Nguber Duda

Nguber Duda
Lima Belas



"Tetap didalam mobil dan jangan pernah menunjukkan dirimu disini" Ucap mas Abhi ketika kami telah sampai didepan sebuah rumah mewah.


Aku hanya mengangguk saja. Berasa kayak selingkuhan yang disembunyikan dari istri sah aja. Tapi mas Abhi kan duda. Apa jangan-jangan berita itu bohong ya. Entahlah....


Lalu kira-kira ini rumahnya siapa ?Bukannya mas Abhi udah punya rumah.


Bertanya pun percuma karena mas Abhi tipe pria irit bicara dan gak mungkin dengan suka rela menjawab pertanyaan ku.


Pria itu pun keluar dari mobilnya dan membiarkan aku tetap di dalam. Namun baru beberapa langkah seorang anak kecil berlari menghampiri mas Abhi.


Siapa lagi kalau bukan Gendis. Pantas saja rumah mas Abhi tadi sepi banget. Rupanya anak resek ini lagi ada disini.


Dari arah belakang nya muncul wanita paruh baya dan juga mbok Sumi.


"Jangan lari-lari Gendis nanti jatuh" Ucap wanita yang belum ku ketahui namanya itu. Sekilas ku lihat wajahnya mirip dengan mas Abhi maupun Gendis. Kayaknya itu ibunya mas Abhi deh.


Dari mana aku tau mereka mirip meski aku bersembunyi didalam mobil? Tentu saja karena mobil mas Abhi yang tembus pandang dari dalam. Meskipun kacanya hitam dan tidak terlihat dari luar tapi aku yang didalam bisa melihat dengan jelas keadaan diluar.


Setidaknya aku bisa berterimakasih karena itu.Artinya saat ini aku bukan disembunyikan dari istrinya dong.


Dugaanku benar, karena setelah wanita itu mendekat mas Abhi langsung mencium tangan perempuan itu.


"Papa lama... perginya.. katanya mau nemenin Gendis beli sepatu kaca" Ucap Gendis manyun sambil menarik baju papanya. Terlihat matanya sudah berkaca-kaca ingin menangis.


"Kenapa gak sama tante Vika aja tadi atau sama oma?" Jawab mas Abhi kemudian.


"Gak mau, maunya sama papa saja"


Sebenarnya kalau gak nyebelin Gendis ngegemesin banget lo. Lihatlah... ketika dia sedang merajuk dengan papanya. Rasanya pengen aku cubit pipinya karena saking gemesnya.


"Gimana kalau beli sepatu kacanya sekarang saja, mumpung papa udah datang. Tante Vika temenin deh"


Tiba-tiba seorang perempuan muda keluar lagi dari rumah itu. Siapa lagi perempuan itu? Nyebutnya sih tante? Tapi tante kan bisa semua orang manggil tante? Apalagi pandangan perempuan itu sama mas Abhi terlihat berbeda.


Kalau gak ingat ancaman mas Abhi tadi aku udah nerjang keluar aja. Enak aja mandangin gebetan aku gitu banget.


Beruntungnya lagi Gendis menggeleng. Ternyata ada untungnya juga sikap judes Gendis.


"Kenapa sayang, kan biar Gendis lebih deket sama tante? Tante masih kangen loh sama Gendis" Tambah Vika.


Nah lo bener kan Vika itu bukan tante aslinya Gendis. Bisa jadi Vika adalah pacar mas Abhi. Hah.. memikirkan itu aku kok jadi sedih lagi. Apa iya perjalanan cintaku hanya sampai disini saja dengan mas Abhi. Pantas Saja mas Abhi melarangku untuk turun. Rupanya laki-laki itu tidak ingin Vika bertemu denganku.


"Binar... Binar... sadar diri kamu. Mana mau mas Abhi mau sama kamu. Kalau yang mengelilinginya adalah perempuan-perempuan yang lebih segalanya dari kamu. Bahkan orang tua mas Abhi pun terlihat sudah biasa saja dengan Vika. Artinya mereka telah direstuai" Batinku dalam hati.


Harusnya aku tadi pulang sendiri saja dan gak pernah tau tentang kenyataan ini. Masa iya udah tau seperti ini aku masih ngajar-ngejar mas Abhi sih.Beda lagi kalau aku gak tau.


Hah...


