Nguber Duda

Nguber Duda
Lima Puluh Sembilan



Abhi Pov


Ku tuntun tubuh Hana menuju ruangan tempat putri kami dirawat. Ah... sungguh aku merasa kasihan dengan Hana. Disaat tubuhnya masih begitu lemas akibat baru cuci darah, dia juga harus mendapati putrinya yang juga sakit.


Apalagi tadi pagi Gendis jalan-jalan dengan Hana. Pastinya saat ini Hana merasa bersalah.


"Papa" Ucap Gendis lemah


Aku dan Hana langsung mendekat. Ku duduk kan Hana di kursi dekat ranjang Gendis, sementara aku berdiri sambil membelai rambut putri kesayangan ku itu.


"Mana yang sakit sayang? " Tanya Hana pada Gendis sambil menciumi tangan Gendis yang di infus.


Ah... sungguh kamu pasti akan jadi ibu yang terbaik Hana. Tapi sayang keputusan mu untuk berpisah yang membuat kebaikanmu tak tersalurkan secara sempurna.


Gendis menggeleng.


"Papa lapar" Ucapnya kemudian.


Aku dan Hana langsung berpandangan. Aku seolah meminta Hana untuk menjaga Gendis sebentar. Sementara aku akan mencari makanan untuk Gendis.


"Papa cari makan buat Gendis dulu ya kalau gitu" Ucapku kemudian.


"Mau bundanya Gendis juga papa. Bundanya Gendis mana? "


Deg...


Baru juga aku beranjak, tapi Gendis sudah mengingatkanku pada Binar dengan kemarahannya yang aku lupakan.


Apakah aku merasa bersalah? Tentu saja, apalagi aku yang sudah ketahuan membohonginya.


Tapi kemana perginya Binar? Apakah karena marah padaku dia tidak mau bertemu dengan Gendis lagi? Tapi kenapa tak ku lihat mbok Sumi juga? Entahlah...


Ku iyakan saja permintaan putriku itu. Lalu berjalan menuju kantin rumah sakit.


Saat disana kudapati orang yang baru saja membubarkan diri. Entah apa yang baru saja terjadi. Aku pun tak mau tau. Segera ku pesan bubur untuk Gendis. Beruntung masih ada, mengingat saat ini waktu yang sudah malam. Tak lupa pula aku membeli teh hangat.


Setelah itu bergegas aku kembali menuju kamar Gendis. Soal Binar biarlah aku mencarinya selepas memberikan makanan ini untuk Gendis.


Aku tidak mau putriku itu sampai kelaparan. Biar Hana yang menyuapi Gendis nanti, sementara aku mencari keberadaan Binar. Syukur-syukur Binar sudah ada disana saat aku kembali.


Tapi ternyata aku salah.


Hanya mbok Sumi yang ada disana. Lalu kemana perginya Binar? Apa benar dia pergi? Pergi kemana? Kenapa tiba-tiba aku jadi tidak rela seperti ini.


"Bundanya Gendis mana pa? " Tanya putriku lagi


Ku garuk kepalaku yang tidak gatal. Harus cari alasan yang tepat supaya Gendis gak sedih.


"Bunda lagi pulang sebentar Gendis, ambil keperluan Gendis selama dirumah sakit. Ini papa juga mau jemput bunda. Nanti Gendis disuapin mama dulu ya? " Entah alasanku tepat atau tidak yang penting Gendis percaya.


Sementara ku lirik mbok Sumi yang menatapku dengan tajam. Jelas saja karena asisten rumah tangga ku itu yang tau keberadaan Binar yang sebenarnya.


"Mbok ikut saya" Ucapku padanya.


Mbok Sumi hanya diam saja dan mengikuti ku dari belakang.


"Binar ada dimana mbok? " Tanyaku padanya begitu kami sudah menjauhi Gendis dan Hana. Aku tak mau keduanya tau kalau aku berbohong tentang keberadaan Binar.


"Bukannya tuan bilang ta-di, -"


"Aku berbohong mbok, aku cuma gak ingin Gendis sedih" Potongku karena aku tau jawaban apa yang akan diberikan perempuan paruh baya itu.


Terlihat helaan nafas panjang dari mbok Sumi.


"Tadi sih mbok nganterin non Binar ke kantin. Dari tadi pagi kan non Binar belum makan karena puasa. Non Binar nungguin tuan bawain pesanan nya. Niatnya tadi mau nungguin non Binar sampai selesai makan, tapi non Binar minta mbok kembali kemari"


Astaga....


