Nguber Duda

Nguber Duda
Sembilan Puluh Tujuh



Pov Abhi


"Bee.... " Teriak ku lantang lalu dengan cepat berlari ke arahnya.


Aku menganga tak percaya dengan kejadian yang ku saksisan barusan. Kenapa tante Rosita tega melakukan hal itu pada istriku.


Apa salah Binar padanya. Bahkan kenal, mau pun bertemu pun tidak pernah.Lalu apa masalah perempuan itu pada istriku.


Hanya karena Binar adalah mantan kekasih menantunya? Lalu apa salah Binar, bahkan istriku itu tidak berbuat apa-apa pada Mira.


"Sayang... bangun" Ucap ku sambil menepuk-nepuk pipinya. Namun yang ku lihat malah rembesan darah dari selangkang*an kaki Binar.


"Astaghfirullah hal adzim... anak ku"


"Pak Abhi bawa Binar ke rumah sakit sekarang"


Ucapan Kai baru membuatku kembali tersadar.


"Bawa mobil Mama Bhi, ada di dekat pintu keluar" Ucap Mama dan aku hanya mengangguk. Segera aku angkat tubuh Binar dan Mama mengikuti ku dari belakang.


"Kenapa mbak Meris harus perhatian sama perempuan itu. Asal mbak Meris tau dia itu mantan pacar suami nya Mira lo mbak. Dia datang kesini mau merusak kebahagian Mira" Ucap tante Rosita sepupu Mama.Rupanya dia belum menyadari kesalahannya.


Ingin rasanya aku tampar perempuan itu. Tapi tidak sekarang keselamatan anak dan istri ku jauh lebih penting. Tak ku hiraukan ucapan yang sangat tidak masuk akal itu dan terus berjalan. Hanya Mama yang sebentar meladeni ucapan tante Rosi.


"Asal kamu tau Ros, perempuan yang kamu sebut akan merusak kebahagian Mira itu adalah menantu ku. Dia istri Abhi dan anak yang di kandungnya saat ini adalah anak Abhi sekaligus cucu ku. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan mereka atau keluarga kita yang jadi taruhannya" Ucap Mama yang masih sempat aku dengar. Mama kemudian berlari menyusulku.Dan dengan cepat ku lajukan mobil mama dengan cepat.


***


Ku luruhkan tubuhku di dinding dekat pintu ruang oprasi. Tangisku pecah kembali.Satu jam lalu aku terpaksa menandatangani surat izin oprasi. Pendarahan cukup parah dan harus segera dilakukan oprasi.


Sebenarnya Binar ingin sekali lahiran normal, tapi jika aku memaksanya maka akan sangat beresiko. Apalagi tadi Binar sempat dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Cobaan apa lagi ini Tuhan...


Bahkan baru ku rengkuh kebahagiaan kami. Tapi kini sudah engkau beri kami cobaan itu lagi. Begitu sayang kah Engkau pada kami Tuhan...


Masih dengan tangisku yang tidak bisa aku sembunyikan. Sungguh kharisma seorang laki-laki yang tangguh telah hilang dari diriku. Aku sungguh tidak perduli jika Orang-orang menganggapku cengeng saat ini.


"Sabar ya nak, Binar dan anak kamu pasti baik-baik saja. "


"Ini salah Abhi, Ma. Kalau saja tadi Abhi nurutin permintaan Binar, pasti gak akan terjadi seperti ini. Kalau aja Abhi ada di samping Binar. Pasti tante Rosita gak akan nganggap Binar mau merebut suami Kai, " ucapku sambil tersedu.


Remuk rasanya. Sungguh saat ini aku ingin menggantikan posisi Binar. Biarlah aku yang sakit sementara istri dan anakku baik-baik saja.


"Jangan salahkan diri kamu Bhi, ini memang sudah musibah. Gak ada satu orang pun yang mau ada di posisi kamu saat ini. Mungkin memang benar jika saat ini kamu sedang dicoba oleh Pencipta-Mu. Seberapa kuat iman kamu. Jangan terlalu merasa bersalah. Kamu gak akan sendiri ,Nak.Mama akan selalu mendampingi kamu. "


Ku tatap perempuan yang aku panggil mama itu. Dari kata-katanya sangat berbeda sekali dengan mama yang biasanya. Dulu sewaktu aku berpisah dengan Hana, mama juga tidak seperti ini. Tapi sekarang sejak aku sama Binar mama yang selalu terdepan.


