biar Abhi yang jagain Binar di sini. Kasihan Ibu harus jagain Gendis dan Dewa di rumah, " tambah ku kemudian.


Mama dan Ibu memang bergantian menemaniku menjaga Binar di rumah sakit. Sebelumnya sih mereka berada di rumah sakit semua. Hanya saja setelah Dewa di izinkan pulang mereka bergantian ke sini. Alasannya takut terjadi sesuatu padaku.


Memangnya aku mau apa? Meski tak bisa ku pungkiri jika terjadi sesuatu dengan Binar. Aku pun rela jika di suntik mati.


"Kamu aja gak mau makan gitu Bhi... kalau mama pulang terus Binar sadar. Mama takutnya kamu udah lemes dan gak bisa ngapa-ngapain. Kecuali kalau kamu badan nya sehat mama akan percaya kamu jagain istri kamu sendirian. "


Benar kata mama, kalau aku tidak sehat, lalu apa kabar saat istri ku sadar nanti.


"Abhi akan cari makan di bawah , Ma. Titip istri Abhi ya , Ma. Kalau ada perubahan segera hubungi Abhi. Mama mau dibawakan sesuatu? " tanyaku pada mama.


"Gak usah Bhi. Mama 'kan barusan makan. "


"Ya sudah Abhi turun dulu. "


Mama mengangguk. Setelah ku kecup pipi Istriku segera aku langkahkan kaki ku menuju kantin. Sebal...


Kenapa harus ada larangan makan di ruangan Binar. Kalau boleh 'kan aku tidak perlu meninggalkannya. Tapi tidak apa-apa jika itu memang yang terbaik.


Pelan aku langkahkan kaki ku ke lantai bawah tempat kantin rumah sakit berada.


"Abhi..."


Tiba-tiba aku dengar orang memanggilku. Jelas aku tau siapa pemilik suara itu meskipun kami jarang sekali bertemu.


Tante Rosita


Sebenarnya aku malas sekali bertemu dengannya. Dua minggu setelah kejadian itu perempuan yang menyebabkan masalah dalam keluarga ku itu baru saja muncul. Meski tante Rosita menyampaikan kata maafnya lewat mama. Kata mama tante Rosita segera terbang ke luar negri setelah kejadian itu. Memangnya sepenting apa acara di luar negri itu di banding minta maaf saja.


Sengaja ku acuhkan saja panggilannya dan segera memesan makanan. Rasanya tidak ada waktu meladeni tante Rosita lagi. Aku ingin cepat selesai makan dan kembali ke ruangan istriku untuk menjaganya. Kenapa baru sekarang dia datang setelah....


"Abhi... tante mau bicara, " ucapnya lagi tapi tetap ku acuhkan. Apalagi makanan pesananku segera datang. Kedatangan tante Rosita membuatku jadi lahap makan agar segera menjauh dari perempuan itu.


"Abhi... dengarkan tante. Tante hanya ingin minta maaf tentang kesalahpahaman yang terjadi. Tante bersumpah jika tante tidak pernah tau perempuan itu adalah istrimu. Yang tante tau adalah perempuan itu mantannya Kai. Calon menantu tante. Kamu juga harus paham tentang perasaan tante Bhi... tante hanya tidak ingin rumah tangga Mira yang baru saja dimulai berantakan karena ada mantannya Kai. Asal kamu tau Bhi... dulu Kai sangat memuja perempuan itu sehingga menolak dijodohkan dengan Mira. Jadi mana tau kalau dia adalah istri kamu. Apalagi kamu tidak ada resepsi. Tante fikir dia hanya pura-pura hamil saja, "ucap tante Rosita panjang lebar.


Harusnya aku luluh. Tapi nyatanya tidak sama sekali. Aku masih sangat marah dengan saudara sepupu mama itu.


" Minta maaflah pada Binar nanti tante. Kalau Binar menerima permintaan maaf tante, maka dengan senang hati Abhi akan memaafkan tante, "ucapku sambil meneguk minuman yang ada. Kehadiran tante Rosita memang membuat aku cepat menghabiskan makananku.


" Tante pasti minta maaf sama istri kamu Bhi... Tapi 'kan saat ini dia sedang koma. Bagaimana tante minta maaf sama istri kamu. Sedangkan perusahaan om kamu butuh cepat investasi itu, kalau menunggu istri kamu sadar bisa-bisa perusahaan om kamu sudah bangkrut. Tolong lah Bhi... bantu om kamu. Jangan cabut investasi kamu diperusahaan om kamu. "


Mendengar itu aku pun tersenyum sinis. Sudah aku duga. Tante Rosita tidak akan repot-repot menemuiku jika tidak ada masalah. Apalagi dia yang sedang liburan di luar negri.


"Jangan cabut investasi kamu ya Bhi... " Tambahnya lagi.


Dasar tidak tau malu. Beruntung Mira memiliki sikap yang terbalik dengan orangtua nya.


"Sudah Abhi bilang tante. Minta maaf dulu dengan istri Abhi. Jika nanti Binar memaafkan maka semua akan kembali seperti semula tapi jika terjadi sesuatu dengan istri Abhi. Maka tante harus siap-siap kehilangan semuanya. Bahkan seujung kuku pun Abhi tidak akan membantu tante lagi, "ucapku lalu meninggalkan tante Rosita sendirian setelah sebelumnya membayar makanan yang aku makan.


Biarlah...


Biar mereka merasakan akibatnya merendah kan orang lain. Karena tidak selamanya mereka ada di atas.


*


*


Mewek banget pas bikin scan ini. Hua....