
Aku membaringkan tubuhku diatas kasur sambil menatap langit-langit kamarku.
Bingung campur galau..
Dari mana aku dapat uang 150 juta untuk melunasi sisa hutang ku. Mana sih juragan cuma ngasih waktu seminggu lagi. Sepertinya laki-laki itu pengen banget jadi in aku istri ketiganya.
iyuh.... muka gak ganteng-ganteng amat lagi. Bukan tipe Binar banget gitu lho.
Tau gitu aku mau aja kemarin sama mas Kai cuma istri kedua.Sama-sama dipoligami kan. Lha ini malah istri ketiga.Eh... tapi kalau sama mas Kai, hutang ku belum lunas ding. Nasib... nasib...
Terus dapat dari mana uang sebanyak itu. Sejenak aku memejamkan mataku. Mencoba mencari cara agar bisa segera mulunasi hutang dan terbebas dari gelar istri ketiga itu.
Tiba-tiba aku teringat sama mas Johan dan mbak Maya. Apa aku pinjam uang sama mereka saja ya. Jadi selama bekerja nanti aku tidak perlu digaji sampai hutang ku itu lunas.
Setelah memikirkan itu aku segera bangkit dari tidurku. Senyumku mengembang karena seolah aku sudah dapat solusinya. Lalu bergegas aku keluar dari kamar.
"Bagas... " Teriakku memanggil adikku yang masih SD itu.
"Ya.. kak.. " Jawabnya.
"Panggilin bang Wawan ya, suruh antar kakak ke terminal"
Adikku itu mengangguk lalu segera berlari menuju rumah bang Wawan.
"Kamu mau kemana Binar, kan baru pulang kenapa sudah minta diantar ke terminal aja? " Tanya ibu yang baru saja datang dan mendengar obrolan ku dengan Bagas.
"Binar mau ke kota bu, mau pinjam uang sama bos Binar. Siapa tau dikasih. Binar gak mau kalau sampai Binar nikah sama juragan Santos. Apalagi jadi istri ke tiga nya. Mending Binar dapat suami miskin tapi satu-satunya dari pada kaya tapi dimadu" Jawabku jujur.
Maaf.. bu.. tapi itulah yang tengah aku rasakan saat ini. Aku benar-benar gak mau nikah sama juragan Santos.
"Tapi kamu baru sampai rumah Bee, masak harus balik lagi"
"Ya karena gak ada waktu lagi bu, Lagian kalau Binar diam saja dirumah Binar gak akan dapat uangnya. Palingan Binar disana cuma dua hari bu lalu pulang"
Ya.. pulang. Andaikan aku dapat pinjaman itu aku akan pulang karena meneruskan liburan ku. Tapi jika aku tidak dapat pinjamannya aku akan selamanya hidup didesa ini. Jadi istri ketiga lagi.
"Ha...maafin ibu karena harus susahin kamu. Kalau gitu kamu hati-hati ya nak. Ibu juga akan coba cari pinjaman dan bujuk bibi mu itu. Siapa tau uang kita di kembalian sama dia"
Aku mengangguk dan segera menyalami ibu karena bang Wawan nampaknya sudah datang.
****
Sore hari nya aku baru sampai dikota. Aku langsung saja menuju kediaman mbak Maya sama mas Johan. Sengaja aku datang kesana, karena aku yakin keduanya sedang ada dirumah saat ini.
Ku pencet bel yang terpasang didepan pagar. Berharap yang punya rumah segera membukakkan pintu nya. Namun setelah lama aku menunggu, pintu belum juga terbuka.
"Apa mbak Maya sama mas Johan lagi gak ada dirumah ya. Kenapa gak aku coba pergi ke toko saja. Siapa tau mereka ada disana" Batinku.
Baru saja aku akan meninggalkan rumah itu. Bi Ina asisten rumah tangga mbak Maya keluar.
"Eh.. non Binar... maaf ya non bibik lama buka nya. Tadi sedang dikamar mandi" Ucap bi Ina sambil membuka pintu gerbang.
"Gak apa-apa bi" Jawabku.
