Nguber Duda

Nguber Duda
Delapan Puluh Enam



Ku pandang dua sosok yang saling berpelukan di hadapanku itu. Tanpa terasa air mataku ikut mengalir seiring sajian keharuan yang terpampang jelas di hadapanku.


Ya ....


Saat ini ibu sedang berpelukan dengan kakaknya setelah sekian lama berpisah. (Bayanginnya pakai soundtrack lagu tere liye kayak yang di sinetron ikan terbang ya ha.. ha.. ha...)


Demi apapun...


Tak pernah terbayangkan, bahwa kami yang sudah merasa sendirian sesaat setelah ayah meninggal ternyata masih punya keluarga.


Keluarga dari ibu tepatnya. Selama ini ibu hanya bilang sendirian tanpa punya keluarga. Kami pun tak pernah menyangka bahwa ibu masih punya seorang kakak. Bahkan sosok itu sudah lebih dulu aku kenal, bahkan sebelum ibu memberi tahu kan nya padaku.


Pakdhe Aldo begitulah seharusnya aku memanggilnya.


Papa dari Vika itu ternyata adalah kakak ibu yang selama ini sedang mencari keberadaan ibu. Herannya yang peka justru mama dari Vika.


Pantas saja saat pertama kali melihatku mama nya Vika itu ngelihat aku sebegitunya. Aku fikir dia itu gak suka saat aku diperkenalkan sebagai istri mas Abhi waktu itu. Aku fikir mama nya Vika berharap anaknya yang jadi menikah dengan mas Abhi. Biasalah... emak-emak kan memang berharap anaknya dapat jodoh yang terbaik gitu lho.


Gak tau nya mama nya Vika memandangku karena merasa tidak asing pada wajah ku. Dia seperti melihat sosok ibu dengan melihat wajah ku.


Ya iya la budhe...


Kan aku memang anaknya. Jelas saja ada mirip-miripnya.


Dari mana aku tau?


Tentu saja dari si bawel Vika.


Vika juga banyak cerita tentang usaha papa nya mencari ibu.Makanya begitu Vika menemukan keberadaan ibu. Vika segera menghubungi papa nya.


Jadilah malam itu juga papa dan mama Vika datang ke kampung halamanku. Dan terjadilah aksi peluk-pelukan yang haru itu.


Ah.... rasanya bahagia sekali punya keluarga.


Karena tak tahan aku pun keluar dari rumah. Dari pada nanti aku nangis kejer dan susah balikin mood nya. Mending aku duduk di kursi panjang yang ada di teras.


"Ehm... gak nyangka ya Be... kalau kita ternyata sepupuan" Ucap Vika padaku lalu ikut duduk disebelahku.


Sejenak ku toleh kan wajahku ke arah Vika. Senyum ku mengembang ke arahnya. Rupanya gadis bawel itu juga gak tahan melihat keharuan di dalam rumah maka ya dia ikut keluar menyusulku. Terlihat banget matanya yang masih ber kaca-kaca.


"Iya ... ternyata dunia sempit banget ya. Kita dekat tapi gak saling mengenali" Tambahku


"Heem... akhirnya penantian papa berbuah hasil sudah. Aku senang papa sudah menemukan tante Angel"


Aku hanya tersenyum lalu memandang lurus ke depan.


Gak ada kata-kata yang bisa menggambarkan kebahagiaan ku saat ini. Mungkin ini saatnya keluarga kami ,terutama ibu merasakan bahagia bertemu keluarga nya.


Setelah sekian lama cobaan silih berganti inilah saat nya.Semoga saja....


"Sayang... kamu ada disini? " Ucap mas Abhi yang tiba-tiba ikut menyusul kami keluar rumah.


Aku menggeser tubuhku sehingga mas Abhi juga bisa duduk disampingku.


"Kalau di dalam pengen nangis mas, mending keluar aja dari pada nanti aku ikut nangis. Nanti dedeknya jadi ikut sedih juga" Jawab ku sambil mengusap perutku yang sedikit membuncit


Mas Abhi membelai lembut rambutku lalu membungkuk ke arah perut ku


"Anak papa gak boleh ikut sedih ya? Anak papa harus senang dong. Kan jadi punya banyak oma dan opa nanti" Ucap mas Abhi ikut-ikutan mengusap perut ku.


