
Kapankah kita akan bertemu
Disini aku terus menunggu
Teramat rindu yang kurasakan
Padamu wahai sang kekasih hati
Ingin diri ini ungkapkan
Tapi dengan apa...?
Apakah dengan kata-kata mesra?
Yang hanya kau pandang sebelah mata
Apakah dengan coretan tinta?
Yang sering kali kau tak memahaminya
Ataukah dengan cium*n manja?
Yang katanya hanya nafsu belakang
Aku bingung....
Juga resah.
Haruskah ku simpan saja
Tapi aku hanya ingin kau tau
Hanya ingin kau mengerti
Kalau hati ini....
Rindu mati
****
Ku pandang lekat penampilanku lewat kamera handphone. Sangat berbeda dengan biasa nya. Rambut pendek menggunakan wig dan sedikit tai lalat palsu diatas bibir.
Udah macam detektif yang menyamar saja.
Buat apa coba?
Tentu saja buat ketemu sama mas Abhi.
Sudah hampir satu bulan aku gak ketemu sama dia. Entah mas Abhi yang sudah lupa atau apa? Ataukah dia sudah bahagia tanpa aku? Entahlah....
Yang jelas tak pernah sekalipun mas Abhi menginjakkan kakinya dirumah mama semenjak aku tinggal disana. Hanya Gendis saja ya datang sesekali dijemput sama mama. Lalu sore harinya diantar kembali lagi.
Adakah engkau tak rindu padaku mas? Kenapa cuma aku yang merasakannya. Bahkan saking tidak tahannya aku menahan rindu, aku terpaksa menyamar seperti ini.
Dan disinilah aku sekarang. Di sebuah restoran tempat biasanya kamu selalu makan siang saat jam istirahat dikantor. Ini juga berkat dokter Sania Aku mengetahui kebiasaanmu itu. Kalau sama mama mana berani aku nanya.Bahkan untuk minta izin keluar saja aku tak bisa. Kalau saja aku gak bilang anak dalam perutku ini yang ingin ketemu sama ayahnya. Mungkin mama gak akan mengizinkannya.
Semoga kita bisa bertemu mas, walau hanya dalam diam.
Aku berharap nya, hari ini kamu gak ada meeting diluar, jadi sesuai perkiraan ku kamu akan datang kemari mas. Cukup hanya melihat wajahmu saja selebihnya aku tak akan mengharapkan apa-apa lagi.
Akupun sudah tidak terlalu berharap dengan hubungan kita.
Setelah menunggu hampir setengah jam akhirnya aku bisa melihat wajah yang ku rindukan itu. Entah salah atau tidak tapi ada sedikit yang berbeda dengan mas Abhi. Agak kurusan sih? Boleh GR sedikit gak sih kalau aku mikirnya mas Abhi kurusan karena juga rindu aku?
Eh.. tapi aku yang bilang rindu aja malah gemukan. Ceh.. mungkin saja mas Abhi sedang banyak pekerjaan.
Tapi mas Abhi gantengnya tetep lo.
Tiba-tiba pengen meluk atau di peluk sama mas Abhi. Coba saja saat ini aku gak lagi nyamar mungkin udah aku peluk laki-laki yang masih berstatus suamiku itu. Biar kata dia nolak bakalan tetap aku peluk. Sayangnya aku lagi gak jadi diriku sendiri.
Untuk saat ini aku hanya bisa memandangnya dari jauh saja. Sambil ngelus perutku yang masih rata.
" Sabar ya sayang.. bunda lagi cari cara biar bisa dipeluk sama ayah kamu, -"Monologku
Tiba-tiba melintas sebuah ide berlian di kepalaku. Emang ya kalau udah biasa bikin kejahilan, ada saja idenya.
Ehm.. ehm...
Ku buka tas yang ku bawa, sambil ngubek-ngubek isi di dalam nya. Semoga aja barang yang selalu kusimpan dulu sewaktu gadis masih ada ditempatnya. Barang yang selalu ku persiapkan untuk menghadapi penjahat jika mereka ingin berbuat jahat kepadaku.
Bukan senjata tajam lo bestie... Binar mah takut sama barang gituan. Soalnya aku cuma bawa mainan hewan-hewan kecil yang biasanya ditakuti orang karena merasa geli.
Ada ya orang mikir kayak aku gitu? Untung aja aku gak beneran ketemu sama penjahat. Bayangin kalau ketemu beneran bisa habis aku. Karena cuma bersenjatakan mainan.
Fiks....
Aku pun memilih satu buah kecoa mainan lalu menggenggam nya dengan erat.