"Lho bukannya non Binar kemarin izin pulang ya?Kok sekarang ada disini. Emang sudah selesai liburannya?" Tanya bi Ina.
Ku garuk rambutku yang tidak gatal.
"He.. he.. iya bik. Lagi ada perlu sama mbak Maya dan mas Johan. Mereka ada dirumah kan bik? "
"Kenapa bik? " Tanyaku penasaran.
"Kemarin malam bu Maya jatuh dan mengalami pendarahan. Jadi sekarang mereka sedang dirumah sakit. Dari semalam bu Maya belum sadar"
"Astaghfirullah hal adzim" Ucapku penuh keterkejutan.
Ya Allah.. mbak kamu orang baik. Semoga tidak terjadi apa-apa sama kamu mbak. Kasihan mas Johan sama dedek kecil. Batinku.
"Kalau gitu Binar kerumah sakit dulu ya bi? "
Bi Ina menganggukkan kepala.
Ya.. Tuhan.. kenapa setiap tempat yang selalu ku datang,i selalu terjadi masalah. Baru juga aku pulang kampung untuk refresing ternyata terbongkar kenyataan bahwa uang ku di tilap sama bi harti. Sekarang saat aku ingin minta bantuan sama mas Johan malah mbak Maya yang sedang terkena musibah.
Astaghfirullah hal adzim...
Segera aku beristighfar meminta ampunan. Tidak seharusnya aku berfikir seperti itu. Mungkin ini memang ujian yang sedang Tuhan berikan padaku. Karena sejatinya Tuhan akan memberikan cobaan karena yakin kalau kita mampu melewatinya. Amin...
Setibanya di rumah sakit kulihat wajah sendu mas Johan. Asli kucel banget kayak gak terawat gitu. Ya.. mungkin karena rasa cintanya sama mbak Maya yang sangat besar kali.
Mbak Maya sih kata dokter sudah berhenti pendarahannya hanya saja entah mengapa masih belum sadar. Semoga kamu baik-baik saja mbak.
Kalau lihat seperti ini, aku jadi gak enak mau pinjam uang sama mas Johan. Terkesan gak sopan banget. Apalagi mas Johan sedang terkena musibah.
Akhirnya malam ini aku pulang ke kosan dengan tangan hampa. Hancur sudah harapanku bersuamikan pria tampan.
Entahlah... pikiranku sudah tidak karuan. Bahkan ketika hujan tiba tak ku hiraukan lagi. Biarkan dingin nya air hujan mendinginkan hatiku yang sedang gundah gulana ini. Hingga suara klakson mobil pun tak ku hiraukan.
Ganggu orang lagi sedih saja.
"Bisa minggir saya mau buka gerbang" Tiba-tiba muncul seorang pria yang memakai payung.
Mataku mengerjap dua kali melihat lelaki itu. Lelaki yang sedang ku rindukan beberapa hari ini. Entahlah... apakah setelah hari ini aku masih berhak untuk merindukannya.
"Mas.. Abhi... " Ucapku pelan.
Lelaki itu menatapku. Entah karena kasihan padaku yang berhujan-hujanan ataukah dia masih terlalu membenciku.
"Teman mas Abhi yang waktu itu dokter kan? Bisa tidak mas Abhi hubungin dia? Adakah orang yang butuh donor ginjal. Saya mau jual ginjal saya"
Karena sudah terlalu frustasi,maka tanpa sengaja kata itu muncul begitu saja dari bibirku. Namun sedetik kemudian aku pun tersadar.
Bukankah aku sudah berjanji tidak akan menggangu nya. Lalu kenapa sekarang aku bisa lupa. Bahkan kini aku berbicara dengannya. Mungkin setelah ini mas Abhi benar-benar akan menganggapku matre beneran.
"Maaf mas Abhi lupakan saja. Anggap aku tak pernah mengatakan itu. Permisi" Ucapku lagi sambil terus berjalan ditengah hujan menuju kosan ku.
Entahlah... mungkin memang aku harus menerima kenyataan yang ada.
Samar aku dengar seorang memanggilku. Tapi entah kenapa aku sudah tidak tertarik untuk melihat orang yang memanggilku itu?
*
*
*