Nguber Duda

Nguber Duda
Empat Puluh Delapan



"Sarapan dulu mas"Tawar ku begitu melihat mas Abhi turun.


Mas Abhi tampak melihatku sekilas tapi aku berusaha tak acuh melihatnya. Dari kemarin pun tak ada komunikasi diantara kami. Aku sengaja mendiamkannya. Biarlah aku menenangkan hatiku dulu. Salah siapa dia bikin gara-gara padaku.


Sebenarnya aku masih marah sama mas Abhi. Tapi mau gimana lagi. Seorang istri kalau lagi marah pasti masih mengerjakan tugasnya sebagai istri. Lagi pula aku juga tidak ingin semua ini berlarut dan menjadikan alasan mas Abhi untuk semakin menjauh dengan ku. Aku mau pernikahan kami baik-baik saja.Sampai kami menua nanti.


Meskipun belum ada cinta untuk ku tetap saja aku ingin pernikahanku sekali seumur hidupku.


Masih sambil memandangku mas Abhi akhirnya duduk dimeja makan. Lagi-lagi aku pura-pura tak melihat nya dan dengan cepat ku letakkan nasi dan lauk di piringnya. Setelah itu bergegas aku meninggalkan mas Abhi untuk memanggil Gendis.


Namun baru dua langkah mas Abhi mencekal tangan ku.


"Maaf untuk yang kemarin" Ucapnya.


Kali ini ku beranikan diri untuk menatapnya sekilas.


"Maaf untuk apa?Tak ada yang perlu dimaafkan? Aku bahkan tidak faham kesalahanmu apa mas, sehingga perlu maaf dariku" Sindir ku.


Entah mas Abhi akan peka atau tidak dengan sindiran ku.


"Aku tidak berbuat lebih kemarin malam dengan Hana. Hanya demi Gendis saja kita bersama dan menginap dirumah kami dulu"


Jadi ceritanya kalian bernostalgia. Hemmmm....


Ku hembuskan nafasku dengan pelan. Ucapanmu begitu ambigu mas.Membuat semua orang yang mendengar nya pasti curiga.


Sekarang mungkin tidak tapi bisa jadi suatu saat kamu bisa saja khilaf. Kenapa tidak kamu bilang saja kalau kamu sudah tidak ada rasa dengan mantan istrimu itu. Setidaknya untuk kedepannya aku tidak merasa was-was dan curiga kepadamu.Kalau dengan kata-kata mu yang sekarang justru aku akan semakin curiga.


"Semoga saja kamu selalu diberi iman yang kuat ya mas" Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.


Rasanya pengen nangis gulung-gulung saja.


Dulu...


Saat aku pertama mengejar mas Abhi biasa aja tuh saat dia nolak bahkan nyakitin hati aku. Tapi sekarang saat statusku jadi istrinya kenapa nyesek banget.


Untuk saat ini, gak sanggup banget deh lama-lama deket dengan mas Abhi. Segera saja aku melepaskan cekalan tangannya.


"Aku mau panggil Gendis dulu mas" Ucapku


"Nanti siang Hana akan kemari menemui Gendis. Aku harap kalian bisa akrab. Hana perempuan baik jadi kalian pasti cepat akrab.Karena mulai sekarang, jika Hana akan bertemu Gendis hanya denganmu saja. Tanpa aku, jadi kamu tidak perlu berfikir yang aneh-aneh"


Aku menoleh sekilas ke arah mas Abhi.Lalu dengan cepat pula memalingkan muka lagi.


Benarkah apa yang diucapkan mas Abhi barusan? Benarkah mas Abhi mematuhi perintah mama nya untuk menjauh dengan Hana demi keutuhan pernikahan kami?


Ah... rasanya ada sedikit harapan lagi untukku saat ini. Tanpa sadar senyum tulus ku kembali tersungging di bibirku. Terima kasih mas..karena kamu mau mengerti aku. Sebaik apapun mantan, rasanya tetap saja merasa cemburu. Karena diantara mereka pernah ada cerita indah.


Tapi mas Abhi gak boleh sampai melihat senyumku itu. Malu ding habis ngambek terus senyum-senyum gak jelas kayak gini.Yang penting mood booster ku sekarang sudah kembali lagi


"Ya... tentu saja, Gendis juga pasti senang" Ucapku masih berusaha sok cuek. Setelah itu segera aku berjalan menuju kamar Gendis.


