
"Papa... sekarang kita jadi kan beli sepatu kacanya" Tanya Gendis saat kami semua sedang berada di perjalanan pulang.Mas Abhi yang sedang menyetir melirik sebentar ke arah Gendis yang duduk disampingnya.
Tampak mas Abhi menghembuskan nafasnya. Sepertinya keinginan Gendis tidak bisa diganggu gugat.
"Iya sayang kita beli sekarang"Gendis bersorak gembira sementara mas Abhi tampak tersenyum sambil membelai rambut putrinya.
Oh... my.. good...
Mas Abhi tersenyum lho bastie....
Meski aku duduk dibelakang tapi aku masih bisa melihatnya.Manis banget....
Sumpah demi apapun ini kejadian langka banget. Kalau aja aku punya handphone Android yang punya kamera super jahat. Aku pastiin akan mengabadiknnya. Sayangnya aku gak punya, gak apa-apa deh mas. Akan ku ingan senyum pertama yang ku lihat ini sepanjang hidupku. Udah aku paku di otak ku. Hi.. Hi...
Tak berapa lama kami telah sampai ditempat tujuan.
Ku pandangi gedung yang ada dihadapan ku. Tempat yang sama yang sudah ku datangi tadi dengan mbak Maya.
Alamak....
Aku sebenarnya suka, karena dengan begitu aku bisa berlama-lama dengan mas Abhi. Tapi sumpah... aku sudah lelah sekali dan ingin segera membaringkan tubuhku dikamar kos ku. Tadi aja udah capek banget masa iya sekarang aku harus kesana lagi.
"Aku nunggu dimobil aja ya mas" Ucapku kemudian.
Yang ku ajak bicara melirik kearahku.
"Gak mau... pokoknya bundanya Gendis harus ikut. Gimana nyocokin kaki nya kalau bundanya Gendis gak ikut. Nanti kalau kebesaran atau kekecilan siapa yang pakai" Potong Gendis cepat sebelum mas Abhi memberi jawaban.
Eh... maksudnya nyocokin kaki apa ya? Aku gak berniat beli sepatu lho Gendis...
Boro-boro beli sepatu yang super mahal disini? Yang dipasar diskon an aja aku mikir-mikir.
"Ngapain saya ikut? Kan yang beli sepatu Gendis? "
"Kita kan mau beli sepatu couple an bunda? Kayak teman-teman Gendis disekolah?Mereka suka pamer gitu punya barang couple an sama bundanya. Pokoknya bundanya Gendis harus ikut. Nanti papa yang beliin" Ucapnya lagi sambil menarik tangan ku.
Aku yang ditarik hanya menurut saja. Mau nolak takut Gendis menangis.
Lagian aku agak heran dengan sikapnya Gendis hari ini. Agak ngeri saat dia begitu perhatian sama aku. Mending kayak biasanya yang jutek-jutek dan ngeselin gitu. Dia gak lagi ngeprank aku kan? Masalahnya sekarang sedang ada papanya disekitar kami.
Benar dugaan ku.....
Ini sudah toko kesekian yang kami kunjungi. Tapi tetap saja belum ada yang cocok dihati gadis kecil itu.
Alasannya terlalu dibuat-buat. Ditoko pertama Gendis bilang gak suka karena gak ada hak nya. Ditoko kedua Gendis bilang hak nya terlalu tinggi. Ditoko ketiga Gendis bilang hak nya kerendahan.
Ya salam....
Sebenarnya nih anak niat beli sepatu atau apa sih. Padahal menurut ku ditoko dua dan tiga. Heel nya sama tingginya.
Udah kecium bau-bau jahilnya nih. Sepertinya Gendis tau jika aku hendak tidak ikut tadi karena kelelahan. Makanya dia sengaja ngajakin aku muter-muter di mall ini. Biar aku makin capek.
"Gendis sebenarnya mau sepatu yang kayak apa sih? Besok biar papa carikan saja.Emang Gendis gak capek apa dari tadi muter-muter. Ini tokonya juga udah pada mau tutup sayang. Kan udah malam" Ucap mas Abhi akhirnya.
Yes... makasih banget mas. Kamu pengertian banget kalau aku sedang kecapaian.
"Tapi kan muternya baru sebentar papa" Rengek Gendis.
