
Aku berbaring sambil memandang langit-langit kamar baruku.
Hampa banget hidupku...
Jadi heran...
Manusia mah gitu...
Suka gak konsisten.
Saat dirumah mas Abhi yang kurasakan sakit hati, tapi saat jauh seperti ini rasanya rindu. Benar kata Dilan rindu itu berat.
Apa kabar mas Abhi? Apakah saat ini dia juga merindukan ku?
Sepertinya tidak.
Hah... segera aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar. Dirumah mama yang besar seperti ini sepi banget. Coba ada Gendis pasti aku gak bakalan kesepian.
Gara-gara mama nih aku harus dipisahkan dengan mereka berdua.
Coba aja kalau waktu itu mama gak denger percakapan ku dengan dokter Sania. Pastinya saat ini aku masih tetap bersama dengan mas Abhi ding. Meski aku sakit hati dengan suami ku itu tapi aku gak akan berani ninggalin dia. Omongan boleh berani tapi nyatanya kenyataan nya tidak.Toh berulang kali mas Abhi melakukan kesalahan dan akupun selalu memaafkan nya.
Sepertinya aku memang harus mengikuti permainan mama. Biarlah... aku dapat melihat sejauh mana mas Abhi mencintai ku. Kalaupun kenyataannya tidak ada cinta itu, aku sudah terbiasa tanpanya kehadirannya nanti.
Flashback On
ku buka pintu kamar mandi dengan sebuah hasil di tangan ku.
"Gimana hasilnya Bee... " Tanya dokter Sania. Dokter itu masih setia menunggui ku didepan kamar mandi.
Jujur aku tak bisa berbohong kepadanya.
Pelan ku serahkan benda yang sedari tadi aku pegang itu. Begitu dokter Sania melihatnya, senyuman terbit dari bibir dokter cantik itu.
"Sudah aku duga Bee... kalau kamu memang sedang hamil. Selamat ya.. aku turut bahagia dengan kabar ini. " Ucap dokter Sania sambil memelukku.
Erat..... sekali....
Tak tau kah engkau San, jika saat ini hatiku sedang kacau balau. Antara bahagia, takut juga merasa sedih.
Aku bahagia karena aku sudah diberi kepercayaan secepat ini. Sungguh aku memang selalu menyukai anak-anak.Apalagi jika itu adalah anak kandungku sendiri.
Tapi aku juga takut..
Takut, jika saat anak ini lahir nanti tak dapat pengakuan dari ayah kandungnya. Apakah mas Abhi akan sudi menerima dan menyayangi anak yang terlahir bukan dari perempuan yang dicintainya.
Belum apa-apa saja aku sudah merasa ketakutan sendiri.
"Jangan bilang mas Abhi ya San, jika aku sedang hamil"
Sania menatapku dengan heran. Mungkin Sania berfikir jika laki-laki akan bahagia jika mendengar istrinya sedang mengandung.
"Aku hanya takut mas Abhi tidak menerima kehadiran anak ini San"
Sania terdiam sambil menatapku.
"Abhi pasti nerima anak kamu Bee... sejahat-jahatnya dia gak mungkin Abhi menelantarkan anaknya"
Kali ini aku yang terdiam. Benar kata Sania. Mas Abhi tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Meskipun mas Abhi laki-laki yang kamu. Tapi aku tau dia orang baik.
"Tapi Abhi perlu di beri pelajaran"Suara itu tiba-tiba mengintrupsi pembicaraan ku dengan dokter Sania. Segera kami berdua melihat ke arah sumber suara itu.
" Mama"
"Tante"Ucap kami bersamaan.
Ya mama mas Abhi yang datang.
Gaswat
Niat hati ingin merahasiakan dari mas Abhi malah mama nya mas Abhi yang tau duluan.
" Sayang... benar kan yang mama dengar kalau kamu sedang hamil. Mama senang banget, karena akhirnya mama mau punya cucu lagi"Ucap mama begitu bahagia. Mama bahkan tanpa canggung mengelus perutku.
"Cucu oma baik-baik didalam ya" Katanya berbicara pada perutku.