"Abhi hanya gak mau kehilangan mereka, Ma. "


"Percayalah mereka akan baik-baik saja. Istri kamu itu perempuan kuat dia pasti akan bisa melewati semua ini. "


Entahlah...


Apa aku harus percaya dengan ucapan mama, yang jelas saat ini hatiku sungguh tidak tenang. Sebelum benar-benar aku saksikan istri dan anakku baik-baik saja di depan mataku.


Tak berapa lama terdengar suara langkah orang-orang berlari menuju tempat kami. Segera aku berdiri saat orang itu berjalan mendekat.


Mungkin mama yang sudah menghubungi Om Aldo dan Tante Shofia. Tentu saja karena mereka adalah keluarga Binar.


Lalu apa itu artinya Ibu juga akan datang. Ya Tuhan...


Lalu aku akan menjelaskan apa nanti dengan Ibu. Pasti Ibu akan kecewa melihatku tidak becus merawat putrinya.


"Vika sedang dalam perjalanan bersama Ibunya Binar. Tapi mungkin dua jam lagi mereka akan sampai" tambah Om Aldo.


Nah 'kan.


Baru juga aku memikirkan tentang itu. Tapi aku tidak harus memikirkan tentang itu. Sekarang yang terpenting adalah Istri dan akan ku baik-baik saja.


Biarlah..


Jika nanti Ibu marah atau ingin menghukum ku aku akan menerima semua keputusan nya. Asalkan Istri dan anak ku baik-baik saja.


"Bagaimana ceritanya bisa seperti ini Bhi.. Kok bisa istri kamu itu sampai jatuh dan pendarahan? " Tanya Om Aldo kemudian.


Ku pandang wajah mama, entah apakah beliau mengerti tentang kegelisahan ku yang jelas mama lah yang kemudian menceritakan kejadian yang sebenarnya tanpa ditutup-tutupi satu pun. Bahkan aku juga akan siap menerima kemarahan Om Aldo jika pria itu akan marah.


Laki-laki itu terlihat menghela nafas beratnya saat mendengar cerita mama.


"Maafkan kesalahan saudara sepupuku ya Do. Aku kira dia hanya salah faham, " ucap mama di akhir kalimatnya.


Apa-apaan mama, kenapa masih saja membela tante Rosita. Bahkan sampai saat ini batang hidungnya pun belum kelihatan. Harusnya kalau dia merasa bersalah pasti saat ini sudah ada disini atau paling tidak meminta maaf lah. Pasti saat ini acara resepsi itu pun akan sudah berakhir. Tapi kenyataannya apa, pesan pun tak ada. Sepertinya tante Rosita senang membuat istriku terluka.


"Maaf, Ris. Untuk kali ini aku tidak menuruti permintaanmu. Aku tau Rosita masih saudara sepupumu. Tapi tindakan nya kepada ku sungguh sangat keterlaluan. Bukan hanya satu nyawa yang di pertaruhkan tapi dua., " ucap Om Aldo menanggapi ucapan mama.


"Ini salahku Om. Kalau saja aku menuruti keinginan Binar mungkin tidak akan jadi seperti ini. Tapi maaf ,Ma.Aku pun sependapat dengan Om Aldo. Aku tidak akan memberi ampun pada Tante Rosita jika terjadi sesuatu dengan anak istriku"


Selanjutnya yang ku lihat mama hanya diam.


Ya....


Akan aku buat tante Rosita jera dan mengulanginya pada orang lain.


Tiba-tiba... lampu kamar oprasi mati. Itu artinya oprasi telah selesai. Segera kami mendekat ke arah Dokter yang keluar.


"Bagaimana keadaan anak dan istri saya , Dok? " Tanyaku.


Bukannya langsung menjawab Dokter itu malah melihatku. Kemudian menepuk pundak ku pelan.


"Anak anda selamat ,Pak.Tapi... istri anda saat ini koma"


Duar..


Saat ini duniaku seakan runtuh"


*


*


*