Pelan aku berjalan ke arah mas Abhi yang sedang duduk sendiri.
Begitu sampai didekat mas Abhi segera aku lempar mainan itu ke arah kakiku.
"Kecoa... kecoa... kecoa... " Teriakku..
Rasanya rindu ini jadi plong saat aku memeluk laki-laki itu. Sementara yang aku peluk hanya melongok bingung.
"Maaf mbak anda terlalu tidak sopan? " Ucapnya.
Tapi aku gak perduli tuh dan masih saja nemplok ditubuh mas Abhi.
"Maaf mas tadi ada kecoa jadi saya takut" Acting ku.
Ini mah biasa. Kemarin-kemarin waktu acting mau pisah sama mas Abhi saja aku luar biasa. Apalagi cuma kayak ginian. Sepertinya setelah ini aku kerja jadi aktris saja. Lebih gampang dan menjanjikan. Kalau ada yang mau pakai jasa ku hi... hi....
Ok kembali ke laptop.
Mas Abhi yang mulai tak nyaman berusaha menyingkirkan tubuhku dari pangkuannya. Jelas aja mas Abhi nolak, orang yang dia lihat yang ada di pangkuannya perempuan lain.
"Maaf mbak terlalu tidak sopan jika anda duduk sambil meluk saya seperti ini. Apalagi ini tempat umum" Ucap mas Abhi
Benar sih apa yang mas Abhi bilang. Kan mas Abhi taunya aku bukan istri halalnya.
"Tapi tolong disingkirkan dulu kecoa nya ya mas, takut" Rengek ku manja.
Beh... jos pokonya.
Mas Abhi hanya mengangguk, dari pada aku yang terus duduk di pangkuannya dan bikin panas dingin kalau semakin lama.
"Sekarang kamu berdiri dulu, biar saya singkirkan kecoa itu" Ucap mas Abhi.
Pelan aku menapakkan kaki ku dilantai. Begitu mas Abhi sudah berdiri aku segera berdiri di belakangnya. Gak lupa melingkarkan tanganku diperut laki-laki itu.
Modus banget ya aku ini. Dari pada anakmu nanti ngeces mas.
Mas Abhi menunduk lalu mengambil mainan yang menyerupai hewan itu. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil membolak-balik mainan itu.
"Ini cuma mainan mbak" Ucap laki-laki itu sambil mengarahkan mainan itu didepan wajahku.
"Ah... "teriakku lantang meskipun hanya pura-pura kaget saja.
" Singkirkan mas.., meskipun mainan saya tetap takut"
Lebay dan total banget acting nya.
Mas Abhi hanya mendengus kesal sambil mengantongi mainan itu.
"Sudah tidak ada lepaskan pelukan kamu" Ucap mas Abhi galak.
"Udah terlanjur keenakan mas" Kali ini aku yang gak ada akhlak.
Mas Abhi hanya mendengus kesal sambil berusaha melepas jeratan tanganku. Sayangnya susah, karena udah terlanjur nempel kayak perangko.
"Mas Abhi apa-apa an in" Ucap seseorang yang baru saja datang.
Hana
Ya...
Yang datang adalah mbak Hana, dan perempuan itu terlihat begitu marah saat melihat ku sedang memeluk mas Abhi.
Apakah dia sedang cemburu?
Baru saja aku mencoba bertanya-tanya dalam hatiku. Mas Abhi sudah menyentak tanganku dengan keras.
"Please Han, ini gak seperti yang kamu lihat"
Deg..
Aku mematung ditempat. Kenapa mas Abhi harus begitu takut dipergoki sedang memeluk perempuan lain oleh mbak Hana. Padahal saat mas Abhi ku pergoki sedang bersama mbak Hana dia biasa saja.
Apakah selama aku tak dirumah mereka menjalin hubungan kembali? Pantas saja mas Abhi gak pernah datang kerumah mama untuk membujuk ku kembali. Inikah alasannya? Apalagi mbak Hana juga sembuh.
Sakit lagi hati ini.
Sedikit menyesal aku nekat menemui mas Abhi hari ini. Pelan tanpa kata ku tinggalkan mereka berdua.
Sepertinya mas Abhi sudah tidak membutuhkanku sekarang. Mungkin inilah saatnya aku harus pergi dari hidup laki-laki itu.
Entahlah..
hatiku sungguh bimbang.
Aku diantara dua pilihan. Menyerah lalu pergi atau bertahan dengan luka yang selalu engkau torehkan.
*
*
*
Panas dingin gak...
Hi.. Hi... Pengen nampol mas Abhi.?
Jangan lah.... yang sabar ya kak.