"Dasar lebay, bucin" Sindir Vika disampingku.


Gadis itu merasa sebal karena gak punya pasangan. Siapa suruh jomblo.


"Sirik lo" Jawab mas Abhi gak kalah sewot.


"Ogah aku mah biasa aja. Cuma rada heran aja. Kok bisa orang datar kayak mas Abhi ini bisa bucin juga ternyata. Padahal dulu galak minta ampun"Ucap Vika sewot sambil melipat kedua tangannya.


" Iri.. bilang.. bos"


Gemes banget lihat nya. Ternyata Vika dan mas Abhi bisa bertingkah kayak anak kecil gitu. Ternyata Vika memang hoby berantem


sama orang.


Emang dasar orang-orang aneh. Pantesan aja tadi Vika sama Vano juga berantem. Emang dari orok sikap Vika kayak gitu. Udah mensarah daging mungkin.


"Dari pada jadi orang ketiga yang disebut setan mending aku nyari angin keliling kampung deh. Biar adem dan gak panas lagi, lihat pasangan mes*um di depan anak-anak" Ucap Vika sewot lalu berdiri hendak jalan ke luar. Kami yang melihatnya pun hanya tersenyum saja.


"Jiah... udah tuir ngaku anak-anak" Sindir mas Abhi. Tapi Vika terlihat tidak perduli dan terus melangkah.


Suka-suka kamu lah Vik.


Tiba-tiba...


Brukkkk


"Au"


Pekikan itu berasal dari Vika.


Mataku melotot melihat pemandangan yang ada. Setelah di dalam tadi aksi haru-haruan ternyata di luar tersaji adegan romantis ala drakor.


Vika yang tersandung batu ditangkap oleh bang wawan yang baru saja datang.


"Onde... mande... ganteng bingits... " Ucap Vika.


Sayangnya bang Wawan tiba-tiba yang kaget dengan ucapan Vika langsung melepaskan genggaman tangannya sehingga Vika harus terjatuh juga.


Upsssss


Segera saja ku tutup mulutku supaya tawa ku tidak terdengar. Bisa ngamuk tuh anak kalau sampai ku tertawakan. Sayangnya justru tawa mas Abhi yang gak bisa di rem sehingga dua sejoli yang sedang beradegan romantis itu melihat ke arah mas Abhi dengan geram.


"Sakit... mas... kamu gak mau bantuin aku berdiri apa? " Rengek Vika dengan manja.


Eh...


Sejak kapan gadis bawel itu jadi manja dengan laki-laki?


"Oh... iya.. " Ucap bang Wawan sambil mengulurkan tangannya membantu Vika berdiri. Yang dibantu hanya senyum-senyum gak jelas.


"Ibu mu ada Bee..? " Tanya bang Wawan yang setelah membantu Vika bersiri.Mengacuhkan gadis itu. Padahal kelihatan banget Vika sedang tebar-tebar pesona.


"Ada bang di dalam" Jawabku akhirnya sambil sesekali melirik ke arah Vika.


"Ok" Ucap bang Wawan langsung saja ngelonyor.


Vika yang melihat itu pun manyun dan kami lagi-lagi harus dibuat tertawa karena ulahnya.


"Cie... yang di kacangin" Ledek mas Abhi


"Biarin.. akan ku kejar sampai dapat dong" Jawab Vika menggebu-gebu.


"Yakin...? Kamu cocoknya sama Vano lo lebih seru. Dari pada sama Wawan" Ucap mas Abhi lagi.


"Oh jadi.. namanya Wawan. Gak apa-apa deh namanya Wawan asal mukanya Bryen mykenzie" Ucap Vika sambil cekikikan


Hah... apa kita sepupuan ya ?jadi sikapnya sama kayak aku.


Huft... pantas saja mas Abhi dulu datar banget sama aku. Ternyata pas lihat Vika aku pun jadi geli sendiri.


Ya Tuhan...


Ternyata dulu sikapku juga se alay itu....


*


*


*


Maaf ya kak... dua hari gak up. Lagi ada pekerjaan baru di dunia nyata jadi agak sibuk. Ini saja di usahain banget bisa up. Biar kakak-kakag gak kecewa.


Semangat... semangat.. semangat up buat aku. Pasti bisa. 🤭🤭🤭