Tau apa yang kulakukan saat ada didepan kamar Gendis. Jingkrak-jingkrak bestie...


"Yey.. mas Abhi milih aku, mas Abhi gak jadi balik sama mantan" Kayak orang gila aku mengucapkan kata-kata itu sambil senyum-senyum sendiri.


Hingga tak ku sadari pintu kamar sudah terbuka.


"Bunda kenapa..? "


Eh.. malu ding ketahuan sama Gendis.


Tingg... tong...


Saat ini aku sedang mewarnai sama Gendis di dekat kolam renang. Saat ku dengar bel berbunyi. Segera saja aku beranjak dan membuka pintu.


Dari balik pintu terlihat sosok yang terlihat begitu sempurna dimataku sejak pertama kali kami bertemu.


"Binar.... " Ucapnya begitu syok saat melihatku. Mungkin mbak Hana gak nyangka jika aku adalah istri dari mantan suaminya dulu.


"Hai... mbak Hana.. mari masuk" Jawabku sambil tersenyum lalu mempersilahkan nya masuk. Biar kayak yang punya rumah beneran gitu lho. Meskipun aslinya iya, tapi kan belum diakui. He....


Mbak Hana terlihat mengangguk sambil tersenyum. Lalu mengikuti ku dari belakang menuju tempat Gendis berada.


"Mama.... " Teriak Gendis girang saat melihat mamanya. Sempat merasa cemburu saat Gendis juga memperlakukan hal yang sama dengan mbak Hana. Tapi toh aku tidak boleh egois bukan, mbak Hana juga ibu Gendis.


"Eh... mama baru nyampai ini. Belum cuci tangan dan kaki. Nanti kumannya nempel ke Gendis " Tolak mbak Hana sebelum Gendis memeluknya. Tampak Gendis memberengut. Tapi mbak Hana malah tersenyum.


"Anak cantik gak boleh ambekan dong"


"Y udah deh Gendis peluk bunda saja" Ucap Gendis merajuk lalu memelukku. Bukannya marah atau apa mbak Hana lagi-lagi tersenyum.


Murah senyum banget nih orang. Pantesan saja mas Abhi sulit move on nya.


"Habis cuci tangan dan kaki, kita pelukan bertiga ya biar kayak teletubies" Goda mbak Hana pada Gendis supaya tidak ngambek lagi.


"Teletubies itu apa bunda? " Tanya Gendis penasaran. Selain murah senyum ternyata mbak Hana juga suka bikin lelucon. Untung saja aku faham. (Yang lebih faham othornya karena udah tuwir dan ada dijaman nya he...)


"Teletubies itu serial televisi anak-anak sayang, ada empat boneka hidup warna-warni yang setiap hari bermain bersama. Ada Tingky wingki, Dipsy, Lala dan juga Po.. mereka kalau setiap bertemu pasti berpelukan"


"Tapi kita kan cuma bertiga bunda? Nanti kita ajak mbok Sumi aja sekalian biar kayak teletubies beneran.Kan kata bunda teletubies ada empat"


Ya Tuhan...


Putriku satu ini....


Gak bisa banget kalau seumpama dikibulin. Terlalu cerdas banget pemikirannya. Kayak orang dewasa aja. Apa katamu aja deh Gendis.


Kali ini mbak Hana gak hanya tersenyum tapi juga tertawa. Kamu baru lihat sedikit keaktifan putrimu mbak belum sepenuhnya.


Mbak Hana kemudian izin ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kakinya. Meskipun mbak markona udah minggat tetap budayakan cuci tangan dan kaki dulu saat baru keluar rumah ya bestie. Apalagi kalau akan berinteraksi dengan anak-anak.


Yups...


Sekembalinya mbak Hana dari kamar mandi. Aku fikir Gendis bakal lupa dengan ucapannya tadi. Ternyata ingatannya sungguh luar biasa. Bahkan Gendis beneran manggil mbok Sumi untuk sekedar berpelukan seperti teletubies. Jadilah kami..


Berpelukan.....


Ya salam.....


*


*


*


Dikit dulu ya kak.


Mau siapin ultahnya my boy dulu.


Selamat ulang tahun adek "Sakha" Semoga panjang umur. Jadi anak soleh buat semua orang ya. Amin...