Jadi Binar beneran puasa hari ini? Padahal aku cuma niatnya bercanda saja tadi pagi. Yang lebih mengejutkan Binar beneran menunggu pesanan pem-pek nya itu. Sementara tadi aku....


Ah...


Tapi kenapa tadi aku tidak bertemu Binar saat dikantin tadi?


"Tapi saya gak lihat Binar tadi dikantin mbok"


Mbok Sumi terlihat terkejut.


"Astaghfirullah hal adzim... kok perasaan mbok gak enak ya tuan. Jangan-jangan terjadi apa-apa sama non Binar. Masalahnya tadi ke kantin aja non Binar gak kuat berjalan dan harus dituntun sama mbok"


Double terkejut aku.


Rasa bersalah ku semakin bertambah besar saja. Sudah membuat perempuan itu puasa, menunggu pesanan yang tak kunjung datang. Bahkan aku seolah tanpa beban mengabaikannya. Padahal jelas aku yang bersalah.


Lagi-lagi aku yang lebih memilih menuntun Hana dari pada menuntun Binar yang notabennya adalah istriku sendiri.


Istri....


Kenapa baru aku sadari jika selama ini aku hanya menganggapnya sebagai bundanya Gendis saja. Bahkan tak pernah tercipta momen manis yang kami lalui bersama.


"Gimana ini tuan? Bagaimana jika terjadi sesuatu sama non Binar. Si mbok benar-benar khawatir ini" Ucap mbok Sumi yang kini sudah terlihat mondar-mandir.


"Titip Gendis sama Hana saja mbok. Nanti kalau Gendis sudah tidur antarkan Hana ke kamarnya. Biar saya yang cari Binar"


Mbok Sumi menganggukkan kepala.


Bergegas setelahnya aku menuju kantin lagi. Awal dimana Binar menghilang.


"Mohon maaf Pak lihat perempuan cantik tadi makan disini gak? " Tanyaku pada penjual dikantin itu.


Sang penjual hanya mengernyit heran.


"Yang makan disini banyak pak. Yang perempuan cantik-cantik. Yang laki-laki juga ganteng-ganteng. Memang wajah perempuan yang bapak cari kayak gimana? Siapa tau saya memang pernah lihat" Ucap penjual itu.


Benar juga, aku nyebutin kurang spesifik. Kenapa tak ku perlihatkan fotonya saja. Segera aku mengambil handphone ku. Tapi sejurus kemudian aku ingat, tak pernah sekalipun aku mengajak Binar hanya untuk berswa foto.


Akhirnya ku masukkan lagi handphone itu kedalam saku celanaku. Sepertinya akan sulit mencari keberadaan Binar, kalau foto saja tidak aku punya.


Tiba-tiba aku ingat saat pertama kali datang kesini membeli bubur. Ada banyak orang yang berkerumun bahkan membubarkan diri.


"Ehm... saya lihat beberapa waktu yang lalu ada orang baru membubarkan diri? Memangnya sedang terjadi apa pak? " Tanyaku lagi


"Oh.. kalau yang itu? Tadi ada perempuan yang pingsan"


Tidak salah lagi itu pasti Binar. Mbok Sumi bilang tadi Binar terlihat lemas. Pasti perempuan yang pingsan itu adalah Binar. Apalagi waktunya sangat tepat.


"Makasih ya pak? Saya sudah ketemu sama yang saya cari" Ucapku kemudian.


Ku biarkan saja penjaga kantin itu merasa bingung melihat sikapku.


Aku segera berlari ke UGD. Kemana lagi kalau tidak dibawa Ke UGD kalau ada orang pingsan. Apalagi ini dirumah sakit.


Gak tau kenapa saat aku berlari menuju tempat Binar berada, rasanya beda banget.


Ada rasa bahagia yang entah tak ku ketahui apa penyebabnya.


*


*


*


Cie... kasihan... Binar gak ada disana kali mas. Rasain kamu mas nyari-nyari Binar. Ini baru ditinggal pingsan saja. Gimana coba kalau othornya kabulin permintaan kakak-kakak cantik buat Binar pergi. Beh... bisa merana kamu. Hi.. Hi...


Satu dulu ya kak. Tadi pagi sibuk. Sekarang lihat mas Kevin Sanjaya di TV dulu🤣