Ku hempaskan tubuhku di kursi lalu ku pejamkan mata ku . Rasanya aku tak sanggup lagi melihat adegan demi adegan yang terpampang dimata ku ini.Terlalu bikin sakit hati dan patah hati.


Mas Abhi...mas Abhi bisa banget kamu membuat hatiku jadi ambyar kayak gini.


Cek lek...


Baru juga aku memejamkan mata tapi sudah kudengar suara pintu mobil terbuka. Gegas ku buka mataku dan melihat seorang yang membuka pintu.


"Kenapa papa gak bilang kalau ada bundanya Gendis disini" Teriak gadis kecil itu girang. Seperti anak yang kehilangan mainan lalu di temukan.


Glek...


Kini pandangan semua orang yang sedang berbincang itu pun menatap kearah Gendis. Bahkan Vika sudah berjalan kearah kami.


"Ayo bundanya Gendis turun. Gendis kenalin sama oma nya Gendis" Ucap Gendis sambil menarik-narik tanganku.


Duh... Gendis... kenapa sikapnya jadi aneh kayak gini sih. Kenapa gak kayak biasanya aja yang selalu memusuhiku. Jangan-jangan nih anak sengaja bikin aku perang sama Vika.Lagi ngerjain aku nih kayaknya.


"Gendis hust"Bisikku sambil menempelkan jari telunjuk ku di bibir.


Mencoba memberi aba-aba pada gadis kecil itu supaya diam. Tapi sayangnya percuma karena kini Vika sudah ada disamping Gendis dan menatapku dengan tajam.


" Siapa kamu? Kenapa kamu ada dimobil mas Abhi? Mau nyuri ya? "


Helloooo....


Siapa lo berani-berani natap horor gitu ke arah gue .Sembarangan pula ucapannya.Main tuduh orang pencuri aja. Biar kata aku orang miskin tapi paling anti dituduh seperti itu.


Cantik mah percuma kalau gak punya attitude. Cuma pacar mas Abhi doang mah. Sebelum janur kuning melengkung masih ada kesempatan.


Kayaknya kata-kataku tadi aku ralat deh. Setelah ini aku akan berusaha semakin keras untuk dapat perhatian dan cinta mas Abhi. Biar aja Vika nanti nangis darah.


"Kan udah Gendis bilang tante. Ini bundanya Gendis. Ayo bunda.. Gendis kenalin sama oma"Ucap Gendis lagi sambil masih menarik tanganku.


Kali ini ku biarkan saja Gendis menarik ku kemana. Gak perduli deh kalau mas Abhi bakal marah. Toh bukan aku yang keluar sendiri tapi Gendis yang mengajakku.


Lagian...


Menurut feeling ku, mas Abhi gak akan macam-macam selama ada Gendis dan ibunya. Eh.. tapi kalau ibunya gak galak seperti ibunya mas Kai sih. Gimana kalau ibunya galak?


Membayangkan nya membuatku menelan ludah. Emak.. tolongin Binar....


"Abhi.. kamu bawa perempuan cantik kok gak dibawa masuk dan kenalin sama mama sih" Ucap mama nya mas Abhi sambil tersenyum kearahku.


Beneran ini kan gak salah lihat. Ternyata mama nya mas Abhi ramah banget. Bahkan mama nya mas Abhi muji aku cantik lho. Padahal mana ada orang muji aku cantik selama ini.


"Bukan perempuan cantik oma. Tapi ini bundanya Gendis" Sela Gendis yang otomatis membuat oma nya makin tersenyum.


"Benarkah sayang. Wah..oma senang banget kalau Gendis sudah mau punya bunda lagi. Kamu kok gak bilang-bilang sih Bhi"


"Ma...bukan ini itu...."


"Bundanya Gendis papa! " Potong Gendis cepat dan otomatis membuat mas Abhi terlihat frustasi.


Ha.. ha... aku gak tau maksud Gendis ngomong kayak gitu. Entah ketika memanggilku bunda itu dari dalam hatinya atau ada maksud lain yang jelas saat ini aku sedang menikmatinya. Toh.. kami tidak sedekat itu, hingga membuat gadis itu mau memanggilku bunda. Bahkan kami terkesan seperti musuh selama ini.


Gendis... Gendis... kamu itu kecil-kecil cabe rawit. Ada aja ide jahilnya. Ok aku jabanin.


Siapa takut ...


Kita bikin Vika ditendang jauh-jauh dari papa kamu.


*


*


*