Nguber Duda

Nguber Duda
Enam Puluh Dua



"Pagi Gendis sayang" Sapa dokter Sania yang baru saja memasuki ruangan tempat Gendis dirawat.


"Pagi juga tante Sania" Sapa balik Gendis. Aku pun tersenyum ke arah dokter cantik itu.


"Pagi amat San kesininya, aku fikir agak siangan dikit. Mas Abhi lagi gak ada bahkan mbok Sumi juga" Ucapku


"Nanti siang aku kerja lah Bee.. pagi ini khusus jengukin anak cantik yang lagi sakit" Jawabnya sambil mencubit pipi gembul Gendis dengan gemas.


"Tante bawa hadiah lo buat anak cantik. Gimana pintar gak minum obatnya? Kalau gak pintar tante bawa pulang lagi deh hadiahnya" Tambah dokter Sania.


"Pintar dong tante, iya kan bunda? " Jawab Gendis sambil meminta pembenaran dari ku.


"Pintar dong, siapa dulu ... anaknya bunda? "


"Makasih bunda" Ucap Gendis sambil mencium pipiku.


Ah... rasanya hatiku jadi menghangat. Kok bisa ya Gendis sesayang ini pada ku. Padahal dulu dia begitu jahil.


"Ish... kok curang sih, yang bawa hadiah kan tante Sania, masa yang dapat cium*n bunda sih? " Ucap Sania sewot.


Aku tau banget kalau Sania hanya pura-pura merajuk.


"Iya deh Gendis juga cium tante, tapi dikit aja ya. Soalnya sayangnya udah buat bunda semua" Ucap Gendis lalu mendekat dan mengecup sekilas pipi Sania. Aku dan Sania berpandangan lalu tersenyum.


Ngegemesin banget sih kamu Gendis....


Sania kemudian menyerahkan hadiah itu pada Gendis. Sepasang boneka Barbie dan Gendis sangat menyukai nya.


Putri kecilku itu segera memainkan dua mainan barunya sementara aku dan Sania berpindah ke sisi lainnya.


Aku tau banget Sania gak cuma mau ketemu sama Gendis saja. Jelas dia juga ingin mengetahui sesuatu dari ku.


"Aku sudah bawa barang yang aku bilang kemarin Bee.. " Ucap dokter Sania sambil menyerah kan benda itu kepadaku.


Ku tatap nanar benda itu, antara ingin mencoba nya atau tidak.


Sungguh masih jelas dalam ingatanku tentang pembicaraan ku dengan dokter Sania saat kami berdua malam itu. Karena malam itu dokter Randy sedang keluar mencarikan pesanan makanan dan minuman ku yang bejibun.


Flashback on.


"Biarin mas Abhi nyariin aku dulu aja baru aku balik. Sekarang aku lapar dan kamu yang harus tanggung jawab Ran. Kamu yang bikin aku tadi gak jadi makan dan malah pingsan. Pokoknya aku mau kamu beliin aku Siomay, batagor, cilok, gado-gado, lontong sayur sama burger. Oh iya sekalian minum nya aku mau minum, es kelapa muda, es oyen sama es boba. Awas ya jangan ada yang ketinggalan. Kalau enggak aku bakal bilang sama mas Abhi kamu nyulik aku"Ucapku begitu panjang.


Entah nanti aku bisa menghabiskannya atau tidak. Niatnya pengen ngerjain dokter Randy saja. Tapi...


Gak juga ding....


Toh kenyataannya semua makanan yang ku sebutkan tadi begitu terbayang diwajahku.


Dokter Randy sempat menolak tapi, tiba-tiba tangis ku pecah. Seperti disaat mas Abhi menghabiskan mie goreng ku.


Kayak bukan seperti aku yang biasanya. Masa Binar jadi cengeng begini.


Tapi sisi positifnya dokter Randy memenuhi permintaan ku.


"Oke.. lah.. aku cariin pesenan kamu. Cengeng banget sih pakai nangis segala" Omel dokter Randy. Meskipun ngedumel tetap saja dokter Randy keluar dari ruangan nya untuk mencarikan pesanan ku.


Sepeninggal dokter Randy aku hanya tinggal berdua dengan dokter Sania.