"Dengar Bee... setelah Gendis keluar dari rumah sakit kamu akan tinggal dirumah mama. Biarkan Abhi tinggal sendirian dirumah. Biarkan saja dia merasakan punya istri tapi gak ada disampingnya" Ucap mama menggebu-gebu.
"Tapi ma....., " Potong ku.
Deg
Mama tau....
Duh mbok Sumi...
Kenapa harus kasih tau mama segala sih. Kan aku jadi gak enak. Gimana kalau nanti mas Abhi dijewer kayak yang kemarin. Aku gak mau dong mas Abhi sampai kesakitan.
"Sania juga setuju tante. Abhi emang perlu dibikin kapok" Ucap Sania.
Ini juga dokter Sania ikut-ikutan aja.
"Tuh... Sania aja setuju. Ingat ya Bee... begitu Gendis keluar dari rumah sakit kamu akan tinggal dirumah mama. Kamu Pura-pura aja minta pisah sama Abhi. Mama yakin kita berdua ingin tau reaksi Abhi kayak gimana. Pura-pura lah minta pisah sama dia. Kalau dia menunjukkan perjuangan untuk dapatkan kamu maka itu artinya dia mencintaimu. Maka mama tidak akan melarang kalian kembali bersama. Tapi... Jika dia bersikap sebaliknya.. Maka kamu akan tetap jadi anak mama dan mama pastikan Abhi tidak akan tahu kalau dia punya anak dari kamu. Biar dia menyesal seumur hidup"Ucap panjang lebar mama.
Gak ke bayangin aku bakal rindu banget sama mas Abhi selama kami pisah nanti. Masih ingat kan?Duluvsaja tanpa melihat mas Abhi membuatku tidak bersemangat kerja. Bagaimana sekarang?
Tapi sepertinya ucapan mama sudah tidak di bisa di ganggu gugat.
Biarlah...
Toh aku juga tadi kepikiran seperti itu. Maka mulai sekarang aku akan memantapkan hati ini untuk merawat anak ku kelak. Dengan atau tanpa kehadiran Mas Abhi. Semoga kamu benar mencintaiku mas. Sehingga aku tidak menahan rindu ini terlalu lama.
Flashback off
Hah...
Lagi-lagi ku hembuskan nafas ku sambil berjalan mencari keberadaan mama. Tapi masih juga belum kutemukan. Kemana perginya penghuni rumah ini? Kenapa sepi sekali.
Sungguh aku merasa sangat kesepian sekali.
Karena aku belum juga menemukan keberadaan orang yang ku cari. Aku akhirnya duduk di sofa ruang tamu mama.
Tau gini aku tinggal di kosan saja masih ramai dan banyak teman.
Mas Abhi juga keterlaluan masa iya sampai sekarang dia juga belum menyusul ku dan sekedar meminta ku kembali.
Ya Tuhan...
Meski sudah ku persiapkan hatiku untuk kenyataan seperti ini tapi rasanya masih sakit hati banget.
Mas...
Apa iya kamu memang tidak mencintaiku. Haruskah aku benar-benar menyerah dari sekarang?
Tes
Lolos sudah air mata ini membayangkan tragisnya kisah cintaku
"Bunda..... "
Segera ku cari asal suara itu.
Gendis...
Putri kecilku kesini? Segera ku hapus sisa air mata yang ada di pipi. Aku gak mau Gendis melihat bundanya habis menangis.
Gadis itu langsung saja memelukku dengan erat.
Ah.. rasanya sedikit lega melihat Gendis Rupanya mana tadi memang sengaja menjemput Gendis dan membawanya kemari.
Tapi dimana mas Abhi...
Apa di tidak ikut kemari dan membujuk ku?
"Abhi tidak ikut Bee... " Ucap mama yang seolah menjawab semua pertantaanku.
Ah... rasanya sungguh kecewa.
*
*.
*
He.. he.. ampun kak.. ini up untuk yang kemarin ya. Soalnya ketiduran.
InsyaAllah nanti up lagi untuk hari ini.