"Gendis lihat deh sekeliling Gendis. Udah pada mau tutup kan tokonya"
Gendis mengedarkan pandangan nya ke sekelilingnya. Emang benar sih udah ada sebagian toko yang mulai tutup. Masalahnya ini udah malam.
"Ya sudah deh papa, Gendis mau sepatu yang ditoko pertama tadi"Ucapnya sambil meringis dan memperlihatkan deretan giginya.
Dinggggg..
Emang dasar bocah satu ini. Benar kan tebakanku tadi. Bahkan senyumannya tadi seakan mengejekku. Untung ada bapak lo, kalau enggak udah aku tabok. Gemessssss...
Kami akhirnya kembali ke toko yang pertama tadi. Ini tulang kaki kayaknya udah mau lepas sendiri-sendiri. Kalau disuruh milih, aku lebih baik bekerja seharian dari pada jalan-jalan tapi unfaedah seperti ini. Kalau kerja kan dapat duit. Sedangkan kalau jalan-jalan udah gak geblek duit capek lagi.
(gak gablek duit\=gak punya duit)
Gendis akhirnya memilih sepasang sepatu kaca tanpa heels. Gadis kecil yang menyebalkan itu pun ternyata menepati janjinya membelikan ku sepasang sepatu kaca yang persis dengannya. Sebenarnya aku udah nolak tapi Gendis terus memaksa.
Agak takut juga mas Abhi akan menganggapku cewek matre karena ini. Secara saat ini aku sudah memutuskan untuk nguber mas Abhi sampai dapat. Pasalnya sudah ada lampu hijau dari calon mertua dan aku akan berusaha lebih keras lagi setelah ini.
Setelah keinginan Gendis terpenuhi, i kami pun memutuskan pulang. Kali ini aku duduk didepan bersama dengan Gendis yang ku pangku. Gadis kecil itu memintaku duduk disana karena dia bilang mengantuk dan ingin ku pangku.
Baru beberapa menit mobil berjalan. Gendis sudah terlelap. Sepertinya dia benar-benar kelelahan atau....
Tiba-tiba kurasakan tanganku yang menyangga kepala Gendis terasa dingin. Kulirik sebentar kearah gadis itu.
Rupa-rupanya ini adalah tahap kedua dia mengerjai ku hari ini. Lihat saja wajahnya itu? Mana ada orang tidur mengedip-edipkan matanya seperti itu. Dan lagi yang lebih menyebalkan air liur nya sengaja diteteskan di tangan ku. Iyuh.....
Gendis... tunggu saja pembalasanku besok yah.Gak ingat apa tadi sudah aku tolong. Inikah balasan yang harus kuterima setelah menyelamatkan mu dari makhluk yang bernama Vika tadi.
Kalau gak ingat Gendis adalah anak yang bapaknya sedang aku taksir udah aku jorokin dia ke depan. Dasar gak ada akhlak. Bahkan dalam kepura-puraan nya saat ini Gendis sempat tersenyum mengejek.
"Kalau capek biar Gendis saya pindahin kebelakang" Tiba-tiba suara mas Abhi memecah kesunyian.
Bener banget tuh mas. Aku sedang capek sekali. Apalagi tubuh Gendis yang terasa berat dipangkuan ku.
Baru juga Mas Abhi meminggirkan mobilnya tapi Gendis sudah berulah kembali. Jelas saja..saat ini kan Gendis hanya pura-pura tidur. Saat mas Abhi mau mengangkat tubuh Gendis dari pangkuan ku. Gadis kecil itu semakin mempererat pelukannya padaku.
Suka banget kamu nak membuatku susah. Gimana nanti kalau benar aku jadi ibu tirimu..
Apa iya aku harus menderita seperti ini sepanjang hidupku.
Eh...
Tiba-tiba aku merasa merinding saat mendapati tubuh ku dan mas Abhi begitu dekat. Karena usaha laki-laki itu mengambil putri nya.
"Gak apa-apa mas biarkan saja. Seperti nya Gendis sudah merasa nyaman"Ucapku pura-pura. Padahal aslinya aku sudah merinding.
Ya salam....
Kalau dekat-dekat seperti ini terus bisa mati jantungan aku mas....
*
*
*