Entah kenapa ada yang aneh dengan dokter Sania saat ini. Dokter Sania seperti sedang menatapku dengan lekat.


"Sejak kapan pola makan kamu jadi aneh gitu Bee..Apa memang biasanya kamu makannya banyak seperti itu? " Selidik dokter Sania.


Ku cerna ucapan dokter Sania. Emang benar sih beberapa hari ini memang aku suka aneh banget. Aku yang biasanya makan seadanya dan secukupnya, akhir-akhir ini sering pengen ini dan itu dengan porsi yang besar pula.


"Gak tau San, mungkin emang lagi pengen aja kali. Cuaca nya juga enak. Jadi bawaannya lapar aja" Jawabku sekenanya. Tapi tetep aja gak merubah wajah dokter Sania yang menatapku horor.


Adakah aku melakukan kesalahan sehingga harus ditatap seperti itu?


Lho.. lho... lho... nanyanya kok malah jadi aneh-aneh gini. Apa karena dokter Sania dokter kandungan jadinya itu yang selalu di tanyakan pada setiap orang. Tapi gak enak juga kalau gak jawab. Dokter Sania nanya nya kayak serius gitu.


"Udah kok San"Jawabku akhirnya


"Berapa hari? Terus keluarnnya gimana? "


Makin aneh kan nanya nya. Untung aja kita sama-sama perempuan. Jadi aku dengernya biasa aja. Coba aja tadi dokter Randy yang nanya. Udah aku tabokin dia . Gak lagi tugas tapi nanya aneh-aneh.


"Cuma beberapa hari saja keluarnya, cuma flek-flek saja. Dikit-dikit gitu"


Tiba-tiba ku dengar helaan nafas dari dokter Sania. Ada apa lagi ini? Makin aneh gak sih satu orang ini. Apa karena gak ada dokter Randy yang diajaknya berantem makanya Sania jadi aneh gini.


"Gimana kalau aku bilang kamu sedang hamil Bee... "


Peft....


Rasanya pengen ketawa aja. Ada-ada saja dokter Sania.


"Gak usah ketawa Bee... aku serius tau. Kalau aja saat ini kamu adanya diruangan ku pasti udah langsung aku periksa. Sayangnya ini ruangannya Randy" Ucap dokter Sania.


Sejenak aku terdiam. Gimana kalau apa yang diucapkan Sania itu benar? Gimana kalau aku beneran hamil? Apa aku harus bahagia atau tidak ya? Mengingat hubungan ku saat ini sedang tidak menentu.


"Gini aja, besok kamu ke tempat praktek aku. Dan aku bakal memastikan apakah kamu beneran atau hamil atau tidak"


Entah mau menjawab apa lagi. Aku pun hanya mengangguk saja. Akan ku turuti saja perkataan dokter Sania. Masalah aku nanti hamil atau tidak? Akan ku fikirkan nanti.


Flashback Off


"Ayo Bee.. dicoba saja, aku sengaja datang kesini pagi-pagi karena aku udah penasaran banget sama hasilnya" Ucap dokter Sania yang heboh.


Padahal aku yang bersangkutan saja biasa aja.


Mau tak mau ku langkahkan kaki ku ke dalam kamar mandi. Setelah menyimpan air seniku didalam sebuah wadah bersih, segera aku memasukkan benda pipih itu kedalamnya.


Sungguh...


Rasanya kayak nunggu hasil ujian aja.


Dag


Dig


Dug


Banget....


Mataku membola saat benda itu sudah menunjukkan hasilnya. Dua garis merah bestie...


Antara senang dan tidak.


Sungguh aku sangat bahagia karena cepat diberikan anugrah. Tapi aku juga sedikit cemas jika mas Abhi tidak menerima kehadiran bayi ini nanti.


Benarkah kata dokter Sania waktu itu jika mas Abhi pasti bisa menerimaku jika aku hamil anaknya. Mungkin jika itu satu bulan yang lalu akan percaya. Tapi sekarang mbak Hana sudah datang.


Tidak...


Mas Abhi gak boleh tau, jika saat ini aku sedang mengandung anaknya. Setidaknya aku harus tau dulu alasannya tidak ingin aku hamil padahal kami adalah pasangan suami istri.


*


*


*